Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rizky Pratama Riyanto

Seni Memilih Teman: Menjaga Prinsip di Tengah Luasnya Pergaulan

Nasihat | 2026-05-01 16:43:14
Ilustrasi Pertemanan (Unsplash/Chang Duong)

Ketika kita berteman dengan penjual minyak wangi, secara tidak langsung tertular dengan aroma wanginya. Begitu pula jika berteman dengan pandai besi, kita secara tidak langsung terkena percikan api dan bau yang tidak sedap.

Penjual minyak wangi diibaratkan lingkaran pertemanan yang baik, sedangkan pandai besi sebagai lingkaran pertemanan yang sebaliknya. Perumpamaan tersebut mengajarkan kita untuk selektif dalam memilih teman, sebab pengaruhnya yang besar bisa membuat kita ikut terjerumus atau terselamatkan.

Adapun yang mengatakan bahwa berteman dengan siapa saja justru lebih baik. Kita bisa mengenal latar belakang kehidupan, memperluas perspektif, dan membangun koneksi dengan banyak orang.

Jaringan pertemanan yang luas sering kali membuka peluang untuk bekerja hingga belajar dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya, perumpamaan antara penjual minyak wangi dan pandai besi tidak berlaku dalam hal ini. Ibaratnya, jika kita mendekati penjual minyak wangi ataupun pandai besi belum tentu terkena cipratan.

Kedua perspektif ini melahirkan keyakinan yang berbeda. Saat masih kecil, kita diajarkan oleh orang tua untuk tidak memilih-milih teman, tetapi saat beranjak dewasa kita diajarkan sebaliknya. Bahkan, ada juga yang mengatakan untuk menyeimbangkan di antara kedua pandangan.

Berteman dengan siapa saja dibolehkan dan selektif memilih teman juga menjadi hal penting. Setiap keyakinan yang beragam membuat diri kita ragu untuk terjun dalam kehidupan sosial, seperti munculnya rasa khawatir terkena imbas percikan api dan berakhir terbawa arus.

Sebenarnya, kita sejak kecil dibiarkan untuk berteman dengan siapa pun karena diajarkan untuk bersosialisasi. Berbeda halnya ketika beranjak dewasa, kita sudah membedakan mana saja perilaku yang benar dan sebaliknya. Oleh sebab itu, kita harus selektif memilih teman agar tidak terbawa arus dengan teman yang berperilaku tidak baik.

Selain itu, faktor lingkungan juga turut berdampak. Jika kita berada di lingkungan teman-teman yang terbiasa mengonsumsi minuman keras dan merokok, maka ketika kita tidak memiliki keteguhan hati yang kuat tentu akan mudah terpengaruh dan secara perlahan mengikuti kebiasaan buruk tersebut.

Keseimbangan antara berteman dengan siapa saja dan selektif dalam memilih teman penting untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Pergaulan harus selektif, tetapi pertemanan tetap terbuka dengan siapa saja.

Bedakan antara teman dekat dan teman sebatas kenalan. Tidak semua teman harus masuk ke lingkaran pergaulan kita, karena pengaruh terbesar justru datang dari mereka yang paling sering bersama kita.

Dalam buku Atomic Habits dijelaskan bahwa seseorang cenderung meniru tingkah laku individu lainnya. Bermula dari kebiasaan, cara berpikir, hingga gaya hidup seseorang yang sering kali terbentuk dari interaksi yang dilakukan secara terus-menerus.

Terlebih lagi, adanya budaya FOMO bagi mereka yang khawatir ketinggalan zaman sehingga membuat seseorang mudah terpengaruh dan ikut meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.

Tidak semua teman memiliki porsi yang sama dalam hidup kita. Ada lingkaran inti dalam pergaulan yang memberi pengaruh besar dalam menentukan arah perjalanan hidup ke depan.

Ada pula pertemanan yang cukup dijaga dengan hanya sebatas relasi sosial. Berteman dengan siapa saja tidak menimbulkan masalah selama kita memiliki prinsip yang kuat dan mampu membatasi diri dari pengaruh negatif.

Keteguhan prinsip dalam hidup adalah hal terpenting. Saat kita bertemu dengan mereka yang mampu menularkan beragam perilaku kepada kita, keteguhan prinsip menjadi benteng utama agar kita tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang diyakini.

Pada akhirnya, pertemanan bukan sekadar tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tetapi siapa yang benar-benar membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah sejatinya arti pertemanan yang saling memegang teguh prinsip hidup dan bukan saling menjatuhkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image