Banjir Bandang dan Rusaknya Sungai: Harga Mahal dari Deforestasi
Edukasi | 2026-03-12 12:06:48
Banjir bandang yang terjadi pada 24 Januari 2026 di sejumlah sungai yang berhulu di lereng Gunung Slamet yang diakibatkan oleh deforestasi atau penggundulan hutan akibat alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian sayur seperti kentang, galian tambang, hingga proyek energi menjadi peringatan serius bagi tata kelola sumberdaya perairan di wilayah Kabupaten Banyumas. Salah satu badan air yang terdampak signifikan adalah Sungai Pelus bagian tengah, yang selama ini menjadi sumber air bagi kebutuhan domestik, pertanian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Napitupulu dan Putra (2024) menyebutkan bahwa kebutuhan air bersih oleh masyarakat sekitar aliran sungai sangat tinggi, namun jika terjadi peningkatan parameter pencemar, pembatasan penggunaan air sungai perlu dilakukan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan sejumlah parameter pencemar berada jauh di atas ambang batas baku mutu air. Berdasarkan kajian kualitas air, parameter seperti kekeruhan, Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) tercatat melebihi standar yang diperkenankan.
Pada Stasiun Onlimo KLHK253 di Bendung Pandak Raden, Desa Pandak, Kecamatan Baturraden, nilai Total Suspended Solid (TSS) tercatat mencapai 427,11 mg/L pada 25 Januari 2026, jauh melampaui baku mutu air kelas II sebesar 50 mg/L , selain itu, BOD terpantau 356,93 mg/L dan COD 613,62 mg/L, masing-masing jauh di atas baku mutu air kelas II, yakni 3 miligram per liter untuk BOD dan 25 mg/L untuk COD. Tingginya parameter-parameter tersebut menjadikan air sungai kurang baik untuk digunakan, sehingga pembatasan penggunaan air sungai perlu diperhatikan.
Deforestasi masif di lereng Gunung Slamet telah menghilangkan fungsi ekologis hutan sebagai penyangga tata air di daerah hulu. Hutan yang seharusnya berperan menahan air hujan, memperkuat struktur tanah, serta mengurangi laju limpasan permukaan kini berubah menjadi lahan terbuka yang rentan erosi. Ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, tanah yang tidak lagi terlindungi vegetasi mudah terbawa aliran air menuju sungai. Akibatnya, volume sedimen meningkat drastis dan memicu kekeruhan air serta pendangkalan sungai. Kondisi ini tidak hanya memperburuk kualitas air, tetapi juga meningkatkan risiko banjir bandang di wilayah hilir. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Sungai Pelus tidak hanya kehilangan fungsi ekologisnya, tetapi juga mengancam keberlanjutan sumber air bagi masyarakat yang bergantung padanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
