Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Furqon Ardhie

Melebur Dosa Menjemput Takwa: Esensi Halalbihalal

Agama | 2026-04-10 14:59:02

PEKALONGAN – Suasana sejuk bakda Subuh di Musholla Sabilirohim, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sijambe, Wonokerto, terasa berbeda pada Jumat, 10 April 2026. Jama’ah tampak antusias memadati ruangan hingga selasar untuk mengikuti Kajian Jumat Pahing Spesial Halalbihalal. Momentum yang bertepatan dengan 22 Syawal 1447 H ini menghadirkan narasumber ahli, Ustadz Dr. Sumarno, M.Pd.I., yang merupakan Mudir International Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Miftahul Ulum Pekajangan.

Dalam ceramahnya, Dr. Sumarno menekankan bahwa halalbihalal bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jembatan krusial untuk meraih predikat takwa melalui pintu saling memaafkan.

Makna di Balik Ucapan Idul Fitri

Dr. Sumarno mengawali kajian dengan membedah berbagai ucapan perayaan yang lazim di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa kalimat "ja'alanallahu minal 'aidin wal faizin" berasal dari abad ke-13 M dan paling popular saat ini di masyarakat, sementara para ustadz/penceramah kontemporer sering menggunakan "fi kulli ‘aamiin wa antum bi khair" atau "kullu/kulla ‘aamiin wa antum bi khair".

Namun, beliau menekankan pentingnya menghidupkan tradisi para sahabat Rasulullah SAW.

"Para sahabat Rasulullah SAW menggunakan ucapan 'taqabbalallahu minna wa minkum' pada saat perayaan Idul Fitri. Inilah doa yang juga dipopulerkan oleh Muhammadiyah, karena substansinya adalah memohon agar amal ibadah kita benar-benar diterima oleh Allah SWT," jelas Dr. Sumarno di hadapan para jamaah.

Kita dapat memberikan jawaban untuk ucapan tersebut dengan mengucapkan : “taqabbalallahu minna wa minkum” atau “(minna waminkum) taqobbal ya karim”.

Ciri Orang Bertakwa: Pengendalian Diri dan Pemaaf

Menukil Surat Ali Imran ayat 133-134:

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,”

pemateri memaparkan bahwa surga disediakan bagi orang yang bersegera mencari ampunan. Menariknya, indikator taqwa tidak hanya soal ibadah ritual, tetapi juga hubungan sosial.

"Orang bertaqwa adalah mereka yang mampu berinfak di segala kondisi, mengendalikan amarah, dan yang paling berat namun mulia: memaafkan kesalahan orang lain. Ampunan Allah SWT bisa kita kejar dengan istighfar, dzikir, puasa dan salat, namun pema’afan sesama manusia hanya bisa didapat dengan kerelaan hati orang yang bersangkutan," tambahnya.

Beliau juga menceritakan kisah edukatif tentang sebuah majelis ilmu yang dipimpin Rasulullah SAW dan dihadiri para sahabat yang sempat terhalang turunnya ketenangan, rahmat Allah SWT dan turunnya para malaikat hanya karena ada satu jama’ah yang belum meminta ma’af atas kesalahan kepada saudaranya. Hal ini menjadi pengingat keras bahwa ganjalan di hati antarmanusia dapat menghambat turunnya rahmat Allah.

Lima Syarat Menuju Lembaran Baru

Agar proses meminta maaf dan bertaubat menjadi sempurna, Dr. Sumarno merangkum lima tahapan utama yang harus dipenuhi:

1. Al-I’tiraf: Mengakui kesalahan secara jujur.

2. An-Nadam: Menyesali kekhilafan yang dilakukan.

3. Istighfar: Meminta ampun kepada Allah dan maaf kepada manusia.

4. Komitmen: Tidak mengulangi kesalahan yang sama.

5. Islah: Menutupi bekas kesalahan dengan amal kebaikan yang nyata.

Beliau mengibaratkan memaafkan seperti menghapus tulisan di kertas. Meski terkadang masih ada bekas yang tersisa di ingatan, seorang muslim harus berani membuka "lembaran baru" tanpa terus-menerus mengungkit masa lalu.

Pesan Khusus untuk Keharmonisan Keluarga

Di penghujung kajian, Dr. Sumarno memberikan pesan spesial bagi para istri mengenai pentingnya ridha suami. Beliau menyebutkan tiga kunci utama bagi istri untuk bisa memilih memasuki surga melalui pintu surga yang mana saja: tertib salat lima waktu, menjaga kehormatan/aurat, dan senantiasa meraih ridha suami dengan tidak menunda meminta maaf jika terjadi kekhilafan.

Kajian yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah berupa sarapan bersama di area musholla.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image