Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Furqon Ardhie

Mengingat Asal, Menunaikan Perintah: Hakikat Penciptaan dan Nikmat dalam Tafsir 'Abasa

Agama | 2026-04-24 07:26:43

PEKALONGAN – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali membuat manusia merasa "serba cukup" dan sombong, Masjid Al-Muqorrobin Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sijambe, Wonokerto kembali menggelar oase ruhani melalui pengajian rutin malam Rabu pada Selasa bakda Maghrib tanggal 21 April 2026 bertepatan dengan 5 Dzulqa’dah 1447H. Kajian kali ini menjadi pengingat bahwa ketaatan kepada Allah SWT seharusnya lahir dari kesadaran mendalam akan asal-usul diri yang hina dan besarnya curahan nikmat yang diterima setiap hari.

Jam'ah menyimak dengan khidmat.

Menyambung rangkaian Tafsir Surat ‘Abasa ayat 18-32, Ustadz Tohidin menekankan bahwa perintah untuk beribadah dan melaksanakan perintah Allah SWT adalah konsekuensi logis dari proses penciptaan manusia itu sendiri.

Tadabur Asal-Usul: Dari Setetes Air Menuju Kebangkitan

Ustadz Tohidin mengajak jamaah merenungkan Ayat 18-22: "Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya. Kemudian, jalannya Dia mudahkan. Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali."

Beliau menjelaskan bahwa ayat-ayat ini adalah pengingat bagi kesombongan manusia. Kita berasal dari sesuatu yang dianggap menjijikkan, kemudian ditiupkan ruh, ditetapkan takdir, dimudahkan jalannya hingga nanti akan dikuburkan dan dibangkitkan kembali.

"Kita diingatkan tentang asal kejadian kita agar tidak sombong. Setelah dimatikan dan menunggu di alam kubur, ada janji Allah SWT yang pasti: kita akan dibangkitkan kembali. Kesadaran akan adanya hari kebangkitan inilah yang seharusnya memacu kita untuk segera melaksanakan perintah-Nya selama masih di dunia," ujar Ustadz Tohidin.

Ibadah Tanpa Henti Sebagai Tujuan Penciptaan

Melanjutkan ke Ayat 23: "Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya," pemateri menegaskan bahwa banyak manusia yang lalai akan tugas utamanya meski telah diberi fasilitas hidup yang banyak.

Beliau mengingatkan kembali pesan dalam Surat Az-Zariyat ayat 56 bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia hanyalah untuk beribadah. Hal itulah yang diperintahkan Allah SWT kepada manusia.

"Jangan pernah merasa sudah cukup dengan ibadah yang ada. Sembahlah Tuhanmu sampai datang ajal menjemput (QS. Al-Hijr: 99). Kualitas keikhlasan dan jenis ibadah terus ditingkatkan secara istiqomah sepanjang kehidupan yang diberikan," tegasnya.

Mensyukuri Energi Kehidupan dalam Sepiring Makanan

Setelah bicara soal penciptaan diri, Allah SWT memerintahkan manusia untuk melihat ke luar, yakni pada rezeki yang menghidupi mereka. Melalui Ayat 24-32, Allah SWT berfirman: "Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan. (Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu."

Allah SWT memerintahkan kita memperhatikan makanan yang kita makan. Mengapa? Karena makanan adalah karunia yang setiap hari kita nikmati, tetapi sering kali kita lupa bahwa hal tersebut adalah karunia yang besar. Kemudian dijelaskan dari mana makanan itu berasal.

Beliau menggambarkan bagaimana hujan yang deras mampu melembutkan tanah yang kering dan keras sehingga tunas bisa tumbuh. Ustadz Tohidin menjelaskan proses luar biasa di balik tumbuhnya biji-bijian, sayur-sayuran dan buah-buahan: anggur, zaitun, kurma hingga kebun yang rindang serta rumput-rumputan sebagai bahan makanan hewan ternak. Karunia ini disediakan Allah SWT untuk kesenangan manusia.

"Banyaknya nikmat berupa sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak ini adalah karunia besar. Semua fasilitas ini diberikan agar manusia memiliki kekuatan dan alasan untuk melaksanakan perintah Allah SWT serta beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya," tambah beliau

Kajian dihadiri jama'ah Masjid Al Muqorrobin dan jama'ah mushola terdekat.

Kajian yang khidmat ini ditutup dengan do'a bersama dan diakhiri sholat Isya' berjama'ah.

Menjemput Taat Melalui Syukur

Kajian malam ini memberikan simpulan bernas bahwa perintah Allah bukanlah beban, melainkan bentuk syukur atas proses penciptaan yang sempurna dan rezeki yang melimpah. Dengan mengingat dari mana kita berasal (setetes air) dan bagaimana kita bertahan hidup (melalui nikmat alam), tidak ada alasan bagi manusia untuk berpaling dari perintah Sang Pencipta.

Mari kita jadikan setiap suapan makanan dan setiap tarikan napas sebagai bahan bakar untuk memperkuat ketaatan. Sebab, kepada-Nyalah kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan setiap nikmat yang telah kita terima.

Pengolah : Redaksi Publikasi Online

Masjid Al-Muqorrobin PRM Sijambe, Wonokerto

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image