Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Jejak Kearifan di Balik Bulir Padi: Dari Air, Ani-Ani hingga Lumbung

Sastra | 2026-04-20 08:15:52

Ditulis Oleh : Juznia Andriani

"Di balik setiap bulir padi, tersimpan pengetahuan panjang tentang air, tanah, dan kesabaran manusia."

Gambar 1.Persawahan di daerah berbukit

Membaca ulang buku De Rijst membawa kita menyusuri jejak panjang budidaya padi di masa kolonial, khususnya di tanah Jawa. Pertanian bukan sekadar aktivitas produksi, melainkan perpaduan antara pengetahuan alam, kearifan lokal, dan kebiasaan turun-temurun yang dijaga dengan penuh kehati-hatian.

Pengairan

Di tulisan sebelumnya kita telah mengulas proses pemindahan bibit padi ke sawah. Selanjutnya, petani memasuki fase pemeliharaan, tahap krusial yang menentukan keberhasilan panen. Salah satu aspek terpenting adalah pengairan yang harus diberikan pada waktu yang tepat. Air tidak hanya berfungsi sebagai penopang kehidupan tanaman, tetapi juga sebagai pembawa unsur hara alami. Di Jawa, air irigasi dikenal kaya lumpur yang mengandung nutrisi penting seperti kalium. Untuk mengatur pasokan aliran air, petani menggunakan pipa bambu yang dipasang secara horizontal di galengan sawah, sebuah teknologi sederhana namun efektif. Pengairan dilakukan dengan cermat, mulai dari fase pertumbuhan hingga pembentukan anakan dan munculnya bulir padi. Setelah itu, sawah dibiarkan mengering sebagai bagian dari siklus alami tanaman.

Penyiangan

Selain air, petani juga melakukan penyiangan. Gulma menjadi musuh utama yang harus dikendalikan. Namun menariknya, tidak semua gulma diperlakukan sama. Petani memiliki pengetahuan khusus tentang jenis gulma berbahaya, seperti yang berakar rimpang atau berkayu. Pada awal pertumbuhan, gulma relatif sedikit karena tanaman padi ditanam rapat. Sekitar satu bulan setelah tanam, petani melakukan penyiangan sekaligus penyulaman, mengganti tanaman yang tidak tumbuh dengan bibit baru. Bibit tanaman yang tidak tumbuh dibuang dan diganti atau istilahnya disulam atau nyulam. Bibit diambil dari bibit tanaman yang tersisa di lahan atau bedeng persemaian.

Penyiangan dilakukan hingga tanaman berbunga, kecuali pada lahan rawa yang berlumpur karena berisiko merusak tanaman, membuat tanaman mudah rusak jika diinjak. Ketika hujan tidak turun dan tanah mengering, petani lebih memilih untuk tidak mencabut gulma yang tidak berbahaya untuk meminimalkan kerusakan pada akar tanaman padi. Di beberapa daerah di Jawa Timur, tanah dilonggarkan dengan garpu bambu selama musim kemarau.

Panen

Ketika bulir padi telah menguning, daun serta batangnya juga kehilangan warna hijaunya, waktu panen sudah dekat. Sawah kemudian benar-benar kering, sehingga mudah untuk berjalan di antara tanaman.

Ketika padi mulai matang, burung-burung berdatangan dalam jumlah yang besar untuk berpesta memakan biji-bijian padi. Untuk mengatasinya, petani di Jawa membangun gubuk penjaga dari bambu. Gubuk ini berfungsi sebagai penjaga sawah. Dari gubuk tali-tali, kain dan benda-benda lain yang diikatkan direntangkan ke berbagai arah di persawahan. Penjaga gubuk terus menerus menggerakkan tali-tali untuk menakut nakuti burung-burung, cara sederhana namun efektif untuk mengusir burung.

Di Jawa, panen padi menjadi domain perempuan. Dengan menggunakan alat tradisional bernama ani-ani, mereka memotong padi tangkai demi tangkai dengan penuh ketelitian. Tangkai padi dipotong dengan panjang 30 cm dan dipegang di tangan kiri. Ketika sudah penuh diikat menjadi bundel (pocong), lalu digabung menjadi ikatan besar (gedeng), beratnya sekitar 3 kilogran.

Gambar 2. Panen padi di daerah Sunda

Proses pascapanen juga sangat bergantung pada cuaca. Saat cerah, padi dijemur langsung di sawah, kemudian ditumbuk dan sesudahnya dibawa ke lumbung padi. Namun jika cuaca buruk, padi disimpan terlebih dahulu di tempat terlindung sebelum dijemur kembali.

Gambar 3. Pengeringan akhir padi di sawah

Gambar 4 . Pengangkutan padi ke lumbung

Menariknya, di Sumatera telah dikenal metode panen menggunakan sabit yang lebih cepat dan efisien. Pemerintah kolonial sempat mencoba memperkenalkan metode ini ke petani Jawa di daerah Kedu. Namun upaya tersebut tidak berhasil luas, karena petani Jawa yang konservatif cenderung mempertahankan tradisi lama yang telah mereka yakini selama bertahun-tahun dan tidak mudah dibujuk untuk meninggalkan tradisi.

Kesimpulan

Budidaya padi di masa kolonial, sebagaimana tergambar dalam De Rijst, menunjukkan bahwa pertanian bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan hasil dari interaksi panjang antara manusia dan lingkungannya. Petani Jawa mengandalkan kearifan lokal dalam mengelola air, mengendalikan gulma, hingga memanen padi dengan cara yang teliti dan penuh kesabaran. Pada akhirnya, setiap bulir padi bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga cerminan dari pengetahuan, tradisi, dan ketahanan petani dalam menghadapi perubahan zaman. (JA2026)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image