Kekosongan Emosi, Ketika tidak Tahu Mau Memperjuangkan Apa
Curhat | 2026-07-16 21:58:43
Ketika banyak hal terjadi tak sesuai ekspektasi kita, ketika semuanya berjalan tidak lancar, perasaan kosong dan hampa kerap terjadi pada hati manusia. Perasaan ingin lari dari banyak hal, bahkan dari diri sendiri juga ada. Beberapa sempat menutup diri dari masyarakat sekitar. Bersembunyi bukan untuk dicari. Berjuang keluar bukan untuk bisa berdiri.
Berjuang untuk merangkak bangkit kembali ternyata tidak semudah kata-kata motivasi. Diliputi banyak tekanan pada hal-hal yang harus segera dipetik, membuat tubuh terasa auto pilot dan kehilangan antusias pada prosesnya.
Emosi yang hampa juga bisa membuat kesenangan yang didapat jadi terasa hambar. Entah pahit karena terlalu sering menenggak berbagai rasa. Entah juga karena terlalu banyak ramuan ekspektasinya. Diminum sedikit demi sedikit sampai efeknya menjalar ke seluruh tubuh. Tidak bisa dibedakan ini obat atau racun yang membuat lumpuh.
Ketika hampa dan mati rasa jadi satu koleksi. Memburamkan akhir yang seperti apa. Tetapi memangnya siapa yang akan tahu tentang masa depan? Bahkan kita sendiri tidak tahu akan berakhir kapan dan dimana.
Ketika bahkan tidak dapat memverifikasi sedang sedih atau senang. Tragedi seperti komedi. Tawa seperti isakan meminta pertolongan. Semuanya campur baur tanpa tahu mana yang relevan.
Dalam perjalanan yang penuh ketidaksempurnaan, aku ingin meminta maaf. Tetapi kata maaf itu seperti tertahan dalam tenggorokan. Tentang rasa syukur yang harus bisa lebih sering dimanifestasikan. Bukankah rumusnya, bagaimana bisa mensyukuri sesuatu yang besar jika hal kecil saja kerap luput dari persembahan?
Memperjuangkan syukur memang tidak boleh berhenti. Hal sekecil apapun yang ada saat ini dimiliki, sudah sangat lebih dari cukup. Ketika hal-hal yang biasa ada tiba-tiba menghilang, mungkin efeknya akan begitu terasa. Sekompleks saat jari kita lengkap lima, akan terasa berbeda jika tiba-tiba hilang satu. Atau sesederhana saat kita terbiasa mendapat tempat yang bersih tiba-tiba harus tinggal di ruangan yang kotor dan jorok. Semua yang terasa remeh temeh sebenarnya menjadi komplemen yang membantu hidup kita berjalan dengan banyak kebaikan.
Ketika tidak tahu apalagi yang harus kuperjuangkan, mungkin aku memang harus memperjuangkan rasa syukur itu. Sebab ketika tidak ada lagi yang aku perjuangkan, mungkin itu penyebab mengapa manusia kesulitan untuk bertahan.
Baca juga: Mengapa Banyak Hal tidak Mudah untuk Diwujudkan?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
