Webtoon dan Pengadilan Moral: Mengapa Kita Menghujat Korban Penindasan
Humaniora | 2026-05-05 08:16:20
Di balik layar ponsel jutaan pembaca Webtoon, sedang berlangsng sebuah pengadian moral yang brutal. Karakter Rashta dalam The Remarried Empress bukan sekadar fiksi antagonis, ia adalah cerminan bagaimana masyarakat kita memandang kemiskinan dan trauma. Kita begitu fasih menghujat “kelicikan” seorang bekas budak, namun gagap mengutuk sistem perdagangan dan eksploitasi anak yang melahirkannya. Fenomena ini menjadi alarm bahaya bagi kepekaan sosial kita.
Bagi jutaan pembaca, Rashta adalah simbol “penjahat” yang merusak rumah tangga tokoh utama. Namun, dibalik hujatan tersebut, tersimpan masalah literasi yang serius. Kita terlalu asyik membela drama asmara hingga abai pada isu konflik dan eksploitasi anak yang nyata di depan mata kita. Rashta digambarkan sebagai seorang budak yang mencoba mengubah nasibnya, namun ia sering dicap licik dan haus kekuasaan. Padahal, ia adalah potret nyata dari ketimpangan sosial yang ekstrem.
Sebagai budak yang lahir tanpa pilihan, ia tidak mendapatkan hak dasar yang seharusnya dijamin oleh negara, seperti akses Pendidikan dan penghidupan yang layak. Ketidakmampuan pemerintah dalam memeratakan kesejahteraan membuat orang-orang seperti Rashta tidak memiliki hak istimewa untuk mengakses ilmu pengetahuan yang bisa membentuk pola pikirnya. Cara-cara “buruk” yang ia lakukan sebenarnya adalah bentuk pertahanan diri dari kemiskinan yang mencekik.
Fenomena kebencian netizen ini menemukan kemiripannya dengan bagaimana masyarakat kita memandang kasus di dunia nyata. Melalui pengakuan Aurelie Moeremans pada tahun 2025 lalu tentang masa lalunya, publik tersentak oleh realitas child grooming dimana hal tersebut merupakan suatu praktik manipulasi orang dewasa terhadap anak di bawah umur. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa publik sering gagal melihat posisi korban karena dianggap “menikmati” posisi mereka. Hal yang sama terjadi pada Rashta, pembaca gagal melihat bahwa ia dimanipulasi oleh pria-pria berkuasa saat ia masih remaja dan tak berdaya.
Dalam perspektif sosiologi, masyarakat cenderung membela pihak yang memiliki status “sempurna” dan menghakimi mereka yang datang dari kelas bawah. Di Indonesia, kita sering melihat pola victim blaming pada kasus kekerasan atau pekerja kelas bawah yang dieksploitasi hanya karena mereka dianggap tidak memiliki etika yang baik. Padahal, moralist dan pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh kesempatan dan pendidikan yang ia miliki.
Ketika kita menutup mata pada trauma perbudakan karakter fiksi hanya karena ia seorang selir, kita sebenarnya sedang melanggengkan budaya tidak berempati pada mereka yang terpinggirkan secara ekonomi di dunia nyata. Jika di dalam ruang digital seperti Webtoon saja kita begitu kejam pada korban kemiskinan dan child grooming, bagaimana kita bisa benar-benar peduli pada isu serupa yang terjadi di masyarakat?
Sudah saatnya kita belajar melihat sebuah masalah melampaui sekadar “siapa yang jahat dan siapa yang baik”. Kita harus mulai bertanya apakah negara sudah cukup adil bgi mereka yang lahir tanpa apa-apa. Jangan sampai drama di layar ponsel menumpulkan rasa kemanusiaan kita yang paling mendasar. Selama kita lebih sibuk menghujat mereka yang rentan daripada menuntut keadilan sistemik, selama itu pula kita adalah bagian dari mesin penindas yang kita keluhkan di media sosial.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
