Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Roma Kyo Kae Saniro

Pasar Keramat Pacet: Ketika Tradisi, Ekologi, dan Ekonomi Desa Bertemu

Wisata | 2026-04-28 07:33:41

oleh Roma Kyo Kae Saniro

Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Ilustarasi Pasar Keramat. Sumber: Akun Google Review Cinnamon Roll

Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai tradisional, sebuah inisiatif warga di Dusun Wonokerto justru menghadirkan ruang alternatif yang memadukan ekonomi, budaya, dan spiritualitas. Masyarakat setempat menyebutnya Pasar Keramat, sebuah pasar yang bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang hidup yang sarat makna. Tidak heran jika dusun ini dikenal dengan julukan “Keramajetak,” refleksi identitas kolektif masyarakatnya yang lekat dengan nilai sakral dan kearifan lokal.

Istilah “keramat” berakar dari ungkapan Jawa kuno, yaitu “Keramut ben manfaat mugio kajugrukan rahmat so ngersani gusti kang maha rahmat” yang dalam kajian filologi dimaknai sebagai harapan akan kebermanfaatan yang diliputi berkah dan rahmat Tuhan. Dengan demikian, Pasar Keramat tidak hanya berdiri sebagai entitas ekonomi, tetapi juga sebagai manifestasi nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Pasar ini mulai dirintis pada tahun 2019 oleh masyarakat lokal yang memiliki visi untuk membangkitkan potensi desa. Perjalanan panjang tersebut mencapai momentum penting ketika secara resmi diresmikan pada 20 Februari 2023 oleh Ikfina Fahmawati. Peresmian ini bukan hanya pengakuan administratif, melainkan juga penegasan bahwa Pasar Keramat telah berkembang menjadi ikon baru berbasis komunitas di wilayah tersebut. Salah satu kekuatan utama Pasar Keramat terletak pada semangat kolektif masyarakatnya untuk mengembangkan ekonomi desa hingga isu lingkungan.

Pada tahun ini, jadwal penyelenggaraan Pasar Keramat dapat dipantau melalui akun Instagram @pasar_keramat, dengan agenda kegiatan yang tersebar sepanjang tahun, yakni Januari (18), Februari (3 dan 17), Maret (29/tocian), April (12), Juni (7 dan 21), Juli (12 dan 26), Agustus (16 dan 30), September (20), Oktober (4 dan 25), November (8 dan 29), serta Desember (13), dan secara rutin juga dibuka setiap Minggu Wage dan Minggu Kliwon.

Pasar ini tidak sekadar menjadi ruang jual beli, tetapi telah menjelma sebagai destinasi wisata budaya dan gastronomi tradisional yang khas dan autentik. Setiap penyelenggaraannya menghadirkan gelar budaya yang berpadu dengan aktivitas pasar rakyat. Pengunjung dapat menikmati beragam kuliner tradisional yang diolah dan disajikan dengan nuansa lokal yang kuat. Atmosfer yang dihadirkan tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghidupkan kembali pengalaman kultural yang mulai jarang ditemui di tengah modernitas.

Ilustarasi Koin Gobog. Sumber: Akun Google Review Cinnamon Roll

Salah satu daya tarik unik Pasar Keramat terletak pada sistem transaksinya yang tidak menggunakan uang rupiah secara langsung, tetapi koin kayu yang ditukarkan di pintu masuk. Koin ini dikenal sebagai koin gobog yang menjadi simbol sekaligus media edukasi sejarah bagi pengunjung. Dalam praktiknya, setiap pengunjung terlebih dahulu menukarkan uang rupiah menjadi koin gobog sebelum bertransaksi di dalam area pasar sehingga tercipta pengalaman ekonomi alternatif yang berbeda dari pasar pada umumnya.

Secara historis, koin gobog merujuk pada mata uang logam yang pernah digunakan pada masa Kerajaan Majapahit. Koin tersebut umumnya berbentuk persegi dengan lubang di bagian tengah yang memiliki fungsi tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi juga mengandung nilai simbolik dan budaya. Reinterpretasi koin gobog dalam bentuk koin kayu di Pasar Keramat menunjukkan upaya kreatif masyarakat dalam menghidupkan kembali warisan sejarah melalui pendekatan yang kontekstual dan ramah lingkungan.

Dari sisi nilai tukar, nominalisasi koin gobog di pasar ini ditetapkan sebesar 1 GB setara dengan Rp2.000. Standarisasi ini memudahkan pengunjung dalam bertransaksi sekaligus menjaga konsistensi sistem ekonomi lokal yang diterapkan. Lebih dari sekadar alat pembayaran, koin gobog menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini yang menghadirkan pengalaman berbelanja yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga sarat makna historis dan budaya.

Pengunjung yang ingin membawa pulang jajanan dari Pasar Keramat dianjurkan untuk membawa wadah sendiri, seperti tas kain atau kresek nonplastik karena di dalam area pasar tidak diperkenankan penggunaan kemasan berbahan plastik. Kebijakan ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan bagian dari komitmen kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengurangan sampah sekali pakai. Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan yang didukung oleh Ikfina Fahmawati yang mengapresiasi inisiatif masyarakat dalam menghadirkan pasar tradisional yang ramah lingkungan. Ia menegaskan bahwa selain menyajikan makanan khas tradisional, penggunaan kemasan nonplastik merupakan nilai tambah yang sangat penting.

Selain menyuguhkan kekayaan kuliner tradisional, Pasar Keramat juga menghadirkan ragam aktivitas ekonomi yang memperkaya pengalaman pengunjung. Di sejumlah sudut pasar, terdapat pedagang yang menjual hewan dan kebutuhan pakan, mulai dari ayam, kelinci, kambing, ikan, hingga ular, sebuah pemandangan yang mengingatkan pada fungsi pasar tradisional sebagai pusat distribusi kebutuhan hidup masyarakat secara menyeluruh. Pengunjung juga dapat menemukan layanan pijat tradisional yang menawarkan relaksasi berbasis kearifan lokal yang merupakan bagian dari warisan pengetahuan turun-temurun yang masih bertahan di tengah perkembangan pengobatan modern.

Di sisi lain, deretan lapak kerajinan menjadi daya tarik tersendiri. Berbagai pernak-pernik unik berbahan bambu, seperti anyaman, suvenir, hingga mainan tradisional yang ditampilkan dengan sentuhan estetika yang khas. Produk-produk ini tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga merepresentasikan keterampilan tangan dan kreativitas masyarakat lokal. Dalam perspektif antropologi budaya, benda-benda tersebut dapat dibaca sebagai artefak budaya yang memuat jejak sejarah, identitas, dan nilai-nilai kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pasar Keramat menjadi ruang hidup yang merangkum praktik ekonomi, sosial, budaya, dan tradisi dalam satu lanskap yang dinamis dan bermakna. Pasar Keramat juga berfungsi sebagai ruang revitalisasi budaya Jawa. Pengunjung tidak hanya disuguhi kuliner tradisional, tetapi juga atmosfer khas pedesaan yang menghadirkan kembali nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam. Dalam perspektif antropologi budaya, pasar ini dapat dipahami sebagai ruang habitus, tempat di mana nilai, norma, dan praktik budaya diproduksi dan direproduksi secara berkelanjutan. Ini pun membuka peluang besar dalam sektor pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism). Dengan mengedepankan keunikan lokal, pasar ini mampu menarik minat wisatawan yang mencari pengalaman otentik, bukan sekadar destinasi instan. Hal ini menunjukkan bahwa desa memiliki daya tawar kuat jika mampu mengelola potensi secara kreatif dan berkelanjutan.

Pasar Keramat bukan hanya pasar, melainkan juga ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara ekonomi dan spiritualitas, antara lokalitas dan globalitas. Dalam lanskap pembangunan yang sering kali berorientasi pada urbanisasi, Pasar Keramat justru mengingatkan bahwa masa depan bisa tumbuh dari akar dari desa, dari budaya, dan dari kesadaran kolektif masyarakatnya. Melalui konsep ramah lingkungan, pasar ini sejalan dengan semangat global dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi tetap berakar pada tradisi lokal. Dengan kata lain, modernitas tidak ditolak, tetapi dinegosiasikan melalui kearifan budaya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image