Masyarakat tanpa Tuhan
Politik | 2026-04-05 20:37:45Di negeri ini, Tuhan tidak dihapus. Ia dipertahankan—dengan sangat rapi, sangat sopan, dan sepenuhnya tidak berbahaya.Namanya tetap disebut dalam pidato-pidato resmi, dicetak di baliho, dan disisipkan dalam setiap pembukaan acara yang disiarkan. Tidak ada yang menolak-Nya. Tidak ada yang melawan-Nya. Justru karena itu, Ia tidak lagi mengganggu siapa pun.Di sinilah keberhasilan terbesar masyarakat ini: mereka tidak perlu membunuh Tuhan seperti yang pernah dikhayalkan Friedrich Nietzsche.
Mereka cukup menempatkan-Nya di posisi yang tepat—di luar keputusan, di luar kepentingan, di luar kehidupan sehari-hari.Tuhan dijadikan latar belakang. Seperti musik di lift.Setiap pagi, orang-orang berangkat kerja dengan wajah yang telah disesuaikan. Mereka tahu kapan harus tersenyum, kapan harus mengangguk, dan kapan harus mengutip ayat yang tepat untuk memperkuat posisi mereka. Iman tidak lagi menjadi sesuatu yang dijalani, melainkan sesuatu yang digunakan.Di kantor-kantor tinggi, keputusan besar diambil dengan sangat rasional—dan sangat steril.
Tidak ada ruang untuk keraguan, apalagi untuk nurani yang terlalu berisik. Segala sesuatu harus efisien, terukur, dan menguntungkan. Jika ada yang dirugikan, itu hanya statistik. Statistik, seperti Tuhan, tidak perlu diperdebatkan.Moral di negeri ini sangat fleksibel. Ia bisa diperpanjang, dipendekkan, atau dibalik, tergantung kebutuhan. Yang penting bukan apakah sesuatu itu benar, tetapi apakah ia dapat dipertanggungjawabkan secara administratif.Dan di sini, segala sesuatu selalu bisa dipertanggungjawabkan.Rakyatnya tidak bodoh.
Mereka hanya lelah. Lelah berpikir, lelah meragukan, lelah mempertanyakan hal-hal yang tidak menghasilkan apa-apa selain kegelisahan. Maka mereka memilih untuk percaya pada hal-hal yang lebih sederhana: angka, jabatan, dan pengakuan.Kekayaan menjadi ukuran kebajikan. Kekuasaan menjadi bukti kebenaran. Dan kesenangan—betapapun dangkalnya—menjadi satu-satunya bentuk kebebasan yang masih bisa diakses tanpa izin.Hedonisme di negeri ini tidak pernah diakui secara terbuka.
Ia dibungkus dengan istilah yang lebih sopan: “penghargaan diri”, “keseimbangan hidup”, “hak individu”. Dengan begitu, tidak ada yang perlu merasa bersalah. Bahkan keserakahan pun terdengar seperti kebajikan, selama ia dikemas dengan bahasa yang tepat.Kepalsuan, tentu saja, bukan lagi masalah. Ia adalah industri.Di pasar-pasar informasi, kebenaran dijual dalam berbagai versi—disesuaikan dengan selera konsumen. Orang-orang tidak lagi mencari apa yang benar; mereka mencari apa yang cocok. Dan karena semua orang bisa menemukan versi kebenaran yang mereka sukai, tidak ada lagi alasan untuk berdebat.
Semua orang merasa benar. Dan itu sudah cukup.Barangkali inilah bentuk baru dari ramalan lama Fyodor Dostoevsky—bukan bahwa segalanya diperbolehkan, melainkan bahwa segalanya bisa dibenarkan, selama ada narasi yang mendukungnya.Narasi, di negeri ini, lebih penting daripada fakta.Ada juga para pemimpin spiritual, tentu saja. Mereka tampil dengan wajah yang meyakinkan, suara yang tenang, dan jawaban untuk hampir semua pertanyaan. Mereka tidak pernah benar-benar memaksa. Mereka hanya menawarkan kepastian—dan di dunia yang penuh ketidakpastian, itu adalah komoditas yang sangat mahal.
Majelis mereka selalu penuh.Orang-orang datang bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk mengurangi kecemasan. Mereka ingin diyakinkan bahwa hidup mereka sudah benar, bahwa pilihan mereka tidak salah, bahwa dunia masih berada dalam kendali.Dan para pemimpin itu, dengan sangat baik, memenuhi permintaan tersebut.Mereka tidak membakar apa pun. Tidak secara langsung. Mereka hanya menyalakan api kecil—cukup untuk menghangatkan, cukup untuk menerangi, dan perlahan, tanpa disadari, cukup untuk menghanguskan.
Di negeri ini, tidak ada yang merasa kehilangan Tuhan. Itu akan menjadi masalah, tentu saja, jika mereka merasa kehilangan.Namun mereka tidak.Mereka masih menyebut nama-Nya, masih merayakan hari-hari besar-Nya, masih mengutip kata-kata-Nya ketika diperlukan. Secara teknis, tidak ada yang berubah.Hanya satu hal kecil yang berbeda:tidak ada lagi yang benar-benar mendengarkan.Dan mungkin, jika ada yang cukup nekat untuk bertanya—benar-benar bertanya—ia tidak akan dihukum. Tidak perlu.Ia hanya akan dianggap tidak praktis.Di masyarakat yang sangat efisien ini, itu adalah bentuk pengucilan yang paling halus, dan paling efektif.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
