Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M.Yusuf Ismail

Perspektif Mahasiswa Exchange tentang Pendidikan Malaysia dan Indonesia

Pendidikan dan Literasi | 2026-03-20 20:53:00
Author at INTI International University

Saya Muhamad Yusuf Ismail, yang merupakan mahasiswa President University, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program study exchange di INTI International University, Malaysia, melalui program partner scholarship mobility program. Dan tentu aja kesempatan ini menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan kuliah saya. Selama kurang lebih lima bulan belajar di sana, saya tidak hanya fokus pada materi perkuliahan, tapi juga mulai melihat langsung bagaimana sistem pendidikan yang berbeda bisa membentuk cara berpikir kita sebagai mahasiswa. Awalnya saya mengira perbedaan antara Indonesia dan Malaysia tidak akan terlalu terasa, mengingat kedekatan budaya di kawasan Asia Tenggara. Namun, setelah menjalani dan merasakannya sendiri, ternyata ada cukup banyak hal yang berbeda.

Perbedaan pertama yang paling terasa adalah suasana belajar di kelas. Di Malaysia, proses pembelajaran terasa lebih interaktif dan terbuka. Dosen tidak hanya menjelaskan materi, tetapi juga aktif mengajak mahasiswa untuk berdiskusi, karena dikampus saya sendiri, pembelajaran dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi Tutorial dan sesi lecturer. Dimana pada sesi Tutorial, Mahasiswa didorong untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi dan presentasi pada setiap sesi pertemuan. Hal ini membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan mendorong saya untuk lebih berani berbicara. Sebaliknya, pengalaman saya di Indonesia menunjukkan bahwa suasana kelas masih cenderung lebih formal dan berpusat pada dosen. Diskusi tetap ada, tetapi tidak selalu berjalan aktif. Banyak mahasiswa, termasuk saya sebelumnya, masih merasa ragu untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.

Selain itu, sistem penilaian juga menjadi hal yang cukup berbeda. Di Malaysia, nilai akhir tidak hanya ditentukan oleh ujian, tetapi juga oleh berbagai komponen seperti assignment, presentasi, kerja kelompok, dan partisipasi di kelas. Hal ini membuat saya harus belajar secara konsisten sejak awal semester. Sementara di Indonesia, meskipun sudah mulai menerapkan sistem penilaian yang lebih beragam, ujian masih sering menjadi faktor utama dalam menentukan nilai akhir. Perbedaan ini cukup memengaruhi cara mahasiswa dalam mengatur strategi belajar.

Lingkungan kampus di Malaysia juga memberikan pengalaman yang berbeda. Suasananya lebih internasional karena banyak mahasiswa dari berbagai negara. Meskipun kampus saya di Indonesia juga merupakan kampus Internasional, jadi untuk hal ini, tidak ada banyak perbedaan untuk beradptasi kembali. Interaksi dengan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda membuat saya belajar untuk lebih terbuka dan memahami perspektif lain. Namun, pengalaman ini juga membuat saya semakin menghargai sistem pendidikan di Indonesia. Saya melihat bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan terbiasa menghadapi berbagai tantangan. Ini menjadi keunggulan tersendiri yang tidak bisa diabaikan.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa tidak ada sistem pendidikan yang benar-benar sempurna. Setiap negara memiliki pendekatan masing-masing dalam membentuk mahasiswanya. Malaysia unggul dalam sistem yang interaktif dan konsisten, sementara Indonesia memiliki kekuatan dalam membentuk mahasiswa yang lebih fleksibel. Pada akhirnya, pengalaman study exchange ini tidak hanya memberikan saya pengetahuan baru, tetapi juga mengubah cara saya melihat pendidikan. Belajar bukan hanya soal nilai, tetapi tentang bagaimana kita berkembang sebagai individu. Saya percaya bahwa pengalaman seperti ini penting untuk dicoba oleh lebih banyak mahasiswa Indonesia. Dengan melihat sistem pendidikan di negara lain, kita bisa mendapatkan perspektif baru dan bahkan membawa perubahan positif bagi pendidikan di Indonesia di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image