Pelajar Jadi Pengedar Sabu: Bukti Nyata Gagalnya Sistem Menjaga Generasi
Kolom | 2026-04-12 16:07:13
Tulisan oleh Aisyah Farha
Kasus pelajar yang terjerat narkoba kembali terjadi. Kali ini, fakta yang muncul bahkan lebih memprihatinkan: bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sudah masuk ke level pengedar.
Di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dua orang ditangkap saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Salah satunya diketahui masih berstatus pelajar (Detik, 2 April 2026). Kasus serupa juga terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang pelajar berusia 19 tahun ditangkap dengan puluhan paket sabu yang disimpan di berbagai lokasi (SuaraSultra, Maret 2026).
Fenomena ini bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa. Ketika pelajar—yang seharusnya menjadi harapan masa depan—justru terlibat dalam jaringan narkoba, maka ada yang salah secara serius dalam sistem yang berjalan.
Generasi Rusak, Sistem yang Dipertanyakan
Masuknya pelajar ke dalam dunia narkoba, apalagi sebagai pengedar, menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada individu. Ini adalah cerminan kegagalan sistem dalam menjaga generasi.
Dalam sistem yang berjalan saat ini, pendidikan lebih banyak berorientasi pada aspek akademik dan materi, tetapi lemah dalam membangun kepribadian dan moral. Akibatnya, generasi tumbuh tanpa fondasi nilai yang kuat. Agama hanya menjadi pelengkap, bukan landasan hidup.
Di sisi lain, lingkungan sosial juga semakin permisif. Pergaulan bebas, lemahnya kontrol masyarakat, serta mudahnya akses terhadap narkoba membuat generasi semakin rentan terjerumus.
Tidak kalah penting, penegakan hukum yang belum memberikan efek jera turut memperparah keadaan. Jaringan narkoba terus berkembang, sementara generasi muda menjadi sasaran empuk.
Semua ini menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi hari ini bukan kebetulan, melainkan akibat dari sistem yang tidak mampu menjaga akal, moral, dan perilaku generasi.
Solusi: Membangun Generasi dengan Sistem Islam
Islam memandang generasi sebagai aset utama yang harus dijaga secara menyeluruh—dari akidah, akhlak, hingga perilakunya. Karena itu, solusi yang ditawarkan tidak parsial, tetapi menyentuh semua aspek.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga generasi bukan hanya di pundak individu, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan negara.
Al-Qur’an pun mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa penjagaan generasi harus dimulai dari keluarga, dengan pendidikan iman yang kuat dan keteladanan yang nyata.
Dalam Islam, pendidikan tidak hanya mencetak individu cerdas, tetapi membentuk kepribadian yang menjadikan halal-haram sebagai standar hidup. Masyarakat juga berperan aktif menjaga lingkungan melalui amar makruf nahi mungkar.
Negara pun wajib hadir dengan sistem hukum yang tegas terhadap narkoba—baik produsen, pengedar maupun pengguna—agar memberikan efek jera dan menutup celah peredarannya.
Karena itu, fenomena ini tidak cukup disikapi dengan keprihatinan sesaat. Ini adalah peringatan keras bahwa ada yang harus dibenahi secara mendasar.
Sudah saatnya kaum Muslimin tidak hanya menyalahkan individu, tetapi mulai melihat akar persoalan. Diperlukan kesadaran untuk kembali mengkaji Islam secara kaffah, memahami bagaimana Islam menjaga generasi secara utuh, lalu bergerak bersama menghadirkan perubahan nyata.
Tanpa itu, kasus serupa hanya akan terus berulang—dan generasi akan terus menjadi korban.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
