Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image HALO MUSAFIR

Kenapa Kita di Jalan Ini

Agama | 2026-04-16 22:29:48
Ilustrasi

Penggunaan kata dasar sabil (س-ب-ل) dalam Al-Qur'an memiliki frekuensi yang cukup tinggi. Secara keseluruhan, akar katanya muncul sebanyak 176 kali. Rinciannya, kata sabil dalam bentuk tunggal (mufrad) terulang sebanyak 166 kali, dan dalam bentuk jamak (subul) terulang 10 kali.

Kata sabil yang berarti " jalan, laluan, atau metode yang ditempuh" secara spirit atau materiil, tidak semakna dengan thariq dan syari' atau bahkan shirath, yang lebih khas.

Maka " jalan" yang kita maksud dalam konteks judul di atas adalah jalan dalam pendekatan "sabil".

"Jalan" ini yang kita maksud adalah jalan yang pernah diikuti oleh orang orang terbaik sebelum kita. Jalan penempuh risalah kenabian, para syuhada dan shalihin. Sebagaimana termaktub dalam Alfatihah ayat 7.

Jalan dan agama (din: ikatan)

Jalan ini kemudian merangkum dalam satu ikatan "din" sebagai agama. Semacam ikatan prinsipil yang menyeluruh dan lengkap sehingga ideal menjadi acuan sepanjang zaman, ialah Islam. Sebagaimana disebut dalam Albaqarah 208, dan Ali Imran 19, dengan kekhasan Islam yang lengkap dan utuh.

Sebutan islam sendiri bukanlah sebutan yang dibuat oleh sipembawa dan pemeluknya. Islam adalah sebutan yang datang dari si Pemilik Utama Jalan Ini.

Para pemikir berpesan, klaim tentang kebenaran satu agama setidaknya diuji dengan seberapa besar keotentikan firman ilahi dalam kitab suci mereka. Semakin tinggi otentitasnya maka semakin dekat pada kebenaran, itulah Islam dengan keaslian ajaran berdasarkan Alquran dan sejalan dengan fitrah manusia dan kompleksitasnya.

Pentingnya ittiba' dan Kesatuan Islam

Dalam praktik pengamalan ajaran islam yang utuh ini kita mesti "ittiba' " , mengikuti sumber asli" yang relevan dengan kaidah ilmu. Yaitu dengan perhatian khusus pada kesatuan islam (jamaatul islam/muslimin) sebagaimana dipraktikkan di era sahabat yang empat, ummayyah dan Abbasiyah hingga ke turki utsmani.

Adanya intrik-intrik (ikhtilaf) tidak menghilangkan visi besar Islam sebagai rahmatan lilalamin hingga dirasakan capaiannya ke eropa dan dunia modern sekarang.

Keseriusan kita akan ittiba" ini termaktub dalam surah Attaubah ayat 100. Bahwa Allah swt akan meridhai siapapun yang mengikuti jalan ini secara "ihsan", penuh kehati hatian dan maksimal (utuh), atau mengikuti sesuai sunnah.

Kemudian sebagai ikhtisar penting dari upaya tetap konsisten di jalan ini, (jalan komunitas muslimin yang disiplin dan visioner), adalah dengan mengambil petikan dari surah Luqman ayat 15.

Yaitu kita mengikuti jalan orang orang yang menempuh (dakwah) kepadaNya dengan keridhaan, keikhlasan dan perjuangan (gerakan)/perbaikan masyarakat (ishlahul ummah). Hingga Allah swt sendiri yang akan Menampakkan hasilnya dari apa yang kita usahakan.

Dokpri.2026

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image