Orang Takut Razia, Tapi tak Takut Allah? Ini Penyebab Solusinya
Politik | 2026-04-15 21:13:27
Satpol PP Kota Bengkulu mengamankan sejumlah pelajar perempuan yang kedapatan nongkrong dan merokok di sebuah warung saat jam pelajaran. Mereka mengenakan tutup kepala dan bergaya seperti pria. Saat diperiksa, petugas menemukan jilbab tersimpan rapi di dalam tas. Kepala Satpol PP Sahat M. Situmorang menjelaskan, para siswi ini berangkat dari rumah dengan penampilan perempuan biasa, lalu berganti dandanan agar bisa bolos bersama pelajar laki-laki tanpa menimbulkan kecurigaan masyarakat sekitar (Kompas.com, 13 Maret 2026).
Kasus serupa terjadi di Samarinda pada 20 Januari 2026. Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun menyamar sebagai perempuan untuk menyusup ke mess karyawan sebuah gerai Alfamart di Jalan AW Syahranie. Ia diduga mencuri dompet kepala toko berisi uang tunai dan kartu penting, dengan motif terdesak kebutuhan ekonomi dan tidak memiliki ongkos pulang ke Tenggarong.
Razia yang Kontraproduktif dan Krisis Identitas
Fenomena razia kedisiplinan oleh aparat pemerintah daerah dan sekolah, tanpa diimbangi penanaman nilai aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (kepribadian) Islam, pada dasarnya percuma. Razia hanya menangkap gejala di permukaan, sementara jiwa dan pola pikir generasi muda tetap tidak tersentuh. Akibatnya, bukan disiplin sejati yang terbentuk, melainkan hipokrasi generasi yakni taat di depan pengawasan, tetapi liar dan kreatif melanggar di baliknya.
Kasus tasyabbuh (menyerupai lawan jenis) yang dilakukan siswi Bengkulu merupakan cerminan paling jelas dari ketidakpahaman terhadap syariat Islam mengenai larangan menyerupai lawan jenis. Perilaku ini bukan sekadar pelanggaran pakaian, melainkan gejala krisis identitas yang lebih dalam. Remaja laki-laki Samarinda yang menggunakan trik serupa untuk kejahatan menunjukkan pola yang sama yakni aturan boleh dilanggar selama tidak ketahuan. Krisis ini semakin parah karena pengaruh paham sekuler liberal yang mengaburkan batasan identitas laki-laki dan perempuan.
Dalam sistem tersebut, kebebasan individu dijadikan nilai utama kehidupan. Pelajar didorong merasa berhak menentukan apa pun yang diinginkan selama dianggap “tidak merugikan orang lain”. Konsep kebebasan tanpa batas ini akhirnya melahirkan perilaku menantang aturan, mulai dari membolos, merokok, hingga tasyabbuh yang merusak fitrah.
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah menegaskan bahwa kepribadian manusia terdiri dari aqliyah dan nafsiyah. Tanpa keterikatan keduanya dengan aqidah Islam sebagai pondasi, individu akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar. Sekuler liberal justru memisahkan agama dari kehidupan, sehingga standar benar-salah menjadi relatif. Razia yang hanya bersifat represif sementara, tanpa membangun kesadaran internal, jelas jauh panggang dari api ia hanya meredam gejala, bukan menyembuhkan penyakit.
Solusi Hakiki: Pembentukan Syakhsiyah Islamiyah
Dalam Islam, membina generasi bukan sekadar tugas sekolah atau aparat, melainkan kewajiban bersama keluarga, masyarakat, dan negara. Islam menanamkan aqidah sebagai pondasi utama dalam berpikir dan bersikap. Lebih dari itu, pendidikan Islam harus membentuk syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) secara utuh. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi harus membangun pola pikir dan sikap yang selaras dengan syariat. Pelajar harus dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu (haya’), tanggung jawab moral, dan kehormatan diri.
Islam menetapkan aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan sebagai penjagaan kehormatan dan identitas masing-masing. Larangan tasyabbuh bukan aturan simbolik semata, melainkan bagian integral dari penjagaan fitrah manusia yang Allah ciptakan. Aturan in akan ditetapkan oleh negar. Negara akan berperan aktif menjaga moral generasi, bukan hanya mengurus aspek administratif pendidikan atau razia tambal sulam. Negara harus memastikan kurikulum, lingkungan sosial, dan media mendukung terbentuknya generasi bersyakhsiyah Islamiyah.
Aqidah Isslam sebagai pusat segala proses pembentukan pola aqliyah dan nafsiyah. Masyarakat pun akan terbentuk menjadi masyarakat islami. Akan hadir dan tumbuh dalam semangat amar makruf nahi mungkar, saling menjaga dalam kebaikan dan mencegah kemaksiatan. Dengan sinergi ketiga pilar ini secara konsisten dan berbasis Islam, generasi muda akan memiliki benteng iman yang kokoh terhadap berbagai pengaruh negatif, termasuk sekuler liberal dan budaya pop yang merusak.Tanpa penanaman nilai aqliyah dan nafsiyah Islam yang kuat dan berkelanjutan, razia kedisiplinan siswa akan terus berulang tanpa hasil berarti hanya melahirkan generasi yang semakin pandai menyembunyikan wajah aslinya. Pembinaan generasi yang hakiki sesuai ajaran Islam adalah pilihan keimanan yang hadir sebagai solusi, bukan sekadar solusi tambal sulam yang hanya meredam gejala sesaat. Wallahu a’lam bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
