Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rival Agustina

Aku yang Hilang di Dalam Diri Sendiri

Lain-Lain | 2026-04-03 10:52:33

Belakangan ini, ada banyak orang yang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak. Mereka tetap datang ke kampus, beraktivitas seperti biasa, tertawa di depan teman-temannya, bahkan aktif di media sosial. Tapi di balik itu semua, ada rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan. Seperti hidup berjalan, tapi tidak benar-benar dirasakan.

Fenomena ini semakin sering kita temui. Banyak orang merasa lelah tanpa tahu kenapa. Bukan lelah fisik, tapi lelah karena terus menjalani sesuatu yang terasa bukan dirinya. Mereka terbiasa mengatakan “nggak apa-apa,” padahal di dalamnya sedang tidak baik-baik saja.

Yang memilukan bukan hanya karena mereka merasa kosong, tapi karena mereka mulai terbiasa dengan kekosongan itu.

Seperti seseorang yang terlalu lama berada di ruangan gelap, sampai akhirnya mengira kegelapan itu normal.

Kadang, kita tidak benar-benar hilang dari dunia. Kita masih ada, masih berfungsi, masih terlihat hidup. Tapi yang hilang adalah hubungan kita dengan diri sendiri. Kita tahu apa yang harus dilakukan, tapi tidak tahu lagi apa yang benar-benar kita rasakan.

Kita menjalani hari seperti rutinitas tanpa makna. Bangun, melakukan sesuatu, lalu tidur lagi. Semua berjalan, tapi seperti ada jarak antara diri kita dan kehidupan yang kita jalani.

Jika sebuah cermin yang seharusnya memantulkan diri kita dengan jelas. Tapi bagaimana jika cermin itu perlahan buram? Kita masih melihat bayangan, tapi tidak lagi mengenali siapa yang ada di dalamnya.

Begitu juga dengan diri kita. Kita masih “ada,” tapi tidak lagi terasa utuh.

Sering kali, kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi luar sampai lupa mendengar diri sendiri. Kita belajar menjadi versi yang diterima, bukan versi yang jujur. Kita menyesuaikan diri begitu lama, sampai akhirnya tidak tahu lagi mana yang asli.

Seperti aktor yang terus memainkan peran tanpa pernah turun dari panggung, kita mulai percaya bahwa peran itu adalah diri kita.

Padahal, jauh di dalam, ada bagian kecil yang sebenarnya tahu, "ini bukan aku".

Masalahnya, suara itu pelan. Dan kita terlalu sering menutupinya dengan kesibukan, distraksi, dan tuntutan.

Mungkin, menjadi “hilang” tidak selalu berarti tersesat jauh. Kadang, kita hanya terlalu jauh dari diri sendiri.

Dan untuk kembali, kita tidak perlu pergi ke mana-mana.

Cukup berhenti sejenak.

Mendengar tanpa distraksi. Merasakan tanpa ditutupi. Mengakui tanpa disangkal.

Karena bisa jadi, yang kita cari selama ini bukan jawaban yang rumit. Tapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Dan mungkin, di saat kita mulai berani menghadapi apa yang selama ini kita hindari kita akan sadar satu hal:

kita tidak benar-benar hilang.

Kita hanya terlalu lama tidak pulang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image