Dosa yang Terasa Ringan, Dampaknya Tak Main-main
Khazanah | 2026-04-21 11:28:03Ada obrolan yang awalnya terasa biasa saja—sekadar berbagi cerita, melepas penat, atau mengisi waktu luang. Tapi tanpa disadari, arah pembicaraan pelan-pelan berubah. Nama seseorang disebut, kekurangannya dibuka, lalu disambut tawa atau komentar yang kian tajam. Kita sering tidak merasa sedang berbuat salah. Padahal, bisa jadi di situlah amal kita terkikis sedikit demi sedikit.
Ghibah kerap dianggap sepele. Terlalu sering dilakukan, terlalu ringan dirasakan. Lidah mudah mengungkap aib orang lain, jari-jari pun lincah menuliskannya di media sosial. Seolah tidak ada beban. Padahal, dalam ajaran Islam, ghibah bukan dosa kecil. Ia disebut langsung dalam Al-Qur’an dengan gambaran yang sangat keras.
Allah mengingatkan dalam Surat Al-Hujurat ayat 12: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini tidak hanya melarang, tapi juga menghadirkan perumpamaan yang menggetarkan: menggunjing diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Bayangan itu saja sudah cukup membuat siapa pun merasa jijik. Tapi justru di situlah letak peringatannya—sesuatu yang terasa “biasa” di dunia, ternyata sangat buruk di sisi Allah.
Para ulama menyebut, salah satu ciri dosa besar adalah adanya ancaman tegas dalam Al-Qur’an. Ghibah masuk dalam kategori itu. Namun persoalannya, banyak orang belum benar-benar memahami batasannya. Akibatnya, ghibah terus terjadi tanpa rasa bersalah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan dengan sangat jelas. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.” Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar?” Rasulullah menjawab, “Jika benar, itulah ghibah. Jika tidak benar, maka itu fitnah.”
Penjelasan ini menutup celah pembenaran yang sering kita gunakan. Bukan soal benar atau tidaknya isi pembicaraan, tetapi apakah orang yang dibicarakan akan menyukainya jika mendengar. Jika tidak, maka itu sudah termasuk ghibah.
Kisah yang melibatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha juga memberi gambaran yang halus tapi tegas. Suatu ketika ia menyebut seorang wanita dengan mengatakan bahwa wanita itu pendek. Rasulullah langsung menegur. Bukan karena informasi itu salah, tetapi karena ucapan tersebut bisa melukai jika didengar oleh orang yang dimaksud. Dari sini terlihat, ghibah tidak selalu berupa celaan kasar—bahkan komentar yang tampak ringan pun bisa termasuk di dalamnya.
Bahaya ghibah tidak berhenti pada dosa semata. Ia juga merusak hubungan sosial, menumbuhkan prasangka, dan membuka pintu permusuhan. Dalam riwayat lain, Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang sibuk mencari aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya, bahkan ketika ia berusaha menutupinya rapat-rapat.
Yang menarik—sekaligus mengkhawatirkan—ghibah sering terasa “nikmat”. Ada sensasi puas saat membicarakan kekurangan orang lain, seolah-olah kita sedang berada di posisi lebih baik. Para ulama menjelaskan, itulah salah satu tipu daya setan. Imam Al-Ghazali pernah mengibaratkan, seakan-akan setan “memaniskan” ghibah agar manusia terus melakukannya tanpa merasa bersalah.
Kisah yang dinisbatkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam menggambarkan hal ini dengan simbolik. Diceritakan, Iblis membawa madu di satu tangan dan abu di tangan lainnya. Madu itu akan dioleskan ke bibir orang-orang yang gemar ghibah agar mereka merasa manis saat melakukannya. Sementara abu digunakan untuk membuat manusia membenci pihak lain. Pesannya jelas: ghibah bukan sekadar dosa pribadi, tapi juga alat untuk merusak hubungan antar manusia.
Karena itu, kewaspadaan menjadi kunci. Ghibah sering muncul dalam suasana santai, obrolan ringan, atau bahkan diskusi yang awalnya serius. Tanpa kontrol, ia menyusup begitu saja. Yang diperlukan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kesadaran untuk menahan diri—memilih diam ketika pembicaraan mulai mengarah pada membuka aib orang lain.
Jika terlanjur, pintu taubat tetap terbuka. Mengakui kesalahan, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha tidak mengulanginya adalah langkah yang harus diambil. Dalam beberapa kondisi, meminta maaf kepada orang yang digunjingkan juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral.
Pada akhirnya, ghibah bukan sekadar soal ucapan, tetapi cerminan dari hati. Ia menunjukkan bagaimana kita memandang orang lain—apakah dengan empati atau justru dengan merendahkan. Menjaga lisan berarti menjaga amal. Dan di tengah kehidupan yang makin terbuka seperti sekarang, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jari kita dari menulis sesuatu yang kelak akan kita sesali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
