Perang AS-Iran Membuka Mata: Umat Islam Bersatu, Hegemoni Dunia Berakhir
Politik | 2026-04-17 09:51:35
Oleh Amelia Ayu Permatasari S S.Psi
Di tengah dominasi narasi global yang selama ini menempatkan Amerika Serikat dan sekutunya sebagai kekuatan tak tertandingi, konflik dengan Iran justru menghadirkan realitas yang berbeda. Dunia dipaksa menyaksikan bahwa hegemoni yang selama ini tampak kokoh ternyata tidak sepenuhnya kebal terhadap perlawanan. Dari satu negeri Muslim saja, muncul sinyal bahwa peta kekuatan global tidak sesederhana yang dibayangkan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa AS dan Israel tidak mampu dengan mudah menundukkan Iran. Meski tekanan militer, ekonomi, dan politik terus dilancarkan, Iran tetap berdiri dan berani mengambil posisi konfrontatif. Lebih dari itu, AS juga tidak mampu memaksa seluruh sekutunya untuk terlibat langsung dalam perang terbuka melawan Iran. Banyak negara memilih berhitung, menimbang risiko, dan bahkan menjaga jarak.
Namun, realitas lain yang tak kalah penting adalah adanya sebagian penguasa negeri Muslim yang justru bersekutu dengan AS. Alih-alih menjadi bagian dari kekuatan kolektif umat, mereka memilih berdiri di barisan kepentingan asing. Di sisi lain, Iran sendiri mengajukan sejumlah syarat dalam wacana gencatan senjata—yang menunjukkan bahwa posisi tawar tetap dimiliki, bahkan di hadapan kekuatan besar dunia.
Dari sini, tampak jelas bahwa AS dan Israel tidaklah sekuat yang selama ini dipersepsikan. Iran, dengan segala keterbatasannya, mampu menunjukkan keberanian untuk melawan tekanan global. Ini bukan semata soal kekuatan militer, tetapi juga tentang keteguhan sikap politik. Fakta ini sekaligus membongkar mitos lama bahwa negara adidaya tidak bisa ditantang.
Konflik ini juga menegaskan satu hal penting dalam politik global: tidak ada kawan atau lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan. Negara-negara yang hari ini terlihat bersekutu, bisa saja mengambil posisi berbeda ketika kepentingan mereka berubah. Sikap sejumlah negara yang enggan terseret langsung dalam konflik menjadi bukti nyata bahwa loyalitas dalam sistem internasional sangat rapuh.
Sayangnya, di tengah peluang besar yang terbuka, pengkhianatan sebagian penguasa Muslim justru menjadi faktor pelemah. Ketika umat membutuhkan persatuan, yang muncul justru fragmentasi dan keberpihakan kepada kekuatan asing. Padahal, jika negeri-negeri Muslim bersatu, potensi kekuatan yang dimiliki sangat besar—baik dari sisi sumber daya alam, jumlah penduduk, maupun posisi geopolitik yang strategis.
Di sinilah pelajaran terbesar dari konflik AS–Iran: potensi kesatuan dunia Islam bukan sekadar wacana, tetapi kekuatan riil yang dapat mengubah konstelasi global. Apa yang ditunjukkan Iran seharusnya menjadi pemantik kesadaran bahwa keberanian melawan hegemoni bukan hal mustahil.
Karena itu, membangun kesadaran umat tentang urgensi persatuan menjadi langkah mendesak. Umat Islam tidak boleh terus berada dalam kondisi tercerai-berai, sementara kekuatan eksternal dengan mudah memainkan peran di dalamnya. Persatuan bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan strategis.
Lebih jauh, kesatuan negeri-negeri Muslim membutuhkan sebuah ikatan politik yang kokoh dan menyatukan. Dalam perspektif Islam, hal itu terwujud dalam institusi Khilafah—sebuah kepemimpinan yang menyatukan umat dalam satu visi dan sistem. Dengan kekuatan kolektif yang terorganisir, dominasi negara-negara adidaya bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan.
Khilafah Islam bukan hanya akan menghentikan dominasi dan intervensi asing, tetapi juga berpotensi membebaskan negeri-negeri Muslim dari berbagai bentuk penjajahan modern. Di bawah kepemimpinan yang berlandaskan syariat, sumber daya umat akan dikelola untuk kepentingan umat, bukan diserahkan kepada kekuatan global.
Pada akhirnya, misi yang diemban tidak berhenti pada pembebasan internal. Dengan dakwah dan jihad sebagai metode, Islam membawa visi yang lebih luas: menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Dunia yang hari ini dipenuhi konflik, ketimpangan, dan penindasan, membutuhkan alternatif peradaban yang adil dan manusiawi.
Perang AS–Iran seharusnya tidak sekadar dibaca sebagai konflik geopolitik biasa. Ia adalah cermin yang membuka mata—bahwa hegemoni bisa ditantang, dan bahwa kunci perubahan besar itu ada pada satu hal yang selama ini terabaikan: persatuan umat Islam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
