Thrifting Itu Candu, Ketika Bekas Jadi Berkelas (Tapi Beresiko)
Lifestyle | 2026-04-13 20:03:10“Pengen tampil modis tapi kantong lagi kering?, Thrifting solusinya”
https://img.antaranews.com/cache/1200x800/2020/04/13/IMG_2633.jpg.webp " />
Trend Fashion terus berkembang seiring berjalannya waktu, di ruang publik tidak sedikit masyarakat menjadikan fashion sebagai media ekspresi diri mereka. Lebih dari sekedar tren rambut dan busana, fashion kini menjadi status sosial bagi generasi muda, dari interaksi sosial lahirlah gaya hidup sebagai wujud dari sikap seseorang yang memaknai perjalanan hidupnya. Kembali berbicara mengenai fashion, pertama kali yang muncul dalam pikiran adalah pakaian, kini pakaian sudah menjadi trend dan tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan primer, melainkan sebagai media menyebarkan diri. Pakaian yang kita gunakan untuk beraktivitas di rumah dengan pakaian yang kita gunakan untuk beraktivitas diluar pastinya berbeda, seringkali seseorang memiliki gaya yang “jomplang” ketika berada di luar rumah, tiba-tiba modis dengan berbagai printilan di badan membuat seseorang terlihat stand out begitu melangkah keluar rumah.
Media massa memegang peranan besar dalam dunia fashion, dapat dilihat dari banyak media yang memberikan inspirasi atau referensi yang menampilkan fashion yang sedang populer saat ini. Berbicara mengenai fashion yang sedang populer, banyak masyarakat yang berdiskusi mengenai thrifting . Thrifting berasal dari bahasa Inggris yang berarti penghematan, namun banyak orang yang mengartikan Thrifting sebagai aktivitas membeli barang bekas dengan harga yang relatif murah dan biasanya akan dijual kembali. Kerap dianggap sebagai limbah tekstil dunia, kini fenomena Thrifting mampu mengepakan sayap membangun perekonomian rakyat Surabaya dan menggeser kepatuhan masyarakat pada pecinta fast fashion.
Thrifting kini menjadi tempat eksplor fashion dengan model yang unik dan jarang ditemui di fashion lain, seperti baju dengan gaya tahun 90's kini marak kembali dan Thrifting menyajikan barang tersebut sehingga mempermudah seseorang yang memiliki selera fashion tahun 90-an. Siklus yang disajikan mengacu pada fashion beberapa tahun silam, seperti denim yang dulunya disimbolkan sebagai pemberontakan pada tahun 70-an kini menjadi populer.
Konsumen Thrifting rata-rata memiliki gaya yang unik, dimana mereka memadupadankan pengaturan yang jika dipakai akan langsung menarik perhatian orang lain, thrifting memberikan kesempatan besar bagi seseorang yang suka dengan gaya “nyeleneh” dan bisa bernostalgia dengan fashion vintage. Di Indonesia kegiatan Thrifting menjadi populer di kalangan masyarakat sejak beberapa tahun ini, khususnya kalangan muda yang suka mencoba hal baru.
Thrifting yang semula dianggap sebagai hal yang melirik karena membeli barang bekas dengan harga sangat murah dan biasanya diperuntukan bagi masyarakat golongan menengah ke bawah kini berbanding terbalik, dimana masyarakat mencari permata tersembunyi saat sedang Thrifting . Anak muda sekarang lebih meminati Thrifting , karena terdapat anggapan bahwa Thrifting dapat menghemat pengeluaran mereka dalam membeli pakaian juga harga yang ditawarkan dari Thrifting sangat terjangkau dan cenderung jarang dimiliki atau limited edition berbeda dengan produk yang proses produksinya dilakukan secara masal.
Daya tarik utama dari Thrifting adalah harga terjangkau. Pemicu rasa tertarik pada produk Thrifting selain harganya yang terjangkau juga terdapat beberapa produk yang memiliki brand ternama dan terlihat mewah, jika barang yang memiliki nilai tinggi berhasil maka didapat bisa dikatakan sebagai jackpot, karena harga yang ditawarkan bisa saja jauh dari harga jual barunya.
Thrifting dapat menjadi pemasukan keuangan utama bagi para penjualnya, di Kota Surabaya tepatnya di Gembong banyak terdapat penjual baju bekas dengan harga yang terjangkau, seperti di gembong asih, salah satu penjual Thrifting menjual baju-bajunya dengan harga Rp. 5000 per baju dengan model baju yang terbilang bagus dan masih pantas untuk dipakai kembali. Penjual baju bekas di Gembong asih bercerita jika dengan menjual baju bekas dapat menopang kehidupannya, dimana ia memperoleh penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-harinya.
Dari penjelasan mengenai Thrifting tersebut dapat dikatakan bahwa dampak berjualan baju bekas sangat membantu masyarakat yang tidak dapat bekerja dengan layak guna menghidupi kesehariannya, namun fenomena Thrifting banyak penjual yang “nakal” dalam artian mereka mematok harga dari produk yang mereka jual dengan sangat tinggi atau overprice. Para pedagang sering kali melabeli barang dengan kata-kata vintage, rare item sehingga pembeli melihat barang tersebut dengan mata berbinar, mereka berpikir “kapan lagi dapat barang rare item dengan harga jauh lebih murah dari harga aslinya” meskipun bekas, Banyak mereka tidak tahu seperti pedagang hanya berembel bahwa barang tersebut ori dan limited edition, bisa saja barang tersebut palsu, karena banyak pembeli yang kurang tahu membedakan barang asli dan barang palsu.
Thrifting memang murah dan memiliki gaya yang berbeda dengan produk yang dibuat masal, namun dibalik harga murah itu banyak terjadi pro dan kontra tergantung sudut pandang masyarakat. Pembahasan yang sering kali terlontar mengenai baju bekas sehingga menimbulkan pro dan kontra di masyarakat yaitu mengenai kesehatan. Kesehatan menjadi salah satu hal yang terjadi, karena Thrifting adalah kegiatan membeli barang bekas dimana kita tidak tahu sebelum produk itu sampai ke tangan kita apakah pemilik sebelumnya pernah terpapar penyakit atau tidak.
Banyak risiko yang muncul dari pembelian barang bekas seperti alergi, iritasi kulit hingga penyakit menular. Seperti yang diketahui bahwa kegiatan thrifting pastinya menyelam ke dalam pasar untuk mencari barang bekas yang masih layak pakai, tidak heran banyak toko yang tidak memperhatikan kebersihan barang yang dijual.
Kita tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan barang bekas tersebut, baju yang dipajang di toko sering kali disentuh banyak orang dan dicoba sebelum mereka membeli. Kontak fisik yang berulang kali ini meningkatkan risiko penularan bakteri bahkan virus, banyak kasus melaporkan bahwa seseorang yang membeli baju bekas terkena penyakit kudis atau infeksi jamur. Itulah kenapa jika membeli baju bekas alangkah baiknya melakukan sterilisasi terlebih dahulu agar aman dan nyaman saat dipakai.
Selain kesehatan, masalah lain yang muncul dari fenomena ini adalah membludaknya sampah tekstil, jika pakaian Thrifting tidak laku maka dengan paksaan pedagang akan membuang barang tersebut sehingga menumpuk. Fenomena ini juga berimbas pada pedagang lokal, banyak pedagang yang menurun omset penjualannya karena tersaingi dengan Thrifting .
Pemerintah sempat memberikan larangan untuk pemasok barang bekas dari luar negeri, namun karena semakin banyaknya peminat Thrifting pemerintah tidak bisa 100 persen membersihkan hal tersebut. Pemerintah memerlukan langkah-langkah yang tepat untuk menangani fenomena ini. Merujuk pada permasalahan seperti kesehatan, pemerintah seharusnya membuat suatu inovasi yang menguntungkan bagi kesehatan seperti adanya robot pemilah baju bekas, dimana robot tersebut bisa memindai mana baju yang layak pakai tidak terpapar penyakit dan mana baju yang terpapar penyakit.
Selain itu juga perlu adanya pengelolaan limbah tekstil seperti setiap produsen pakaian harus bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan, setiap merek besar menyediakan penukaran baju bekas yang akan di daur ulang menjadi baju baru, sehingga baju bekas tidak hanya dibuang namun di daur ulang kembali, tetapi dengan proses sterilisasi terlebih dahulu.
Trend Thrifting semakin populer khususnya di kalangan anak muda, dimana perputaran fashion akan terus terjadi. Pandangan masyarakat terhadap fenomena Thrifting pastinya berbeda-beda, ada yang pro dan ada yang kontra. Fenomena ini menimbulkan khususnya mengenai dampak pada kesehatan, banyak yang berspekulasi bahwa Thrifting dapat menimbulkan gejala kesehatan seperti alergi hingga infeksi kulit, namun ada juga yang beranggapan penyakit tersebut dapat diatasi jika pembeli mensterilkan baju bekas dengan benar. Fenomena thrifting menjadi alternatif media ekspresi diri, namun terdapat tantangan yang perlu diperhatikan terutama dari segi kualitas dan kesehatan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
