Palestina Tanah yang Dijanjikan kepada Siapa
Sejarah | 2026-03-15 07:49:40
Al-Qur’an Surah Al-Mā’idah ayat 24 :
> قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
Mereka berkata: “Wahai Musa! Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selama mereka (orang-orang yang kuat itu) ada di dalamnya. Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menunggu di sini saja.”
Bani Israil yang dibebaskan Musa dari perbudakan Mesir diperintahkan Allah untuk memasuki tanah suci.Namun, ketika mendengar bahwa negeri itu dihuni oleh kaum yang gagah dan kuat, mereka takut dan menolak.
Mereka malah bersikap lancang, dan menyuruh Musa dan Allah saja yang berperang, sementara mereka duduk santai menunggu.
Sikap ini menunjukkan kelemahan iman, rasa takut berlebihan, serta pembangkangan terhadap perintah Allah.
Menurut tafsir, ucapan ini adalah bentuk penolakan keras Bani Israil terhadap jihad, padahal Allah sudah menjanjikan kemenangan bila mereka taat. Akibatnya, Allah menghukum mereka dengan tersesat di padang Tih selama 40 tahun, sampai generasi yang takut itu musnah.
Sikap Bani Israil di zaman Musa (QS. Al-Mā’idah: 24)
- Takut menghadapi musuh yang gagah.
- Berkata lancang: “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah. Kami duduk saja.”
- Enggan berjihad meskipun Allah sudah menjanjikan kemenangan.
- Akhirnya dihukum 40 tahun tersesat di padang Tih.
Bandingkan dengan sikap para Sahabat di zaman Nabi Muhammad ﷺ (Perang Badar)
Kondisinya mirip :
Pasukan Muslim sangat kecil (sekitar 313 orang), persenjataan minim.
Lawan Quraisy Makkah jauh lebih banyak dan lengkap persenjataannya.
Tetapi reaksi sahabat berbeda total :
1. Perkataan al-Miqdād bin ‘Amr
“Wahai Rasulullah, janganlah engkau berkata seperti perkataan kaum Musa kepada Musa: ‘Pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah, kami akan duduk.’Tetapi kami berkata, Pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah, kami akan berperang bersamamu.”(HR. Bukhari & Muslim)
2. Dukungan kaum Anshar (Sa‘d bin Mu‘ādz)
Saat Nabi ﷺ ingin memastikan kesediaan Anshar, Sa‘d bin Mu‘ādz berkata,“Seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, niscaya kami pun akan terjun bersamamu. Kami tidak akan berkata seperti perkataan Bani Israil kepada Musa. Tetapi kami katakan, Pergilah engkau bersama Tuhanmu, kami bersama engkau berperang.”
3. Hasilnya
Dengan iman dan keberanian, kaum Muslim meraih kemenangan besar di Badar, meski secara jumlah kalah jauh.
Allah menurunkan pertolongan malaikat (QS. Al-Anfāl: 9–10).
Perbandingan Bani Israil (BI) vs Sahabat Nabi ﷺ (SHBT)
Reaksi perintah jihad :
(BI) Menolak, takut, lancang
(SHBT) Mendukung penuh, berani
(BI) Perkataan “Engkau & Tuhanmu berperang saja”
(SHBT) “Kami ikut bersamamu, wahai Rasulullah”
(BI) Iman Lemah, ragu pada janji Allah
(SHBT) IMAN Kuat, yakin pada pertolongan Allah
(BI) Akibatnya Tersesat 40 tahun
(SHBT) Menang meski kecil jumlahnya
Hikmah,
Umat yang taat dan yakin pada pertolongan Allah akan dimuliakan, walau lemah secara duniawi.
Umat yang takut, pasif, dan meremehkan perintah Allah akan terhina, meski memiliki jumlah besar.
Mengacu pada Al quran dan informasi di atas maka fakta sekarang ini adalah tanah Palestina sedang di kuasai Bani Israel, apakah itu sesuai dengan Al Quran ?
1. Janji Allah kepada Bani Israil
Dalam Taurat dan juga disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah menjanjikan tanah suci (Palestina) kepada Bani Israil bila mereka beriman dan taat.
QS. Al-Mā’idah : 21, Musa berkata :“Wahai kaumku ! Masuklah ke tanah suci yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan janganlah kamu berbalik kebelakang, nanti kamu rugi.”
Jadi janji itu bersyarat, bukan janji mutlak tanpa syarat.
2. Penolakan & Pembangkangan Bani Israil
Mereka menolak masuk karena takut melawan kaum yang kuat.
Bahkan berkata lancang: “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, kami duduk di sini.” (QS. Al-Mā’idah: 24).
Akibatnya Allah menghukum: “(Allah berfirman:) Sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama 40 tahun, mereka akan tersesat di bumi.” (QS. Al-Mā’idah: 26).
Artinya janji Allah kepada mereka dibatalkan untuk generasi yang durhaka.
3. Konsep “Tanah yang Dijanjikan” dalam Islam
Dalam perspektif Al-Qur’an, tanah itu hanya dijanjikan bagi kaum yang beriman dan taat, bukan otomatis karena garis keturunan.
Setelah Bani Israil melanggar perjanjian, Allah mengangkat kenabian dari keturunan lain (keturunan Ismail, yaitu Nabi Muhammad ﷺ).
Umat Nabi Muhammad ﷺ kemudian menjadi umat yang mewarisi amanah (QS. Al-Anbiyā’: 105).
“Dan sungguh, telah Kami tulis dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Lauh Mahfuzh: Bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”
Kesimpulan
Tanah suci pernah dijanjikan kepada Bani Israil → tapi bersyarat.
Karena mereka membangkang, janji itu dicabut.
Bangsa yang mendiami palestina adalah Bangsa Kanaan (sekitar 3000–1200 SM).Penduduk paling awal yang diketahui adalah bangsa Kanaan (Canaanites).Mereka tinggal di kota-kota seperti Yerikho dan Gaza.Wilayah itu dikenal sebagai Tanah Kanaan dalam kitab kuno.
Selanjut nya berbagai bangsa hidup disana seperti kerajaan Yehuda, Babylonia (586 SM), Persian Empire, Greek Empire, Roman Empire, Umayyad Caliphate, Abbasid Caliphate, Ottoman Empire dan setelah runtuhnya Ottoman pada Perang Dunia I, wilayah ini dikelola oleh Inggris melalui, British Mandate for Palestine.
Pada periode ini terjadi imigrasi besar orang Yahudi ke Palestina.Akhirnya pada tahun 1948 berdiri negara Israel.Peristiwa ini menyebabkan konflik besar dengan bangsa Palestina.
Dalam Islam, Palestina tidak dimiliki eksklusif oleh satu etnis, tetapi Allah menegaskan bahwa bumi diwarisi oleh orang-orang beriman yang shalih.
Maka, yang berhak atas tanah suci adalah mereka yang bertaqwa dan menaati Allah, bukan karena suku/keturunan.
Sekarang kembali kepada kita, apakah kita mengikuti Bani Israel yang Membangkang perintah Allah SWT atau kita mengikuti para Sahabat ketika datang perintah Allah SWT ?
Rasulullah ﷺ bersabda :
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ، كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ». فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ(HR. Abu Dawud no. 4297, Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Rasulullah ﷺ bersabda:“Hampir saja bangsa-bangsa lain akan mengerumuni kalian, sebagaimana orang-orang lapar mengerumuni hidangan.”Seseorang bertanya : “Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?”Beliau menjawab : “Bahkan kalian pada waktu itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari hati musuh terhadap kalian, dan Allah meletakkan dalam hati kalian al-wahn.”Seseorang bertanya : “Apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab : “Cinta dunia dan takut mati.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
