Reunifikasi China Akhir dari Kartu As Amerika Serikat?
Politik | 2026-04-13 00:36:33
Opini - Presiden China Xi Jinping menerima dan menjamu tokoh oposisi pemerintah Taiwan, Cheng Li Wun pada Jumat (10/4), saat Beijing menutup sebagian wilayah udaranya sejak 27 Maret hingga 6 Mei 2026. Pertemuan hal ini tentunya menjadi sorotan, liputan penting dan analisis berbagai pengamat dan tentunya media berbagai negara ikut meramaikan moment penting di cakrawala politik internasional, untuk itu penulis akan mencoba menyapaikan opini dengan dilengkapi ulasan dari sudut persepsi kedua negara ataupun pendapat pakar terkait reunifikasi ini Isu reunifikasi China—terutama terkait Taiwan—bukan sekadar persoalan teritorial, melainkan simpul dari rivalitas geopolitik paling menentukan abad ke-21. Bagi Amerika Serikat, Taiwan selama ini berfungsi sebagai “kartu as” strategis untuk menahan ekspansi pengaruh Beijing di kawasan Indo-Pasifik. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kartu itu akan hilang jika reunifikasi benar-benar terwujud?
Dari perspektif Beijing, reunifikasi adalah keniscayaan sejarah. Presiden Xi Jinping secara konsisten menegaskan bahwa Taiwan tidak boleh selamanya terpisah dari daratan utama. Pandangan ini diperkuat oleh pemikir seperti Yan Xuetong, yang melihat strategi China sebagai kombinasi tekanan jangka panjang—ekonomi, militer, dan diplomatik—untuk mencapai penyatuan tanpa harus selalu melalui perang terbuka.
Namun, optimisme Beijing berbenturan dengan realitas sosial di Taiwan. Data survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Taiwan kini mengidentifikasi diri sebagai “orang Taiwan”, bukan “orang China”. Dukungan terhadap reunifikasi sangat kecil, bahkan dalam kondisi ideal sekalipun. Presiden Tsai Ing-wen menegaskan bahwa masa depan Taiwan harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri—sebuah pernyataan yang mencerminkan jarak psikologis yang semakin lebar antara kedua sisi Selat Taiwan.
Pakar seperti Joseph Nye menekankan bahwa faktor legitimasi sosial ini krusial. Reunifikasi tidak bisa hanya dipaksakan dengan kekuatan militer; ia membutuhkan penerimaan dari masyarakat Taiwan. Tanpa itu, penyatuan damai hampir mustahil. Di sisi lain, John Mearsheimer justru melihat logika kekuatan besar akan mendorong China untuk tetap berupaya menguasai Taiwan, karena posisinya yang sangat strategis.
Kontras ini semakin tajam jika dibandingkan dengan persepsi publik di China daratan. Di sana, reunifikasi dipandang sebagai tujuan nasional yang sah dan bagian dari kebangkitan China sebagai kekuatan global. Nasionalisme memainkan peran besar: Taiwan bukan sekadar wilayah, tetapi simbol harga diri bangsa dan penutup dari sejarah panjang fragmentasi.
Perbedaan persepsi ini menciptakan paradoks yang sulit dipecahkan. Di satu sisi, China memiliki tekad politik dan dukungan domestik yang kuat untuk menyatukan wilayahnya. Di sisi lain, Taiwan justru semakin menjauh secara identitas dan politik. Dengan kata lain, reunifikasi bukan hanya persoalan kekuatan, tetapi juga konflik identitas yang mendalam.
Dalam konteks inilah peran Amerika Serikat menjadi krusial. Selama ini, Washington memanfaatkan Taiwan sebagai bagian dari strategi “first island chain” untuk membatasi pengaruh militer China. Kurt Campbell menegaskan bahwa stabilitas Selat Taiwan adalah kepentingan vital Amerika Serikat. Jika Taiwan jatuh ke tangan Beijing, maka posisi strategis AS di Asia Timur akan melemah, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang kredibilitas komitmen keamanannya terhadap sekutu.
Namun demikian, menganggap bahwa reunifikasi otomatis mengakhiri dominasi Amerika Serikat juga merupakan penyederhanaan berlebihan. Seperti diingatkan oleh Graham Allison, dinamika antara kekuatan besar tidak selalu berujung pada kemenangan mutlak satu pihak. Dunia saat ini bergerak menuju tatanan yang lebih kompleks dan multipolar.
Dengan demikian, jika reunifikasi China benar-benar terjadi, dampaknya memang akan signifikan: Amerika Serikat berpotensi kehilangan salah satu kartu strategis terpentingnya di Asia. Namun, yang lebih mungkin terjadi bukanlah “akhir permainan”, melainkan perubahan aturan main. Rivalitas tidak akan berhenti—ia hanya akan memasuki babak baru dengan konfigurasi kekuatan yang berbeda.
Pada akhirnya penulis berpendapat, masa depan Taiwan tidak hanya ditentukan oleh ambisi Beijing atau strategi Washington, tetapi juga oleh kehendak rakyatnya sendiri. Dan selama jurang persepsi antara masyarakat Taiwan dan China daratan tetap lebar, reunifikasi akan tetap menjadi kemungkinan yang penuh ketidakpastian—sekaligus titik paling rawan dalam politik global hari ini. Tetapi kemungkinan bisa terjadi apabila terkait Reunifikasi China - Taiwan terwujud, apabila Amerika Serikat tidak terlibat Intervensi terkait Dua Chima ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
