Mengapa Ketenangan Perempuan Sering Dianggap Kelemahan?
Humaniora | 2026-04-20 04:20:30
Di sebuah rapat kerja yang mulai memanas, semua orang saling memotong pembicaraan. Nada suara meninggi, argumen saling bertabrakan. Di tengah situasi itu, ada satu perempuan yang memilih diam sejenak. Ia mendengarkan, mencatat, lalu berbicara ketika suasana mulai mereda.
Alih-alih dianggap bijak, ia justru dicap kurang tegas, tidak punya sikap, bahkan terlalu lembut.
Situasi seperti ini bukan hal asing. Banyak perempuan yang memilih tenang justru sering disalahpahami. Ketenangan mereka kerap diterjemahkan sebagai kelemahan. Padahal, benarkah demikian?
Kita hidup dalam lingkungan yang masih menyimpan standar ganda. Ketika laki-laki mampu menahan emosi, ia disebut dewasa dan berwibawa. Namun ketika perempuan melakukan hal yang sama, penilaiannya bisa berbalik, dianggap pasif, tidak berani, atau kurang kompeten.
Cara pandang ini bukan hanya keliru, tapi juga menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Dalam sudut pandang Psikologi, ketenangan justru berkaitan erat dengan kemampuan regulasi emosi yakni bagaimana seseorang mengelola perasaan agar tidak bereaksi secara impulsif. Orang yang mampu tetap tenang di tengah tekanan biasanya tidak sedang tidak mampu, melainkan sedang memilih cara merespons.
Konsep ini juga sejalan dengan gagasan kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Salah satu indikatornya adalah kemampuan menahan diri, membaca situasi, dan tidak larut dalam emosi sesaat. Dengan kata lain, tetap tenang di tengah konflik justru adalah tanda kekuatan mental.
Namun sayangnya, perempuan sering kali ditempatkan dalam ekspektasi yang sempit. Mereka dianggap seharusnya ekspresif, emosional, atau reaktif. Ketika ada yang tidak sesuai dengan pola ini, misalnya memilih diam dan tenang, maka ia dianggap aneh, bahkan dicurigai.
Lebih ironis lagi, tidak sedikit perempuan yang akhirnya berada dalam dilema. Jika bersuara lantang, ia dicap terlalu emosional. Jika tenang, ia dianggap lemah. Apa pun pilihannya, tetap berisiko disalahpahami.
Padahal, dalam banyak situasi, ketenangan justru menjadi kunci. Dalam konflik keluarga, misalnya, satu orang yang mampu menahan diri sering kali mencegah masalah menjadi lebih besar. Di tempat kerja, mereka yang tidak reaktif cenderung lebih mampu mengambil keputusan secara objektif.
Tentu, penting juga untuk jujur tidak semua ketenangan lahir dari kekuatan. Ada kalanya ia muncul dari tekanan, takut dihakimi, takut tidak didengar, atau lelah menghadapi stigma. Namun di banyak kasus, ketenangan adalah hasil dari proses panjang, belajar dari pengalaman, memahami diri, dan menyadari bahwa tidak semua hal perlu direspons dengan emosi yang meledak-ledak.
Di titik ini, mungkin yang perlu kita ubah bukanlah perempuan yang tenang, melainkan cara kita memaknainya.
Karena keberanian tidak selalu hadir dalam suara yang keras. Kadang, ia justru muncul dalam bentuk yang lebih sunyi, kemampuan untuk tetap tenang saat keadaan tidak baik-baik saja.
Dan mungkin, selama ini kita terlalu sibuk mendengar siapa yang paling lantang, sampai lupa menghargai mereka yang memilih tetap tenang, bukan karena lemah, tetapi karena sudah cukup kuat untuk tidak terbawa arus.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
