Gonjang-ganjing BBM di Tengah Gejolak Global
Agama | 2026-04-14 04:50:05
Gejolak Timur Tengah yang masih terus berlangsung hingga hari ini, telah membuat sumber pasokan energi dunia terguncang. Meski BBM bersubsidi tidak naik, tetapi BBM nonsubsidi naik. Kepanikan pun sempat terjadi di beberapa tempat. Masyarakat harus antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM, atau membeli secara eceran dengan harga tinggi. Hal tersebut makin diperparah dengan tertahan Kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz, akibat perang Iran.
Di sisi lain, kebijakan APBN untuk menambal subsidi BBM karena harga minyak global naik, diprediksi tidak akan mampu bertahan lama. Hal tersebut disampaikan oleh sejumlah ekonom nasional. Mereka menilai kemampuan fiskal negara, hanya bisa menahan kenaikan harga BBM dalam jangka pendek. Fluktasi harga minyak dunia di kisaran US$100/barel, hanya dapat ditahan oleh negara dalam beberapa minggu ke depan.
Hingga pemerintah melakukan strategi penghematan energi nasional yang dimulai pada 1 April 2026. Srategi penghematan tersebut antara lain seperti WFH, pembatasan pembelian BBM, pembatasan penggunaan kendaraan dinas, pemangkasan perjalanan dinas, pengurangan jumlah hari untuk MBG, dan lain-lain.
Mempertahankan Harga untuk Menahan Gejolak
Kondisi tak menentu pasokan sumber energi akibat perang Iran, sesungguhnya melahirkan sebuah dilema bagi pemerintah. Jika harga BBM dinaikkan, inflasi akan meningkat dan terjadi gejolak sosial. Belum naik saja, antrean sudah terjadi di beberapa tempat. Jika tidak dinaikkan, defisit APBN akan makin besar. Maka kebijakan menahan harga BM, sejatinya jurus politik menahan gejola social semata.
Kondisi ini dibenarkan oleh analis senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, yang mengatakan bahwa kemampuan menahan harga BBM sangat terbatas. Hal itu karena sangat bergantung pada tiga hal: harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan ruang fiskal. Jika harga minyak global tetap tinggi, maka "biaya menunda" ini akan semakin mahal. Padahal beban APBN yang membackup harga minyak mentah hanya di angka US$70/barel.
Yang lebih mengkhawatirkan, Indonesia hingga kini masih di posisi net importir minyak sehingga. Ketahanan energinyatentu sangat tergantung pada pasokan BBM dari luar negeri. Data menunjukkan bahwa kebutuhan minyak nasional berada di kisaran 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600–700 ribu barel per hari. Artinya lebih dari 50% kebutuhan dalam negeri harus dipenuhi melalui impor.
Di sisi lain, kondisi gonjang-ganjing minyak berdampak menyulitkan masyarakat. Baik untuk mendapatkan BBM maupun menjangkau harga BBM jika ada kenaikan harga. Managing Director Political Economic and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, bahkan mempunyai prediksi pemulihan pasokan minyak mentah di Timur Tengah bakal memutuhkan waktu lama, sekalipun perang berakhir. Hal ini lantaran pemulihan fasilitas produksi minyak mentah di Timur Tengah bakal terganjal hingga suplai internasional diprediksi akan sulit hingga berbulan-bulan. Inilah gambaran negeri yang tergantung pada impor komoditas strategis (BBM). Ekonomi dan politiknya kerap terguncang ketika ada sentimen global.
Mewujudkan Kemandirian Energi Dalam Penyatuan Wilayah
Gonjang-ganjing kenaikan harga BBM akibat gejolak global sejatinya akan mampu dihindari manakala sebuah negara mempunyai kemandirian energi. Jikapun sumber daya alam yang dimiliki kurang untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri salah satu wilayah muslim, maka opsi penggabungan wilayah menjadi sebuah alternatif rasional.
Kondisi sekat bangsa pada negeri-negeri muslim, menjadikan kekayaan bumi yang melimpah di berbagai wilayah Islam menjadi tak bisa dengan mudah digunakan untuk kesejahteraan umat Islam di dunia. Padahal sejatinya umat Islam laksana satu tubuh, setiap kebutuhan umat Islam seharusnya bisa diselesaikan dengan penyatuan wilayah dan penyatuan pengelolaan sumer daya alam.
Bisa dibayangkan, jika seluruh negeri muslim bersatu, maka kebutuhan sebuah wilayah akan bisa disupport oleh wilayah muslim yang lain. Syaratnya, penyatuan wilayah negeri muslim dalam pengaturan seorang pemimpin saja. Kemandirian BBM hanya akan terwujud ketika Indonesia tergabung dalam sebuah bentuk pemerintahn yang dicontohkan Nabi Saw. di Madinah dan khulafaur rasyidin.
Penyatuan wilayah di dunia dalam satu kepemimpinan Bernama Khilafah ini, bahkan pernah tegak lebih dari 13 abad sejak masa kenabian. Dengan khilafah, minyak yang melimpah di wilayah Arab, termasuk Iran, akan didistribusikan untuk seluruh negeri di wilayahnya. Maka kemandirian BBM ini akan menjaikan Khilafah akan menjadi negara independen, bahkan adidaya, sehingga politik dan ekonominya tidak mudah terguncang akibat gejolak global.
Meskipun memiliki kemandirian BBM, Khilafah tetap harus menggunakan BBM dengan bertanggung jawab sesuai kebutuhan berdasarkan syariat. Penghematan dilakukan pada hal-hal yang perlu dihemat, tetapi bukan pada pelayanan publik atau kewajiban seperti jihad. Khilafah juga juga akan mengembangkan sumber energi selain minyak, seperti nuklir dan sumber energi lainnya. Sehingga menjamin pemenuhan kebutuhan energi untuk kebutuhan rakyat dan kebutuhan sebagai negara adidaya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
