Cara Anak Muda Bertahan Tampil Gaya Lewat Thrifting
Trend | 2026-01-05 13:46:33
Harga pakaian baru yang terus meningkat membuat banyak anak muda berpikir ulang sebelum berbelanja. Di tengah kebutuhan untuk tetap tampil percaya diri, muncul pilihan lain yang kini semakin diminati, yaitu thrifting. Aktivitas membeli pakaian bekas yang masih layak pakai ini perlahan berubah dari sekadar alternatif hemat menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Fenomena thrifting dapat dengan mudah ditemui di berbagai sudut kota. Lapak pakaian bekas di pasar tradisional, toko kecil khusus thrift, hingga penjualan melalui media sosial selalu ramai dikunjungi, terutama oleh mahasiswa. Mereka datang bukan hanya untuk membeli pakaian, tetapi juga merasakan sensasi mencari barang unik yang tidak ditemukan di toko pakaian baru.
Hasbi (19), seorang mahasiswa, mengaku mulai mengenal thrifting sejak memasuki masa perkuliahan. Keterbatasan uang saku membuatnya mencari pilihan yang lebih terjangkau. Namun, seiring waktu, thrifting justru memberinya pengalaman berbeda.
“Awalnya memang karena murah, tapi lama-lama jadi senang karena model bajunya beda. Kadang saya dapat jaket atau kemeja yang kualitasnya masih bagus,” ujarnya.
Menurut Hasbi, thrifting memberinya kebebasan dalam mengekspresikan gaya berpakaian. Ia merasa tidak perlu selalu mengikuti tren fesyen yang cepat berubah. Pakaian bekas justru membuatnya lebih leluasa memadukan gaya sesuai selera pribadi tanpa takut terlihat sama dengan orang lain.
Hal serupa dirasakan Tiara (20), mahasiswa yang sering menghabiskan waktu luangnya untuk berburu pakaian thrift bersama teman-temannya. Ia menilai bahwa pandangan negatif terhadap baju bekas kini mulai memudar.
“Sekarang sudah jarang yang menganggap baju bekas itu memalukan. Justru banyak yang bangga kalau bisa mix and match hasil thrifting dengan bagus,” katanya.
Perubahan cara pandang ini tidak terlepas dari pengaruh media sosial. Berbagai konten tentang hasil belanja thrift, tips memilih pakaian bekas yang masih layak, hingga ide memadupadankan pakaian membuat thrifting terlihat menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Media sosial turut mengubah citra pakaian bekas menjadi sesuatu yang estetik dan bernilai.
Dari sisi penjual, tren thrifting membawa dampak yang cukup signifikan. Pak Akbar (38), pedagang pakaian thrift di salah satu pasar tradisional, mengatakan bahwa pembelinya kini didominasi oleh kalangan muda.
Kalau sekarang yang paling sering datang itu mahasiswa dan anak SMA. Mereka sudah tahu mau cari apa, bahkan paham merek dan kualitas bahan,” ujarnya.“Kala
Pak Akbar menambahkan bahwa meningkatnya minat anak muda membuat persaingan antarpedagang semakin ketat. Namun, hal tersebut justru mendorong penjual untuk lebih selektif dalam memilih barang agar kualitas tetap terjaga. Menurutnya, pembeli muda cenderung kritis dan tidak segan berpindah ke lapak lain jika barang yang ditawarkan tidak sesuai harapan.
Selain faktor harga dan gaya, thrifting juga mulai dikaitkan dengan kesadaran lingkungan. Sebagian anak muda melihat membeli pakaian bekas sebagai langkah sederhana untuk mengurangi limbah tekstil akibat konsumsi fesyen berlebihan. Meski tidak semua pembeli datang dengan alasan tersebut, thrifting tetap dianggap sebagai pilihan yang lebih bijak dibandingkan terus membeli pakaian baru.
Fenomena thrifting menunjukkan adanya pergeseran cara pandang anak muda terhadap fesyen. Pakaian tidak lagi semata soal merek terkenal atau harga mahal, tetapi juga tentang kenyamanan, kreativitas, dan nilai di balik pilihan tersebut. Bagi sebagian generasi muda, thrifting bukan hanya tren sesaat, melainkan cara baru untuk menyikapi gaya hidup yang lebih sederhana dan sadar.
Di tengah perubahan pola konsumsi ini, thrifting hadir sebagai ruang alternatif bagi anak muda untuk mengekspresikan diri. Dari lapak sederhana hingga etalase digital, pakaian bekas kini memiliki cerita baru—tentang pilihan, kreativitas, dan cara anak muda bertahan tampil gaya di tengah keterbatasan.
Penulis: Baginda Dhiyaulhaq Harahap, Mahasiswa Semester 3 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
