Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahmatika Syarif

Jejak Perjalanan yang tak Terlupakan

Jalan Jalan | 2026-04-07 12:02:47
Sumber: Dokumentasi pribadi

Pada Sabtu, 10 Mei 2025, aku dan teman-temanku, yaitu Arini, Salsa, Aqila, Adit, Jepri, Rehan, dan Dito, akhirnya merealisasikan rencana pendakian yang sudah lama hanya menjadi wacana. Bertepatan dengan adanya libur panjang di bulan Mei, kami memutuskan untuk mendaki salah satu gunung di Jawa Barat dengan sistem tektok.

Kami berangkat pada Sabtu malam sekitar pukul 19.30 dan tiba di basecamp sekitar pukul 23.00. Sesampainya di sana, kami langsung bersiap-siap, bersih-bersih, makan, lalu memaksimalkan waktu istirahat karena rencananya pendakian akan dimulai pada dini hari. Pendakian ini dilakukan tanpa bermalam di atas, sehingga kami harus mengejar waktu.

Sekitar waktu menjelang subuh, kami mulai berangkat dari basecamp menuju pos satu. Saat itu perjalanan masih sangat gelap karena belum ada matahari. Suasana dingin dan sepi, hanya ditemani langkah kaki dan suara alam.

Awal perjalanan terasa menyenangkan. Dari basecamp menuju pos satu, kami masih tertawa-tawa dan berjalan dengan kompak. Dengan nada bercanda, Dito berkata, “Gimana teman-teman, masih kuat? Semangat, puncak lima menit lagi!” Kami yang mendengar hanya ikut tertawa karena tahu itu hanya candaan.

Langkah demi langkah kami lalui dari pos satu menuju pos dua. Jalurnya mulai menanjak, tetapi suasana masih penuh semangat. Kami masih saling mengobrol dan berjalan berdekatan.

Namun, setelah melewati pos tiga menuju pos empat, trek mulai terasa lebih berat. Jalanan semakin terjal dan licin, serta dipenuhi akar-akar. Rombongan pun mulai terpecah. Ada yang berjalan lebih dulu, dan ada yang tertinggal di belakang.

Akhirnya, aku berjalan di rombongan belakang bersama Aqila, Rehan, dan Jepri. Perjalanan terasa semakin melelahkan, dan tenaga mulai berkurang.

Di tengah perjalanan, dengan wajah yang mulai tidak nyaman, Aqila berkata kepadaku, “Aku kebelet, pengen buang air.”

Aku langsung menoleh dan menjawab, “Oh iya? Coba aku bilang Rehan dulu ya, biar dicari tempat yang aman.”

Aku pun memanggil Rehan. Ia langsung mengangguk dan berkata, “Iya, kita cari tempat yang agak tertutup dulu.”

Akhirnya, aku dan Rehan menemani Aqila untuk mencari tempat yang aman. Kami menunggu sambil memastikan tidak ada orang lain di sekitar.

Setelah Aqila selesai, kami kembali ke jalur utama. Namun saat sampai, kami menyadari bahwa Jepri sudah tidak ada.

“Loh, Jepri ke mana?” tanya Rehan

Aku menjawab, “Kayaknya dia udah duluan nyusul ke depan.”

Kami pun melanjutkan perjalanan bertiga.

Sesampainya di sekitar pos empat, dengan napas yang mulai terengah, Aqila berkata, “Aku nggak kuat, aku tunggu di sini aja.”

Aku mencoba menyemangati, “Ayo, Kak, kita pelan-pelan aja. Sayang sudah sampai sini.”

Namun Aqila tetap pada keputusannya. Akhirnya, dengan berat hati, aku dan Rehan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, aku berpesan, “Kak, tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana. Kalau hujan, neduh aja di dekat warung.”

Kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya bertemu dengan rombongan depan di sekitar pos lima. Mereka langsung bertanya, “Mana Aqila?”

Aku menjawab, “Dia nggak kuat, lagi nunggu di pos empat.”

Mendengar hal itu, Salsa terlihat khawatir dan berkata, “Aku turun aja ya. Kasihan Aqila sendirian, lagian aku yang ngajak dia.”

Kami sempat terdiam, tetapi akhirnya mengizinkannya turun.

Tidak lama setelah itu, aku sempat memisahkan diri bersama Arini dan Rehan karena Arini ingin buang air. Setelah selesai dan kami kembali, kami menyadari bahwa Dito sudah tidak ada.

“Dito ke mana?” tanya Arini

Jepri menjawab, “Dia turun nyusul Salsa sama Aqila.”

Adit menambahkan, “Iya, tadi dia bilang, ‘Gue turun aja nyari mereka.’”

Mendengar itu, suasana langsung berubah. Rehan pun berkata dengan nada khawatir, “Ini kita nggak apa-apa pisah rombongan kayak gini? Ntar malah pada mencar.”

Kami hanya bisa saling berpandangan, tetapi akhirnya tetap melanjutkan perjalanan.

Kami sempat beristirahat dan mengabadikan momen, tetapi waktu terus berjalan hingga sekitar pukul dua belas siang. Cuaca mulai berubah, langit menjadi gelap, dan gerimis pun turun.

Rehan kembali bertanya, “Kita tetap mau lanjut ke puncak?”

Adit menjawab, “Masih jauh nggak? Kalau tanggung, lanjut aja.”

Rehan menjawab, “Sekitar tiga puluh menit lagi.”

Namun, melihat kondisi yang sudah tidak memungkinkan untuk dipaksakan, di mana waktu sudah menunjukkan sekitar pukul satu siang dan kabut mulai turun, kami khawatir akan terjebak malam di perjalanan. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke puncak dan memilih untuk turun.

Dalam perjalanan turun, rombongan kembali terpecah. Jepri dan Adit berjalan lebih dulu karena langkah mereka lebih cepat.

Sementara itu, aku berjalan bersama Arini dan Rehan di belakang. Namun karena kondisiku cedera, aku tertinggal dan akhirnya hanya bersama Rehan.

Perjalanan terasa semakin menegangkan. Hari mulai gelap dan suasana hutan terasa lebih sunyi. Aku beberapa kali berhenti karena kelelahan, sementara Rehan terus menyemangatiku, “Pelan-pelan aja, yang penting kita sampai bawah.”

Saat sampai di pos ojek, kami akhirnya mendapatkan sedikit sinyal. Rehan langsung membuka ponselnya. Tidak lama kemudian, kami melihat grup sudah sangat ramai.

Ternyata Salsa, Dito, dan Arini sudah lebih dulu sampai di basecamp, namun mereka tidak menemukan Aqila. Bahkan, saat dicek kembali ke pos empat, Aqila juga tidak ada di sana. Tidak lama setelah itu, Jepri dan Adit juga menyusul sampai di basecamp, tetapi hasilnya tetap sama—Aqila tidak ditemukan.

Pesan-pesan di grup pun terus berdatangan, “Ini Aqila di mana sih?” “Kok belum nyampe juga?” “Tadi di pos empat nggak ada, di basecamp juga nggak ada ”

Melihat hal itu, suasana hati kami langsung berubah menjadi semakin cemas.

Aku langsung berkata dengan cemas, “kita beneran bilang ke ka Aqila kan, jangan ke mana-mana?”

Rehan mengangguk dan menjawab, “Iya,. Tadi kita udah bilang dia buat nunggu di pos 4.”

Perasaan kami semakin tidak tenang, tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mendekati basecamp.

Saat mendekati basecamp dan sudah memasuki area perumahan warga yang mulai ramai, aku melihat Aqila berjalan sendirian “Kak, kamu baru nyampe? Kita kan suruh nunggu di pos 4 jangan kemana-mana!”

Aqila menjawab, “Iya, aku ikut sama bapak-bapak penjaga warung. Dia mau turun, ya udah aku ikut.”

Aku bertanya lagi, “Emang ga lewat jalur biasa?”

Aqila menggeleng, “Nggak, bukan jalur pendakian. Makanya aku ikutin dia biar cepat turun.”

Mendengar itu, aku dan Rehan langsung merasa lega. “Ya Allah, kirain kenapa-kenapa,” ucapku pelan.

Sesampainya di basecamp, semua perasaan bercampur menjadi satu. Lelah, kesal, dan khawatir akhirnya berubah menjadi rasa syukur karena kami semua selamat.

Malam itu, kami benar-benar kelelahan. Sebagian besar langsung beristirahat. Hanya aku, Aqila, dan Adit yang masih sempat menikmati nasi goreng hangat di tengah udara dingin.

Akhirnya, Senin pagi pun tiba. Kami bersiap-siap untuk pulang dengan kondisi yang sudah jauh lebih tenang. Alhamdulillah, perjalanan pulang berjalan lancar tanpa kendala apa pun, dan kami semua sampai di tujuan dengan selamat.

Perjalanan ini mungkin tidak berjalan sempurna. Banyak hal di luar rencana yang terjadi. Namun dari semua itu, kami belajar tentang kebersamaan, rasa tanggung jawab, dan pentingnya saling menjaga satu sama lain. Rasa lelah yang kami rasakan seolah terbayar dengan pengalaman berharga yang tidak akan mudah dilupakan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image