Warga RW 10 Lenteng Agung: Hunian Kami Bukan Rumah Dinas
Info Terkini | 2026-04-08 17:57:32
JAKARTA -- Warga RT 01, 02 dan 03 di RW 10 Kelurahan Lenteng Agung, Jagakarsa hingga kini masih mempertahankan hunian mereka. Warga menegaskan bahwa hunian mereka bukanlah rumah dinas (rumdin) seperti yang ramai diberitakan.
Salah satu warga, Atun (63 tahun) mengatakan, rumah yang dihuninya sejak tahun 1987 itu dibeli almarhum suaminya seharga Rp 100 ribu. Kala itu, gaji suaminya masih Rp 45 ribu. "Suami saya beli rumah di sini. Saya datang ke sini sekitar tahun 1987 setelah menikah," katanya, Rabu (8/4/2026).
Bude Atun, sapaan akrabnya menceritakan, kondisi rumahnya saat itu jauh dari kata layak huni. Dia mengingat saat itu dinding rumahnya hanyalah anyaman bambu dan tidak ada sumur. Perlahan dia dan almarhum suaminya memperbaiki rumah sedikit demi sedikit dari uang pribadi.
"Sumur saja nggak ada waktu itu. Sampai saya patungan sama tetangga bikin sumur, karena kan harganya mahal ya kalau bikin sumur sendiri," katanya.
Dia menegaskan, hunian yang ditempati bukanlah rumah dinas. Karena dia dan warga lainnya di sini membeli hunian tersebut dengan harga bervariasi.
"Bukan (ruman dinas). Kita beli kok, kita juga bayar listrik sendiri tiap bulan," katanya.
Dia bersama puluhan warga lainnya akan tetap bertahan di lokasi tersebut. Dia meminta agar pihak TNI AD memperhatikan mereka dan memanusiakan warga.
"Kita masih bertahan di sini. Kita manusia, maunya dimanusiakan. Jangan kayak ayam, ayam saja dikasih kandang, masa kita manusia dilepas gitu saja," ucapnya dengan tangan gemetar.
Dia mengaku berat untuk meninggalkan hunian tersebut karena banyak kenangan bersama almarhum suaminya yang meninggal tahun 2007. "Kenangan banyak sama suami, saya ditinggal suami (meninggal) 2007. Kalau mau pergi dari sini kayaknya berat karena kenangan sama suami banyak," kenangnya.
Dia menceritakan, saat itu dia harus membiayai anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dia berjuang tiap hari banting tulang untuk membesarkan kedua anaknya. Dia merasa rumah yang dihuninya banyak menyimpan cerita pahit dan manis selama puluhan tahun.
"Saya ditinggal suami pas anak-anak masih sekolah, jadi kita bangun rumah lagi, perbaikin yang ditinggal bapak (rumahnya) belum sebaik sekarang. Terus sekarang sudah lumayan rapih terus diusir kita ya sakit hati," ucapnya sambil meneteskan air mata.
Pada Senin 6 April 2026, puluhan pasukan TNI AD masuk ke hunian warga dan merusak sejumlah rumah dengan dalih melakukan penertiban aset negara. Saat pasukan meringsek masuk, mereka tidak bisa menunjukkan surat perintah eksekusi.
Warga yang kebanyakan sudah berusia lanjut berupaya mengadang mereka, namun pasukan tetap memaksa masuk. Terjadi dorong-dorongan antara warga dengan pasukan TNI AD.
Bude Atun mengaku saat itu ketakutan dan gemetar. Dia bersama lansia lainnya sudah berusaha keras mengadang pasukan, namun karena kekuatan mereka lebih besar maka pertahanan warga pun jebol.
"Gemetar saya pas mereka masuk. Tentara segitu banyaknya gimana saya enggak gemetar. Mereka maksa masuk nyelonong, nggak izin. Kita tanya mana surat izinnya, mereka diam saja, jalan saja," ungkapnya.
Wanita paruh baya itu meminta agar apa yang menimpanya dan puluhan warga di sini bisa mendapat perhatian pemerintah. "Pak Presiden, tolong saya rakyat kecil diperhatikan, kemarin ada tentara yang masuk ke hunian saya merusak tanpa izin tolong pak tindak lanjut," pungkasnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
