Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Indonesia Kaya Tanaman Obat, Tapi Mengapa Belum Jadi Pemain Global?

Riset dan Teknologi | 2026-03-27 07:57:00

Indonesia kerap dibanggakan sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia. Dari hutan tropis hingga pekarangan rumah, ribuan tanaman telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Namun di tengah meningkatnya tren global terhadap pangan fungsional dan produk herbal berbasis sains, posisi Indonesia justru masih tertinggal sebagai pemain utama di pasar dunia.

Ilustrasi tanaman obat tradisional Indonesia. Photo by Katherine Hanlon on Unsplash

Paradoks ini semakin mencolok ketika melihat skala potensinya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkirakan nilai ekonomi obat herbal Indonesia dapat mencapai sekitar Rp 300 triliun per tahun. Di saat yang sama, Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman yang berpotensi sebagai obat, dengan lebih dari 17.000 di antaranya telah dimanfaatkan dalam praktik herbal. Angka-angka ini seharusnya menempatkan Indonesia sebagai kekuatan global. Namun realitasnya, kita masih lebih sering berperan sebagai pemasok bahan mentah dibandingkan produsen produk bernilai tinggi.

Masalah utamanya bukan pada kekurangan sumber daya, melainkan pada cara kita mengelolanya. Selama ini, pendekatan terhadap tanaman obat masih cenderung parsial. Banyak produk dinilai hanya berdasarkan satu atau dua senyawa aktif, atau bahkan sekadar mengandalkan pengalaman empiris. Pendekatan ini mungkin cukup untuk konsumsi lokal, tetapi tidak memadai untuk memenuhi standar global yang semakin ketat.

Di tingkat internasional, pengembangan produk herbal telah bergeser ke pendekatan berbasis sistem. Tanaman tidak lagi dilihat sebagai sumber satu zat aktif, melainkan sebagai jaringan kompleks ratusan hingga ribuan senyawa kimia yang bekerja secara sinergis. Teknologi seperti metabolomik memungkinkan ilmuwan untuk memetakan keseluruhan profil kimia tersebut, menghasilkan apa yang sering disebut sebagai “sidik jari kimia” suatu bahan alam. Inilah fondasi utama untuk menjamin konsistensi, keamanan, dan efektivitas produk.

Tanpa pendekatan ini, variasi yang sebenarnya alami, seperti perbedaan lokasi tumbuh, musim panen, hingga metode pengolahan, justru menjadi sumber ketidakpastian. Tanaman yang sama dapat menghasilkan efek yang berbeda, bukan karena khasiatnya berubah, tetapi karena komposisi kimianya tidak pernah benar-benar dipahami secara menyeluruh. Di sinilah banyak produk herbal gagal menembus pasar global: bukan karena tidak berkhasiat, tetapi karena tidak terstandarisasi.

Di sisi lain, persoalan hilirisasi juga belum terselesaikan. Banyak penelitian berhenti di laboratorium tanpa pernah menjadi produk yang siap pasar. Kesenjangan antara riset dan industri masih lebar. Negara-negara lain telah membangun ekosistem yang terintegrasi, menghubungkan eksplorasi biodiversitas, analisis kimia, uji biologis, hingga formulasi produk dalam satu rantai nilai yang utuh. Indonesia masih berjuang menyatukan potongan-potongan ini.

Pemerintah sebenarnya telah mulai mengambil langkah, misalnya dengan menetapkan sejumlah tanaman herbal prioritas untuk dikembangkan. Namun tanpa fondasi data yang kuat dan pendekatan ilmiah yang konsisten, upaya ini berisiko hanya menjadi program jangka pendek tanpa dampak struktural.

Sudah saatnya Indonesia mengubah cara pandang terhadap biodiversitas. Kekayaan hayati tidak lagi cukup dilihat sebagai warisan alam, tetapi harus diposisikan sebagai aset strategis berbasis pengetahuan. Ini berarti investasi tidak hanya pada budidaya, tetapi juga pada sains, mulai dari pemetaan metabolit, validasi efek biologis, hingga pengembangan teknologi pengolahan.

Jika tidak, potensi Rp 300 triliun akan tetap menjadi angka di atas kertas. Indonesia akan terus kaya sumber daya, tetapi miskin nilai tambah. Sebaliknya, dengan pendekatan yang tepat, tanaman-tanaman lokal yang selama ini dianggap biasa justru dapat menjadi fondasi industri pangan dan obat masa depan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia memiliki peluang, tetapi apakah kita berani beralih dari pendekatan tradisional menuju sistem berbasis sains. Karena dalam persaingan global hari ini, yang menentukan bukan siapa yang paling kaya sumber daya, melainkan siapa yang paling mampu mengubahnya menjadi pengetahuan, inovasi, dan produk bernilai tinggi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image