Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

Selalu Ada Uti di Sisiku

Sastra | 2026-04-13 18:50:52

MALAM itu, hujan gerimis menyapu atap rumah kami yang sudah reyot di pinggir Sungai Musi. Air sungai yang biasanya tenang kini berbisik pelan, seolah ikut merenung bersama angin malam yang dingin menusuk tulang.

Kebahagiaan satu keluarga utuh. (Sumber: GrokAI)

Aku berbaring di sisi Uti, bahu kami bersentuhan seperti dua batang pohon karet tua yang saling menopang akarnya sejak tiga puluh lima tahun lalu. Ya, 35 tahun lalu kami mengikrarkan diri menjadi satu. Tepatnya 28 April 1991. Lampu tidur kecil berwarna kuning redup menyinari wajahnya dari samping, menciptakan bayangan panjang di dinding yang penuh coretan anak-cucu kami dulu.

Dulu, wajah itu adalah segalanya bagiku. Uti, nama lengkapnya Murti, tapi aku selalu memanggilnya Uti sejak pertama kali kami bertemu di terminal Ampera di tahun 1985. Pipinya kencang seperti buah manggis segar, bibirnya selalu tersenyum tipis meski sedang lelah berdagang pempek, dan matanya... Ah, matanya itu yang membuatku lupa segala amarah dunia. Mata hitam pekat yang bisa menenangkan badai di hatiku hanya dengan satu tatapan.

AKU ingat betul hari kami menikah di masjid kecil dekat rumah orang tuanya. Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna krem, rambutnya disanggul dengan melati. "Kamu cantik sekali," bisikku saat kami duduk bersanding. Ia hanya tertunduk malu, tapi senyumnya bilang segalanya.

Kini, di usianya yang keenam puluh tiga, kecantikan itu sudah memudar seperti cat dinding rumah kami yang terkelupas karena banjir sungai berulang kali. Kerutan halus mengalir di dahi seperti garis-garis sungai kecil yang mengingatkan pada musim kemarau panjang. Pipinya yang dulu montok kini agak kendur, lehernya dihiasi lipatan-lipatan tipis, dan kelopak matanya yang dulu tegas kini sedikit turun, seolah lelah menahan beban dunia sendirian. Tapi anehnya, justru kerutan-kerutan itulah yang membuatku tak bisa berpaling malam ini. Mereka bukan lagi tanda penuaan biasa. Mereka adalah peta perjalanan kami. Peta yang penuh liku, banjir, dan keajaiban bertahan.

TIGA anak kami sudah besar-besar. Pertama, Nisa, lahir tahun 1992, kini berusia 34 tahun, bekerja sebagai dokter neurologi di rumah sakit pemerintah di kota kami. Nisa dan Refa memberi kami satu cucu laki-laki, bernama Nadhif, berusia 7 tahun bulai Mei nanti. Kedua, Naufal, lahir 1995, kerja di satu BUMN, sudah menikah dengan Puput yang kini sedang hamil, dan punya satu anak perempuan, diberi nama Nafisah. Mereka tinggal di Salatiga, kota kecil yang aku dan istri sangat menyukainya. Ketiga, Nafila, menjadi PNS di satu Kementerian, si bungsu lahir 1997, menikah dengan Amana, dan memberi kami cucu laki-laki bernama Nolan, dan berusia 1 tahun 7 bulan.

Kehangatan satu keluarga. (Sumber: Pencil Sketch)

Tiga cucu kami. Tiga bocah kecil yang setiap Lebaran berlarian di halaman rumah ini, memanggil "Anang! Ine!" sambil menarik-narik baju koko lusuhku atau kebaya Uti yang sudah pudar warnanya. Uti selalu tertawa saat itu, suaranya masih sama seperti dulu, pelan, tapi hangat seperti teh manis panas di pagi hari. Ia akan memeluk mereka satu per satu, mencium kening mereka, dan bilang, "Ine sayang kalian semua."

Aku? Aku hanya bisa tersenyum kaku, karena di balik senyum itu ada gunung penyesalan yang tak pernah kukatakan keras-keras. Malam ini, saat hujan semakin reda, aku tak bisa berbohong lagi pada diriku sendiri.

AKU mengulurkan tangan pelan, menyentuh kerutan di pipi kanannya yang paling dalam. Kulitnya tipis seperti kertas lama yang sudah sering dilipat. Dingin, tapi masih lembut. Uti bergeser sedikit dalam tidurnya, tapi tak bangun. Napasnya teratur, pelan. Aku ingat betapa sering aku menyakitinya dulu.

SEMUANYA dimulai sesuatu yang kecil, seperti retakan di dinding yang tak terlihat. Tahun-tahun awal pernikahan kami penuh perjuangan. Aku bekerja sebagai karyawan di pabrik tekstil di Palembang, gaji pas-pasan. Uti membantu dengan berjualan pempek di pasar. Rumah kami kecil, hanya dua kamar, dan saat Nisa lahir, uang selalu ketat. Aku sering pulang larut, lelah, bau keringat dan asap rokok dari warung kopi tempat aku curhat dengan teman-teman. Satu kata kasar dariku cukup membuatnya diam seharian. "Masakannya asin lagi!" kataku suatu malam, melempar sendok ke meja. Uti hanya mengangguk, membersihkan tanpa kata, lalu pergi ke belakang rumah mencuci piring sambil menahan air mata.

Aku pernah memukul meja makan sampai pecah hanya karena ia terlambat lima menit menyajikan makan malam. "Kamu ini bikin aku sesak napas!" bentakku di depan anak-anak yang masih kecil. Nisa yang saat itu baru berusia tujuh tahun menangis ketakutan. Naufal bersembunyi di balik kain Uti. Uti tak membalas. Ia hanya menggendongnya, membawanya dan Nisa ke kamar, dan diam. Pagi harinya, matanya sembab. Kelopaknya bengkak, seperti habis menangis semalaman. "Flu lagi ya, Uti?" tanyaku sambil minum kopi. Ia mengangguk pelan. "Cuma pilek biasa, Yah. Sudah minum obat."

Aku percaya. Atau pura-pura percaya. Karena lebih mudah begitu daripada menghadapi kenyataan bahwa aku yang membuatnya menangis.

Tahun-tahun berlalu. Saat bisnis pempek Uti mulai berkembang. Ia menambah jaringan bisnisnya, dengan membuka penjualan kain batik. Uti pintar membuat model baru, merancang motif sendiri, motif sungai Musi yang ia namai "Alur Kebersamaan". Aku malah semakin sering marah. Aku iri melihat ia sukses kecil-kecilan sementara aku masih stuck di pabrik. "Kamu lebih peduli dagangan daripada rumah!" kataku suatu sore, saat ia pulang terlambat karena membantu pelanggan memilih kain untuk pernikahan anaknya. Malam itu ia tidur di lantai, tak mau di ranjang bersamaku. Pagi harinya, matanya lagi-lagi sembab. "Flu musiman, Yah. Musim hujan begini."

Aku tak pernah bertanya lebih dalam. Tak pernah memeluknya dan bilang maaf. Aku pikir, sebagai suami, aku berhak marah. Aku yang cari nafkah utama, meski sebenarnya penghasilan Uti sering menambal kekurangan kami. Aku lupa bahwa ia tak pernah mengeluh saat hamil berat, saat melahirkan tanpa anestesi karena biaya, saat merawat anak-anak sendirian karena aku lembur atau main domino dengan teman.

SUATU malam di tahun 2005, saat Nafila masih balita, aku pulang mabuk setelah kalah judi kecil-kecilan di warung. Aku memaki-maki, bilang ia tak becus mengatur rumah. Uti diam saja, membersihkan muntahanku di lantai. Esok paginya, aku melihat ia di dapur, bahunya terguncang pelan. Aku pura-pura tak lihat. "Flu lagi?" tanyaku saat sarapan. Ia mengangguk, suaranya datar. "Iya, Yah."

Itu berulang puluhan kali. Ratusan kali. Setiap kali aku melukai, ia menyimpan. Tak pernah diungkapkan di depan anak-anak. Tak pernah ia bilang ke orang tua kami. Ia menelan semuanya demi keutuhan rumah tangga ini. Demi anak-anak tak kehilangan ayah yang "normal".

AKU menatap wajahnya sekarang. Kerutan di dahi itu, aku yakin, lahir dari malam-malam ia menangis sendirian di kamar mandi, air keran mengalir keras untuk menutupi isakannya. Kerutan di leher, dari tahun-tahun ia menunduk membuat adonan pempek, menjahit kain batik, hingga larut malam bahkan menjelang azan Subuh, agar bisa bayar sekolah anak-anak. Kelopak mata yang turun, dari lelah menahan amarah yang tak pernah ia balas.

Tapi malam ini, saat jari-jariku menyusuri kerutan itu, aku melihat sesuatu yang berbeda. Bukan bekas luka semata. Mereka adalah sungai-sungai kecil yang mengalir dari mata ke hati, mengairi tanah kering pernikahan kami. Setiap air mata yang ia tumpahkan sendirian tak mengikis cinta. Justru sebaliknya. Mereka mengukir kebersamaan yang dalam, yang tak bisa dihancurkan amarah, kemiskinan, atau waktu.

Aku ingat satu kejadian yang paling menusuk. Tahun 2012, saat bisnis batik Uti sedang naik daun. Ia dapat pesanan besar dari toko di Jakarta. Aku, yang saat itu baru saja di-PHK dari pabrik karena efisiensi, merasa kecil. Malam itu aku bilang kasar, "Kamu pikir kamu hebat ya? Tanpa aku, kamu tak ada apa-apanya!" Uti diam. Ia pergi ke belakang rumah, duduk di bangku kayu dekat sungai. Aku mengintip dari jendela. Bahunya terguncang. Air matanya jatuh ke tanah. Tapi pagi harinya, ia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan favoritku: nasi uduk dengan telur dadar. "Flu lagi?" tanyaku. "Sudah sembuh, Yah," jawabnya sambil tersenyum tipis.

Ia tak pernah minta cerai. Tak pernah ancam pergi. Ia pilih tetap di sini, di sisi aku yang penuh cacat ini.

Anak-anak kami tumbuh melihat itu. Nisa pernah bilang saat remaja, "Ayah, kenapa Ibu selalu diam kalau Ayah marah?" Aku jawab kasar, "Urusan orang tua." Naufal, yang lebih peka, sering memeluk Uti diam-diam. Nafila, si bungsu, paling dekat dengan ibunya. Ia sering bilang, "Ibu kuat sekali."

Kini, melihat tiga cucu kami, aku sadar: kebersamaan ini adalah warisan terbesar. Bukan rumah mewah, bukan uang banyak, tapi dua orang yang saling bertahan meski badai datang berulang.

UTI bergeser lagi dalam tidurnya. Tangannya mencari tanganku secara insting, seperti biasa selama 35 tahun. Aku genggam erat. Tangan itu kasar, penuh kapalan dari mengulek adonan pempek dan juga ditambah menjahit kain, tapi hangat. Untuk pertama kali, aku tak merasa bersalah semata. Aku merasa... dimaafkan. Bukan karena ia pernah mengucapkannya. Tidak pernah. Tapi karena ia memilih tetap bersamaku, meski disakiti ribuan kali. Ia menyembunyikan luka demi kami.

PENCERAHAN itu datang seperti cahaya lampu tidur ini: pelan, tapi menusuk. Cinta sejati bukan yang tak pernah menyakiti. Cinta sejati adalah yang tetap memilih untuk tetap, meski sudah disakiti. Kebersamaan hingga menua bukan tentang sempurna. Bukan tentang wajah cantik yang abadi atau suami yang tak pernah salah. Ia tentang dua jiwa yang saling mengukir luka menjadi cerita, air mata menjadi sungai yang menghubungkan, dan diam menjadi kekuatan terbesar.

Aku teringat hari-hari indah di tengah semua itu. Saat kami piknik ke Danau Ranau tahun 1995, saat Nisa masih bayi. Uti membawa bekal nasi kuning, kami duduk di tepi danau, angin sepoi-sepoi. Ia tertawa saat aku gagal memancing ikan. "Yah, sabar dong. Ikan juga butuh waktu mengenal sesuatu," katanya sambil memegang tanganku. Atau saat Lebaran pertama setelah Nafila lahir, kami berfoto bersama di depan rumah, wajahnya masih cerah meski lelah.

Tapi penyesalan lebih kuat malam ini. Aku ingat betapa aku sering mengabaikannya saat ia sakit. Tahun 2008, ia demam tinggi setelah banjir besar. Aku sibuk cari kerja, jarang di rumah. Ia merawat diri sendiri, minum jamu dari daun sirih yang ia petik sendiri. "Flu biasa," katanya lagi saat aku tanya. Padahal dokter kemudian bilang itu infeksi saluran pernapasan.

AKU menangis pelan sekarang. Air mataku jatuh ke bantal, bercampur dengan napas Uti yang tenang. "Maaf, Uti," bisikku di telinganya, meski tahu ia tak mendengar. "Terima kasih sudah menangis sendirian demi kita. Terima kasih sudah menyimpan marahmu agar anak-anak tak kehilangan ayah. Terima kasih sudah tetap cantik di mataku, meski dunia bilang pudar."

Hujan di luar sudah reda sepenuhnya. Cahaya fajar mulai menyusup lewat celah jendela. Uti membuka mata pelan. Ia tersenyum tipis saat melihat aku. "Yah... Sudah bangun ya? Kok mata Ayah merah?"

Aku tersenyum, menyeka air mata. "Flu lagi, Uti. Cuma pilek biasa."

Ia tertawa kecil, suara itu masih hangat. "Kita sama-sama flu ya malam ini." Tangannya mengusap pipiku. "Tapi besok pagi pasti sembuh. Seperti biasa."

KAMI bangun bersama, seperti 35 tahun terakhir. Aku bantu ia duduk, pegang pinggangnya yang sudah agak bungkuk. Kami minum kopi di teras, melihat sungai Musi yang mulai tenang. Anak-anak dan cucu akan datang siang nanti untuk makan bersama.

Malam itu, saat kami berbaring lagi, aku peluk ia lebih erat. "Uti, aku sayang kamu. Selalu."

Ia memejamkan mata, tersenyum. "Aku tahu, Yah. Dari dulu."

Kerutan di wajahnya tak lagi terasa menyedihkan. Mereka indah sekarang. Mereka adalah bukti bahwa kebersamaan kami bukan dongeng sempurna, tapi cerita nyata tentang dua manusia yang belajar memaafkan tanpa kata, bertahan tanpa syarat, dan menemukan pencerahan di usia senja: bahwa luka yang disembunyikan dengan cinta bisa menjadi ikatan terkuat.

Besok-besok, aku akan ceritakan ke anak-anak. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk mengajarkan kepada mereka: Jaga pasanganmu sebelum kerutan menjadi terlalu dalam. Hargai diamnya, karena di balik diam itu ada lautan pengorbanan.

Uti sudah tidur lagi. Aku pandang wajahnya sekali lagi. Cantik. Lebih cantik dari dulu, karena sekarang aku mengerti.

Di pinggir Sungai Musi yang abadi, di rumah kebahagiaan kami, kebersamaan kami terus mengalir. Hingga napas terakhir, hingga kerutan bertambah, hingga kami benar-benar satu dalam diam dan tawa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image