Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faiz Arvin

Bahaya Penyebaran Hoaks dan Populisme Digital dalam Membentuk Opini Publik

Politik | 2026-03-29 15:18:07

Bahaya Penyebaran Hoaks dan Populisme Digital dalam Membentuk Opini Publik

Fenomena hoaks semakin mengkhawatirkan karena sering kali dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu, terutama dalam konteks pemilu. Data menunjukkan bahwa sejak Januari 2022 terdapat setidaknya 117 isu hoaks terkait pemilu yang teridentifikasi oleh sistem pemerintah, menandakan tingginya intensitas disinformasi dalam ruang digital Indonesia. (Penelitian UPNVJ, 2024)

Selain hoaks, muncul pula fenomena populisme digital, yaitu strategi politik yang memanfaatkan media sosial untuk membangun narasi emosional, anti-elit, dan sering kali berbasis informasi yang belum terverifikasi. Kombinasi antara hoaks dan populisme digital ini menciptakan tantangan serius bagi pembentukan opini publik yang rasional dan berbasis fakta. (Jurnal AICCON, 2025)

Hoaks didefinisikan sebagai informasi yang salah atau menyesatkan yang disebarkan secara sengaja untuk mempengaruhi persepsi publik. Dalam konteks politik, hoaks sering digunakan untuk menjatuhkan lawan politik atau membangun citra tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa hoaks berkembang secara sistemik akibat interaksi antara faktor individu, algoritma media sosial, dan kebijakan publik. (Media Akademik, 2025)

Populisme digital, di sisi lain, merupakan bentuk adaptasi populisme dalam era teknologi informasi. Strategi ini memanfaatkan media sosial untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat, sering kali dengan menyederhanakan isu kompleks dan menyebarkan narasi yang provokatif. Hal ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang cenderung mempromosikan konten viral dibandingkan konten faktual. (Jurnal Mudabbir, 2025)

Literatur juga menunjukkan bahwa rendahnya literasi digital menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran hoaks. Sebuah penelitian menemukan bahwa tingkat literasi digital memiliki hubungan signifikan dengan kemampuan individu dalam mengenali dan menghindari hoaks, dengan korelasi sebesar 0,577. (JRJMD, 2024)

Penyebaran hoaks di era digital terjadi secara masif melalui media sosial, dengan sekitar 70% hoaks tersebar melalui platform seperti Facebook dan WhatsApp. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi medium utama dalam distribusi disinformasi. (Sarjito, 2024)

Hoaks memiliki kemampuan untuk membentuk opini publik secara signifikan, terutama ketika tidak diimbangi dengan klarifikasi yang memadai. Opini publik yang terbentuk dari hoaks cenderung bersifat negatif dan menyesatkan, sehingga berpotensi menciptakan polarisasi sosial. (Jurnal AICCON, 2025)

Lebih jauh, penyebaran hoaks juga berdampak pada menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dan institusi demokrasi. Hal ini dapat mengancam stabilitas politik dan ketahanan nasional, terutama dalam situasi krisis seperti pemilu atau pandemi. (Sarjito, 2024)

Literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi penyebaran hoaks dan populisme digital. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital dapat membantu individu dalam mengevaluasi informasi secara kritis dan mengurangi penyebaran hoaks. (Telkom University, 2025)

Namun, upaya ini perlu didukung oleh kebijakan yang komprehensif, termasuk regulasi platform digital dan kolaborasi antara pemerintah, media, dan masyarakat. Tanpa pendekatan yang holistik, penyebaran hoaks akan terus menjadi ancaman serius bagi demokrasi digital. (Media Akademik, 2025)

Sumber:

• Sarjito, A. (2024). Hoaks, Disinformasi, dan Ketahanan Nasional. Journal of Governance and Local Politics (JGLP), 6(2), 175-186.

• Ashsiddiqie, A. Z. S. dkk. (2025). Pemberitaan Hoaks Politik di Youtube Redaksi TV Terhadap Opini Publik pada Pemilu 2024. Journal Research and Education Studies, 5(2), 411-420.

• Media Akademik. (2025). Bahaya Hoaks di Era Digital dan Upaya Strategis. jurnal.mediaakademik.com. https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/download/4066/3075/11335 (diakses pada 29 Maret 2026)

• Ramadinta, S., Salma, N. A. (2025). Pengaruh Literasi Digital Terhadap Perilaku Penyebaran Berita Hoax Di Kalangan Gen Z Pengguna Tiktok Di DKI Jakarta. 12(5), 5673-5682.

• Wijaya, A. (2025). Public Sphere vs Hoax Sphere: Menghadirkan HABERMAS Di Tengah Fenomena Hoaks Politik. Proceedings of the 5th ASPIKOM International Communication Conference, 1-14.

• Wulandari, D. C. (2024). Analisis Pesan Konten Hoaks #Pemilu2024 Pada Media Sosial Tiktok. Jakarta. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.

• Illahi, M. S., Gani, R. (2024). Hubungan Literasi Media Digital dengan Penyebaran Hoax di Kalangan Generasi Z. Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital, 4(2), 183-188.

https://diskominfo.gresikkab.go.id/detailpost/stop-hoax-budayakan-baca-dan-cek-fakta

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image