Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Edhitya Didit

Analisis Pengaruh Kompensasi Berbasis Kinerja terhadap Retensi Talenta di Era Digital

Eduaksi | 2026-04-21 14:49:57

Edhitya dwi prasetyo, Agung Zulfikri, S.M., M.M.

Email Korespondensi: Agung Zulfikri, S.M., M.M.

ABSTRAK

Kompensasi stratejik merupakan salah satu elemen penting dalam manajemen sumber daya manusia yang berperan dalam meningkatkan retensi talenta, terutama di era digital yang ditandai dengan tingginya mobilitas tenaga kerja dan persaingan antar organisasi.

Permasalahan utama yang dihadapi perusahaan saat ini adalah tingginya tingkat turnover karyawan meskipun telah menerapkan sistem kompensasi yang kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompensasi berbasis kinerja terhadap retensi talenta serta mengidentifikasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan sistem kompensasi tersebut.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur, melalui pengumpulan data dari jurnal ilmiah, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kompensasi berbasis kinerja memiliki pengaruh positif terhadap motivasi dan kepuasan kerja karyawan, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan retensi. Namun demikian, kompensasi finansial saja tidak cukup untuk mempertahankan karyawan dalam jangka panjang tanpa didukung oleh faktor non-finansial seperti lingkungan kerja, pengembangan karir, dan keseimbangan kehidupan kerja.

Dengan demikian, organisasi perlu mengembangkan strategi kompensasi yang holistik melalui pendekatan total rewards untuk meningkatkan loyalitas dan keberlanjutan sumber daya manusia.

Latar Belakang

Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan pola kerja dan dinamika

pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi. Perubahan ini tidak hanya berdampak

pada proses operasional perusahaan, tetapi juga mempengaruhi preferensi serta harapan

karyawan terhadap lingkungan kerja. Di era digital, karyawan cenderung lebih dinamis, memiliki

tingkat mobilitas tinggi, serta menginginkan fleksibilitas kerja, peluang pengembangan diri, dan

keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kondisi ini memicu meningkatnya

persaingan antar organisasi dalam mempertahankan tenaga kerja berkualitas, yang sering

dikenal dengan istilah talent war.

Salah satu permasalahan yang menonjol dalam konteks tersebut adalah tingginya tingkat

perpindahan karyawan atau turnover. Tingginya angka turnover dapat menimbulkan berbagai

konsekuensi bagi organisasi, seperti meningkatnya biaya perekrutan dan pelatihan,menurunnya efisiensi kerja, serta terganggunya keberlangsungan operasional perusahaan. Oleh

karena itu, kemampuan organisasi dalam mempertahankan talenta menjadi faktor kunci dalam

menjaga keberlanjutan dan daya saing perusahaan.

Dalam upaya meningkatkan retensi karyawan, kompensasi stratejik memegang peranan

penting. Kompensasi tidak hanya dipahami sebagai imbalan finansial, tetapi juga sebagai alat

manajerial yang dapat mempengaruhi motivasi, kepuasan kerja, dan komitmen karyawan. Salah

satu bentuk kompensasi yang banyak diterapkan adalah kompensasi berbasis kinerja

(performance-based compensation), yaitu sistem pemberian imbalan yang disesuaikan dengan

pencapaian kinerja individu maupun kelompok.

Penerapan sistem kompensasi berbasis kinerja diyakini dapat mendorong peningkatan

produktivitas karena adanya hubungan langsung antara kontribusi dan penghargaan yang

diterima. Namun, dalam praktiknya, sistem ini tidak selalu mampu memberikan dampak

optimal terhadap retensi karyawan. Beberapa organisasi yang telah menerapkan kompensasi

berbasis kinerja tetap menghadapi tingkat turnover yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa

faktor finansial saja belum cukup untuk memastikan karyawan bertahan dalam jangka panjang.

Selain kompensasi, terdapat faktor lain yang turut mempengaruhi keputusan karyawan untuk

tetap bekerja dalam suatu organisasi, salah satunya adalah kepuasan kerja. Kepuasan kerja

mencerminkan sejauh mana karyawan merasa nyaman dan puas terhadap pekerjaan yang

dijalankan. Dalam hal ini, kepuasan kerja dapat berperan sebagai variabel mediasi yang

memperkuat hubungan antara kompensasi dan retensi karyawan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. 2. Apakah kompensasi berbasis kinerja berpengaruh terhadap retensi talenta?

Apakah kepuasan kerja memediasi hubungan antara kompensasi berbasis kinerja dan

retensi talenta?

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. 2. Menganalisis pengaruh kompensasi berbasis kinerja terhadap retensi talenta

Menguji peran kepuasan kerja sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara kompensasi dan

retensi karyawanManfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu manajemen

sumber daya manusia, khususnya dalam kajian kompensasi stratejik dan retensi karyawan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan dalam merancang sistem

kompensasi yang efektif dan mampu meningkatkan retensi karyawan di era digital.

TINJAUAN PUSTAKA

Kompensasi Berbasis Kinerja

Kompensasi berbasis kinerja (performance-based compensation) merupakan sistem pemberian

imbalan yang didasarkan pada hasil kerja atau kontribusi individu maupun kelompok dalam

organisasi. Menurut Mondy dan Martocchio (2016), kompensasi berbasis kinerja adalah bentuk

penghargaan yang diberikan kepada karyawan berdasarkan pencapaian target atau standar

kinerja yang telah ditetapkan. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi, produktivitas,

serta kinerja karyawan secara keseluruhan.

Secara umum, kompensasi berbasis kinerja dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Kompensasi Finansial

Kompensasi yang diberikan dalam bentuk uang atau nilai ekonomi, seperti:

o Bonus kinerja

o Insentif

o Komisi

o Tunjangan berbasis prestasi

2. Kompensasi Non-Finansial

Kompensasi yang tidak berbentuk uang, tetapi memberikan nilai bagi karyawan, seperti:

o Pengakuan (recognition)

o Penghargaan

o Fleksibilitas kerja

o Kesempatan pengembangan karir

Penerapan kompensasi berbasis kinerja diharapkan dapat menciptakan hubungan yang jelas

antara usaha, kinerja, dan imbalan yang diterima oleh karyawan.Hubungan Antar Variabel

Hubungan antara variabel dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. 2. 3. Kompensasi Berbasis Kinerja → Retensi Talenta

Penelitian Terera dan Ngirande (2014) menunjukkan bahwa kompensasi memiliki

pengaruh signifikan terhadap retensi karyawan. Karyawan yang merasa mendapatkan

imbalan yang adil cenderung memiliki loyalitas yang lebih tinggi.

Kompensasi Berbasis Kinerja → Kepuasan Kerja

Kompensasi yang sesuai dengan kinerja dapat meningkatkan kepuasan kerja karena

karyawan merasa dihargai atas kontribusinya.

Kepuasan Kerja → Retensi Talenta

Karyawan yang memiliki tingkat kepuasan kerja tinggi cenderung memiliki keinginan

untuk tetap bekerja dalam organisasi dan memiliki tingkat turnover intention yang

rendah.

Dengan demikian, kepuasan kerja berperan sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara

kompensasi berbasis kinerja dan retensi talenta

Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja merupakan kondisi emosional yang mencerminkan perasaan karyawan

terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Kepuasan kerja menunjukkan sejauh mana karyawan

merasa nyaman, dihargai, dan terpenuhi kebutuhannya dalam lingkungan kerja.

Dalam penelitian ini, kepuasan kerja berperan sebagai variabel mediasi, yaitu variabel yang

menjembatani hubungan antara kompensasi berbasis kinerja dan retensi talenta. Artinya,

kompensasi yang baik akan meningkatkan kepuasan kerja, dan kepuasan kerja tersebut akan

mendorong karyawan untuk tetap bertahan dalam organisasi.

Retensi Talenta

Retensi talenta merupakan kemampuan organisasi dalam mempertahankan karyawan yang

memiliki kompetensi dan kontribusi tinggi terhadap perusahaan. Menurut Kossivi et al. (2016),

retensi karyawan adalah serangkaian strategi yang dilakukan organisasi untuk mengurangi

tingkat turnover dan meningkatkan loyalitas karyawan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi karyawan meliputi:

 Kompensasi dan benefit Kepuasan kerja

 Lingkungan kerja

 Hubungan dengan atasan dan rekan kerja

 Peluang pengembangan karir

 Work-life balance

Retensi talenta menjadi aspek penting karena keberhasilan organisasi sangat bergantung pada

keberlanjutan sumber daya manusia yang berkualitas.

Hubungan Antar Variabel

 Kompensasi → Retensi

 Kompensasi → Kepuasan kerja

 Kepuasan kerja → Retensi

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data

diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan. Analisis dilakukan

secara deskriptif untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kompensasi berbasis kinerja memiliki

kontribusi penting dalam meningkatkan retensi talenta. Namun, pengaruh tersebut tidak terjadi

secara langsung, melainkan melalui peran kepuasan kerja sebagai variabel yang menjembatani

hubungan tersebut. Karyawan yang memperoleh kompensasi yang adil dan sesuai dengan

kinerjanya cenderung memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan

komitmen dan keinginan untuk tetap bertahan dalam organisasi.

Sebaliknya, apabila sistem kompensasi tidak dirancang secara tepat dan tidak memenuhi

harapan karyawan, maka dapat menimbulkan ketidakpuasan yang berpotensi meningkatkan

tingkat turnover. Oleh karena itu, organisasi tidak hanya perlu fokus pada aspek finansial, tetapi

juga harus memperhatikan faktor non-finansial yang mendukung kesejahteraan dan

perkembangan karyawan.

Dengan demikian, penerapan strategi kompensasi yang terintegrasi melalui pendekatan total

rewards menjadi langkah yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya manusia

serta meningkatkan daya saing organisasi di era digital.DAFTAR PUSTAKA

Allen, D. G., Bryant, P. C., & Vardaman, J. M. (2010).

Retaining talent: Replacing misconceptions with evidence-based strategies. Academy of

Management Perspectives, 24(2), 48–64.

Bibi, P., Ahmad, A., & Majid, A. H. A. (2018).

The impact of training and development and supervisor support on employee retention. Cogent

Business & Management, 5(1), 1–12.

Chew, J., & Chan, C. C. A. (2008).

Human resource practices, organizational commitment and intention to stay. International

Journal of Manpower, 29(6), 503–522.

Iqbal, N., Anwar, S., & Haider, N. (2017).

Impact of compensation on employee performance. International Journal of Business and Social

Science, 8(4), 1–8.

Kossivi, B., Xu, M., & Kalgora, B. (2016).

Study on determining factors of employee retention. Open Journal of Social Sciences, 4(5), 261–

268.

Malik, M. E., Danish, R. Q., & Munir, Y. (2010).

The impact of pay and promotion on job satisfaction. Interdisciplinary Journal of Contemporary

Research in Business, 2(3), 1–7.

Mondy, R. W., & Martocchio, J. J. (2016).

Human Resource Management (14th ed.). Pearson Education.

Nawaz, N., Shah, S. A. A., & Khan, K. (2014).

Impact of employee motivation on employee retention. International Journal of Business and

Management, 9(5), 1–8.

Terera, S. R., & Ngirande, H. (2014).

The impact of rewards on job satisfaction and employee retention. Mediterranean Journal of

Social Sciences, 5(1), 481–487.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image