Ketika Jempol Lebih Cepat dari Pikiran dalam Penyebaran Hoaks di Era Digital
Iptek | 2026-03-25 17:00:57
Di era digital saat ini, informasi menyebar lebih cepat hanya melalui ibu jari manusia dari pikiran. Masyarakat sering menyebarkan berita tanpa berpikir dan memvalidasi kebenaran berita tersebut sehingga penyebaran hoaks menjadi lebih cepat dan tak terbendung, sehingga masyarakat lebih sering menerima informasi hoaks yang disebarkan melalui platform digital yang dapat diakses oleh siapa saja. Orang-orang yang banyak menyebarkan informasi hoaks jarang berpikir bahwa apa yang dibagikan dapat memiliki konsekuensi dan siapa yang akan terkena dampak penyebaran hoaks tersebut. Media sosial diciptakan untuk memudahkan orang mengakses berbagai jenis informasi, tetapi masyarakat tidak bijak dalam memanfaatkan media sosial. Media sosial seharusnya menjadi sumber berita yang akurat dan tervalidasi, namun, banyak orang sekarang menggunakan media sosial dengan bijak, sehingga menyebabkan penyebaran hoaks. Dengan menyebarkan informasi yang belum tervalidasi, masyarakat secara tidak langsung telah menyebarkan berita palsu atau hoaks. Penyebaran hoaks melalui platform digital saat ini dapat terjadi karena perilaku pengguna yang tidak kritis, cenderung reaktif, kurangnya literasi digital sehingga literasi digital kini menjadi suatu kebutuhan.
Menjelang Lebaran, orang-orang berbondong-bondong pulang kampung menggunakan berbagai transportasi darat, udara, dan laut. Namun, seringkali orang-orang yang tidak menghargai kesempatan tersebut memanfaatkannya untuk kepentingan segelintir orang. Banyak hoaks seperti kabar mudik gratis yang belum terverifikasi dan seringkali masyarakat langsung mempercayai berita hoaks tersebut. Dari satu jempol saja bisa menyebar berita tanpa membaca dan memverifikasi kebenarannya sehingga berita hoaks cepat menyebar dan mendapat reaksi dari masyarakat. Dari fenomena tersebut, pemerintah menginformasikan melalui (Liputan 6, 2026), yang berinformasi tentang Maraknya Hoaks Pulang Kampung dan Luar Negeri, Komdigi Meningkatkan Patroli Siber yang di dalamnya disebutkan bahwa Komdigi meningkatkan patroli siber menjelang Idul Fitri untuk memerangi penyebaran hoaks, terutama yang berkaitan dengan kabar mudik gratis, liburan, bansos, dan isu SARA. Upaya yang dilakukan meliputi literasi digital, deteksi cepat dan pemblokiran konten negatif, serta penegakan hukum terhadap pelaku. Selain itu, Komdigi juga bekerja sama dengan masyarakat untuk mendidik masyarakat agar lebih cerdas dan teliti dalam menyaring informasi. Dalam hal ini, masyarakat dan pemerintah bekerja sama untuk mengatasi berita hoaks secara bijak dengan menyaring informasi yang diperoleh.
Dikutip dari (Djulian dkk., nd) Berita hoaks memiliki dampak besar pada kehidupan masyarakat. Penyebaran hoaks dapat menyebabkan perpecahan karena memicu konflik dan membuat hubungan antar kelompok menjadi tidak harmonis. Selain itu, hoaks juga dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan lembaga lainnya. Hoaks juga sering menyebabkan rasa takut dan kecemasan, terutama ketika berkaitan dengan isu-isu penting seperti kesehatan atau bencana. Hal ini dapat membuat orang bereaksi berlebihan dan membuat keputusan yang kurang akurat. Oleh karena itu, hoaks dapat menyebabkan kecemasan, kesalahpahaman informasi, dan memengaruhi cara berpikir dan pandangan masyarakat terhadap suatu masalah. Dari fenomena dan dampak di atas, terlihat bahwa berita hoaks berdampak pada orang-orang yang ingin pulang kampung tetapi belum pulang kampung dan telah tertipu oleh informasi hoaks. Dampak hoaks itu sendiri tentu sangat serius karena informasi palsu dapat memicu berbagai masalah dan konflik yang terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, bahkan kelompok dengan kelompok dan seringkali dengan pemerintah. Hoax yang merajalela dapat merusak kepercayaan pengguna media sosial karena mereka tidak yakin dengan berita yang disebarkan, bahkan jika berita tersebut benar dan terverifikasi. Hal ini dapat menciptakan krisis kepercayaan publik sehingga menjadi berbahaya.
Di tengah kondisi ini, kita sebagai masyarakat harus bijak dan mampu memilih serta menyaring informasi yang kita terima dengan melakukan literasi digital sebagaimana dijelaskan oleh (Mujahid dkk., nd). Solusi untuk mengatasi hoaks itu sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan meningkatkan literasi digital di masyarakat. Literasi digital bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami, mengevaluasi, dan menyaring informasi dengan baik sebelum kita mempercayai dan menyebarkannya. Cari tahu terlebih dahulu kebenaran berita secara detail agar kita sebagai pengguna media sosial tidak menyebarkan kembali berita hoaks tersebut, bahkan kita dapat menghentikan informasi tersebut tanpa menyebarkannya lagi. Selain itu, masyarakat juga perlu dilatih untuk mampu berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Informasi yang diterima tidak boleh langsung dipercaya, tetapi kebenarannya harus dicek terlebih dahulu, terutama jika terlihat berlebihan. Peran pendidikan juga tentu sangat penting, baik di sekolah, kampus, maupun di keluarga. Anak-anak dan generasi muda perlu dididik sejak usia dini dalam menggunakan media sosial dengan bijak, bertanggung jawab, dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas. Selain itu, penanganan hoaks itu sendiri membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, yaitu pemerintah, kelompok masyarakat, dan masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan antara lain pendidikan berkelanjutan, penyediaan informasi yang benar, dan penegakan aturan terhadap penyebaran hoaks.
Di era digital saat ini, penyebaran informasi terjadi sangat cepat karena banyak orang lebih mengandalkan "jempol" daripada berpikir, sehingga informasi sering kali tersebar tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya. Hal ini dapat menyebabkan hoaks menyebar dengan mudah, terutama melalui media sosial yang manfaatnya sebenarnya ditujukan untuk mempermudah akses informasi, tetapi sering disalahgunakan oleh pengguna yang sering menyebarkan berita hoaks. Fenomena ini semakin terlihat pada momen-momen tertentu seperti menjelang Idul Fitri, di mana informasi palsu dapat digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan membuat masyarakat rentan tertipu. Dampak penyebaran hoaks cukup serius, seperti memicu konflik, menurunkan kepercayaan publik, serta menimbulkan kekhawatiran dan kesalahpahaman. Oleh karena itu, kesadaran diperlukan untuk lebih cerdas dalam menggunakan media sosial dengan meningkatkan literasi digital, membiasakan diri dengan sikap kritis terhadap informasi, serta peran pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dalam memberikan pendidikan dan mengurangi penyebaran hoaks. Sudah saatnya kita belajar untuk tidak selalu menyebarkan informasi dengan cepat, tetapi menjadi lebih bijak dalam menerima informasi dengan memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu. Di era digital saat ini, sentuhan ibu jari kita dapat menentukan kebenaran atau bahkan terus menyebarkan berita bohong.
Referensi:
Hoaks Pulang Kampung Gratis Tersebar, Komdigi Tingkatkan Patroli Siber (13 Maret 2026), https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/6297157/hoaks-seputar-mudik-gratis-marak-beredar-komdigi-Intkatkan-patroli-siber
Djulian, H., Saputra, DN, Utami, EP, & Ayu, H. (nd). Analisis Dampak yang Disebabkan oleh Penyebaran Berita Hoax di Era Digital .
Mujahid, I., Ghafur, WA, Islam, U., Sunan, N., Yogyakarta, K., Hidayati, DL, Dani, AA, Saifuddin, A., Zuhriya, R., Pratiwi, B., & Zulhazmi, AZ (nd). Tanpa judul .
Hilmy Nadiyah Harits
Siber UIN Syekh Nurjati Cirebon
Departemen Studi Sosial
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
