Sayyid Qutb dan Revolusi Iran 1979
Politik | 2026-06-04 16:23:27
Revolusi Iran tahun 1979 menurut Foucault, tidak mengikuti hukum pakem revolusi khas Eropa yang memiliki karakteristik sekuler, revolusi Iran justru istimewa, karena tidak bisa ditemukan di tempat lain, pemisahan agama dan politik tidak terjadi di Iran, yang nampak justru parade syahadah kaum muda revolusioner dalam melawan alat-alat represif negara (Kusman, 2026).
Foucault menyebut fenomena ini sebagai spiritualitas politik, bahwa keyakinan agama dapat menjadi kekuatan progresif revolusioner untuk mengubah tatanan kekuasaan, membebaskan rakyat dari penindasan dan kekejaman politik penguasa.
Keistimewaan Revolusi Iran 1979, juga diapresiasi Fred Halliday seorang penulis Marxis terkenal, mengatakan bahwa kaum Marxis di seluruh dunia merasa iri dengan Revolusi Iran 1979, dikarenakan aksi perlawanan itu mampu menarik jutaan rakyat Iran turun ke jalan menumbangkan rezim Shah, padahal model revolusi itu yang didambakan kelompok Marxis. Karena hampir semua revolusi Marxis bersifat letupan kecil, keterlibatan massa tidak begitu massif, kalah jauh bila dibandingkan dengan partisipan aksi massa di Iran (Rais, 1996).
Revolusi Iran 1979 sangat identik dengan label Islam Syiah, karena memang tidak bisa dipungkiri, pemahaman keagamaan Islam Syiah dan keterlibatan kaum agamawan menjadi faktor sangat dominan dalam menggerakkan obor api perlawanan. Tetapi bukan berarti faktor lain tidak memiliki kontribusi apapun terhadap Revolusi Iran.
Kehadiran kelompok kiri dan nasionalis di dalam Revolusi Iran 1979 memiliki sumbangsih, kelompok kiri yang diwakili Tudeh Party dan Mujahedin-e Khalq, peran mengorganisir berbagai pemogokan dan demonstrasi kelas pekerja, kemudian kalangan nasionalis dari Front Nasional (Jebhe-ye Melli), didirikan oleh Mohammad Mossadegh (Perdana Menteri Iran, dikudeta CIA pada 1953) berhasil menggerakkan kelas menengah perkotaan, teknokrat, pengacara, dan mahasiswa ke jalan-jalan di Kota Teheran (Muhammad, 2026).
Bahkan di dalam studi Muhammad (2026) dan Prasetyo (2004), pemikiran Islam dari kelompok Islam Sunni, Sayyid Qutb, ideolog Ikhwanul Muslimin, juga memberikan pengaruh pada revolusi di Iran.
Biografi Sayyid Qutb
Sayyid Qutb dilahirkan pada tahun 1906, di Dea Qaha, Provinsi Asyut, Mesir. Berasal dari keluarga sangat sederhana. Pendidikannya diselesaikan di Kairo, sekolah menengah atas dan Darul Ulum (Universitas Kairo), selepas tamat di bangku kuliah, Qutb sempat menjabat sebagai Inspektur Menteri Pendidikan (Yono, 2017)
Pada tahun 1948, Sayyid Qutb berangkat ke Amerika Serikat, menghabiskan dua setengah tahun, dalam misi pendidikan dari Kementerian Pendidikan Mesir. Di negara pusat kapitalisme global itu, Qutb mengalami titik balik, ketika di San Francisco dia menyaksikan selebrasi dari media Barat, ketika Hasan al-Banna terbunuh, pendiri sekaligus pemimpin pertama (Mursyid Am) Ikhwanul Muslimin, pada Februari 1949.
Peristiwa itu membuat Qutb kritis pada materialisme dan budaya Barat, yang kemudian hari banyak memengaruhi pemikiran politik dan keagamaannya. Sekembalinya dari negara Paman Sam, Qutb memutuskan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, tidak lama kemudian Sayyid Qutb, menjadi tokoh penting dari pergerakan itu, bahkan dapat dikatakan ideolog revolusioner Ikhwanul Muslimin.
Melalui banyak tulisannya Sayyid Qutb kerap mengkritik pemerintahan Mesir, yang di nilai otoriter totaliter, sikap kritis itu membuat Qutb sering keluar masuk penjara, puncaknya dia dihukum mati oleh pemerintah Mesir, dieksekusi pada 29 Agustus 1966, atas tuduhan terlibat dalam konspirasi melawan negara.
Selama hidupnya Sayyid Qutb banyak menghasilkan karya berupa artikel dan buku, terdapat tiga karya penting dari Qutb, yaitu Fi Zilal al-Qur'an (Di Bawah Naungan Al-Qur'an), tafsir Al-Qur'an yang sangat berpengaruh di dunia Islam sampai saat ini. Kemudian buku berjudul Ma'alim fi al-Tariq (Petunjuk Jalan), pemikiran Islam politik sangat terkenal. Dan, buku Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah fi al-Islam, mengupas konsep keadilan sosial menurut Islam.
Pemikiran Sayyid Qutb
Pemikiran Sayyid Qutb banyak mengkritik sistem kapitalisme dan komunisme. Kapitalisme menurutnya hanya menghasilkan penderitaan dan ketergantungan.
Penderitaan bagi kelompok miskin atas penindasan kelas kapitalis, serta ketergantungan negara berkembang pada negara kaya, sedangkan komunisme bagi Qutb suatu gagasan yang tidak layak dihormati, karena pada akhirnya sistem komunisme membawa kesengsaraan dari pada pembebasan (Prasetyo, 2004).
Menurut Sayyid Qutb sistem kapitalis yang memusatkan perhatian pada materialisme akan menemui kematian, begitu juga komunisme, mengalami akhir, disebabkan komunisme itu sistem tanpa memiliki jiwa, cita-cita, dan misi kemanusiaan (Yono, 2017). Bagi Qutb krisis di dunia Islam disebabkan oleh belenggu penjajahan dari dunia Barat, sebuah sistem telah mengalienasi manusia untuk menjauh dari prinsip-prinsip Islam (Prasetyo, 2004).
Bagi Sayyid Qutb prinsip-prinsip fundamental Islam itu bersifat revolusioner, melawan pendewaan manusia dan melawan ketidakadilan. Maka dari itu bagi Qutb, Islam harus memegang otoritas kekuasaan (Prasetyo, 2004). Islam menurut Qutb memiliki tujuan mengubah ketidakadilan menjadi keadilan dalam semua dimensi kehidupan umat manusia, di mulai langkah awal melakukan perlawanan atas dominasi kekuasaan politik tiran, dia meyakini kepemimpinan dunia akan kembali ke tangan Islam (Yono, 2017).
Kemudian Qutb menjelaskan Islam merupakan ajaran sempurna, benar dan lurus, paling agung dari manhaj apapun (isme-isme lain), Islam sesuai dengan fitrah manusia, serta memiliki cara mengubah kenyataan jahiliah. Islam menghendaki adanya perubahan sistem sosial, politik, dan ekonomi. Dengan terlebih dahulu menumbangkan sistem jahiliah, kemudian meletakan sistem rabbani sebagai antitesisnya (Yakan, 2002).
Sayyid Qutb menolak pemisahan antara agama dengan politik, menurut dia Islam merupakan sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Karena itu dia mengkritik peradaban Barat, Qutb menawarkan Islam sebagai peradaban yang mampu menyeimbangkan kebutuhan material dan spiritual manusia (Qutb, 2001). Kesengsaraan umat manusia dampak dari dicampakkan Islam, dia mengajak kepada umat Islam untuk kembali pada ajaran agama mereka (Bahnasawi, 2003).
Bagi Qutb ajaran Islam itu, bukan hanya seruan keagamaan, tetapi mendorong adanya perubahan sosial. Melakukan perlawanan pada sistem politik yang memperbudak manusia dengan tujuan mengakhiri dominasi sistem atau isme tidak manusiawi. Setiap orang harus menikmati status dan posisi yang setara di dalam masyarakat (Chirzin, 2001).
Sayyid Qutb juga menjelaskan, bahwa masyarakat jahiliyah itu, tidak hanya merujuk pada periode sejarah saja, yaitu pada model masyarakat Arab sebelum hadirnya Islam.
Tetapi mencakup juga masyarakat kontemporer, dia sebut dengan istilah “jahiliyah modern”, yang tidak menjadikan Islam sebagai petunjuk dan pedoman hidup, sehingga terjadi penindasan politik. Inti pemikiran Sayyid Qutb tentang “jahiliyah modern” adalah kehidupan manusia yang berpusat pada kepentingan materi, kekayaan, dan kenikmatan duniawi, akan melahirkan eksploitasi ekonomi dan kesenjangan sosial, dia menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam kehidupan individu dan masyarakat (Qutb, 2001).
Revolusi Iran 1979
Salah satu tokoh Revolusi Iran terpengaruh pemikiran Sayyid Qutb adalah Ali Khamenei kelak menjadi presiden Iran dan menjabat pemimpin tertinggi Republik Islam Iran (Rahbar). Ketika masih muda Khamenei menerjemahkan karya Sayyid Qutb ke dalam bahasa Parsi, ketika itu Iran di bawah kekuasaan Reza Pahlavi, yang terobsesi melakukan modernisasi ala Barat.
Terdapat kebijakan modernisasi yang mengancam nilai-nilai tradisi bangsa Iran, seperti dihapuskannya hukum syariah, selama berabad-abad menjadi bagian hukum Iran, digantikan kode sipil sekuler diadaptasi dari Prancis. Kemudian mendirikan sekolah-sekolah negeri modern di seluruh Iran, dengan dihapuskannya pendidikan tradisional madrasah. Serta mewajibkan laki-laki mengenakan topi ala barat dan melarang jubah tradisional, juga melarang perempuan mengenakan kerudung di tempat umum (Zuhairi, 2026).
Selain itu Iran di bawah kekuasaan Shah Reza Pahlavi, menjadi bentuk nyata dari aksi terorisme negara pada rakyatnya, rezim ini mendirikan SAVAK (Sazeman-e Ettela'at va Amniyat-e Keshvar atau Organisasi Keamanan dan Intelijen Nasional), sebuah badan intelijen khusus Iran yang mendapat dukungan penuh dari CIA (Amerika Serikat) dan Mossad (Israel).
SAVAK menjadi alat represif negara untuk melakukan penangkapan dan penahanan ribuan anggota kelompok oposisi, penyiksaan terhadap tahanan politik, secara sistematis membungkam gerakan oposisi anti Shah (Testriono dan Munharif, 2016). Bahkan SAVAK memiliki beberapa lokasi tempat penyiksaan di negara Iran. Tidak saja menangkap dan menginterogasi kelompok anti Shah, aksi pembunuhan atau eksekusi terhadap lawan politik juga dilakukan oleh SAVAK (Tamara, 2026).
Bahasa perlawanan yang menjawab kegelisahan itu, Khamenei temukan di dalam tulisan Sayyid Qutb. Dengan menerjemahkan karya Qutb, bagi Khamenei bukan sekadar tugas linguistik, tetapi tindakan politik dan perlawanan. Melalui proyek menerjemahkan itu, Ali Khamenei ingin menyampaikan kepada para pemuda Iran, bahwa Islam merupakan sistem kehidupan, bukan sekedar urusan privat ibadah (Muhammad, 2026).
Karya Sayyid Qutb yang bernuansa perlawanan itu, banyak menarik simpati kaum muda Iran, yang sebelumnya terpesona pada ideologi kiri untuk melawan Rezim Shah (Muhammad, 2026). Hal ini sama dengan pengaruh pemikiran Ali Syari’ati, intelektual Iran dan ideolog Revolusi Iran, yang berhasil mengembalikan keimanan revolusi anak muda Iran dari ideologi Marxisme pada Islam.
Dampak dari penerjemahan buku Sayyid Qutb ke dalam bahasa Parsi, menyebabkan gagasan Qutb tersebar luas di kalangan mahasiswa dan ulama muda menjelang Revolusi Iran 1979, banyak aktivis revolusioner menilai pemerintahan Shah, merupakan bagian dari model yang disebutkan Qutb dalam pemikirannya sebagai bentuk "jahiliyah modern".
Bagi Ali Khamenei pemikiran Sayyid Qutb ini, memberikan argumentasi filosofis mengapa sistem sekuler (Rezim Shah) harus ditolak, karena sistem itu bentuk penghambaan kepada manusia.
Pasca Revolusi Iran 1979, Ali Khamenei menyerap konsep perlawanan dari istilah “jahiliyah modern”, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran dibanyak pidatonya kerap kali menggambarkan Barat, bukan puncak dari kemajuan peradaban, tetapi pusat “jahiliyah modern”, karena peradabannya mempromosikan prinsip materialisme, dekadensi moral, hegemoni politik, dan dukungan pada rezim zionis (Muhammad, 2026).
Ali Khamenei menerjemahkan pemikiran Sayyid Qutb ke dalam beberapa kebijakan, seperti membangun poros perlawanan anti zionis Israel (Lebanon, Palestina, dan Yaman), sebagai kewajiban ideologis memerdekakan suatu bangsa dari penindasan bangsa lain, dengan mendukung kemerdekaan bangsa Palestina lepas dari penjajahan. Kemudian menjadikan Iran sebagai negara mandiri, tidak bergantung pada negara adi kuasa (super power), berani menerapkan doktrin memutus hubungan dengan “jahiliyah modern”, tidak tunduk pada bentuk penghambaan aturan Barat, dengan konsekuensi Iran memilih hidup di bawah sanksi berat (Muhammad, 2026).
Meskipun terdapat jejak pemikiran Sayyid Qutb mewarnai Revolusi Iran 1979, pengaruhnya bersifat tidak langsung atau tidak dominan. Revolusi Iran 1979 pada dasarnya dipimpin Ruhollah Khomeini dan berakar kuat pada tradisi Islam Syiah.
Penutup
Pemikiran Sayyid Qutb berperan sebagai jembatan intelektual antara Sunni dan Syiah menjelang Revolusi Iran 1979. Meskipun terdapat perbedaan teologis, pemikiran Qutb membantu membangun titik temu antara gerakan Islam Sunni dan Syiah dalam perjuangan melawan sekularisme, zionisme, otoritarianisme, dan dominasi Barat.
Referensi
1. Bahnasawi, K. Salim. 2003. Butir-Butir Pemikiran Sayyid Quthb. (Jakarta, Gema Insani Press).
2. Chirzin, Muhammad. 2001. Jihad Menurut Sayid Qutub dalam Tafsir Zhilal (Solo, Era Intermedia).
3. Kusman, Airlangga Pribadi. 2026. Membaca Kembali Revolusi Iran Setelah 47 Tahun Revolusi. Dalam Tamara, Nasir. 2026. Revolusi Iran Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan AS. (Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia).
4. Muhammad, Ren. 2026. Ayatollah Ali Khamenei Dari Haribaan Hingga Keabadian. (Bandung, Imania).
5. Prasetyo, Eko. 2004. Islam Kiri Jalan Menuju Revolusi Sosial (Yogyakarta, Insist Press).
6. Rais, Amien. 1996, Kata Pengantar dalam Shariati, Ali. 1996, Tugas Cendekiawan Muslim. (Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada).
7. Tamara, Nasir. 2026. Revolusi Iran Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan AS. (Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia).
8. Testriono dan Munharif, Ali. 2016. Terorisme dan Negara. dalam Jahroni, Jajang dan Makruf, Jamhari (editor). 2016. Memahami Terorisme : Sejarah, Konsep, dan Model (Jakarta, Prenada Media).
9. Yakan, Fathi. 2002. Revolusi Hasan al-Banna : Gerakan Ikhwanul Muslimin Dari Sayid Quthb Sampai Rasyid al-Ghannusyi (Bandung, Penerbit Harakah).
10. Yono. 2017. Pemikiran Arab : Dinamika Intelektual, Ideologi, dan Pergerakan (Yogyakarta, Sociality).
11. Qutb, Sayyid. 2001. Petunjuk Jalan (Jakarta, Gema Insani Press).
12. Zuhairi, Subhan. 2026. Revolusi Iran Dari Monarki Syah ke Republik Islam Transformasi di Jantung Persia yang Mengubah Tatanan Politik Dunia. (Yogyakarta, Khazanah Pedia).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
