Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Ridho

Dialog Ramadhan Lintas Iman: Tokoh Agama Tegaskan Peran Strategis Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan

Agama | 2026-03-04 18:57:01
Penulis: Ahmad Ridho

Jakarta, 3 Maret 2026 — Momentum Ramadhan dimaknai sebagai ruang penguatan kolaborasi lintas iman melalui Dialog Ramadhan bertajuk “Peran Strategis Tokoh Agama Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan.” Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Keuskupan Agung Jakarta sebagai wadah refleksi bersama atas tanggung jawab moral umat beragama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dialog menghadirkan dua tokoh agama sebagai keynote speakers, yakni Uskup KAJ, Ignatius Kardinal Suharyo, serta Ketua MUI Kota Jakarta Timur, Assoc. Prof. KH. Didi Supandi, Lc., M.A., Ph.D.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta, KH. Yusuf Aman, jajaran FKUB Kota Jakarta Timur yang dipimpin Ketua FKUB Ahmad Ridwan, S.E., M.M., serta perwakilan FKUB kabupaten/kota se-Jabodetabek. Hadir pula unsur Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta, Biro Pendidikan Mental dan Spiritual Provinsi DKI Jakarta, perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta tokoh masyarakat lintas agama.

Dalam sambutannya, Menteri Agama RI, Nazaruddin Umar, menegaskan bahwa krisis lingkungan merupakan panggilan moral seluruh umat beragama untuk bergerak bersama. Ia menyampaikan bahwa agama memiliki kekuatan transformasi sosial dalam membangun kesadaran kolektif menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.

Dialog Ramadhan 2026 dengan tema Peran Strategis Tokoh Agama Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan di Aula Grha Pemuda, Katedral Jakarta, Selasa 3 Maret 2026.

Dalam paparannya, Assoc. Prof. KH. Didi Supandi, Lc., M.A., Ph.D. menjelaskan bahwa konsep deep ecology memiliki keselarasan dengan ajaran Islam. Ia menekankan pentingnya kerendahan hati ekologis sebagaimana tergambar dalam kisah Nabi Sulaiman AS dan semut dalam QS. An-Naml ayat 18–19.

“Jika bumi adalah masjid, maka menjaganya adalah bagian dari ibadah,” tegasnya, merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut bumi sebagai tempat sujud dan sarana bersuci.

Sementara itu, Kardinal Ignatius Suharyo menegaskan bahwa menjaga keutuhan alam ciptaan bukan sekadar agenda sosial, melainkan panggilan iman. Dalam tradisi Kristiani, manusia dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara bumi sebagai rumah bersama, bukan mengeksploitasinya.

“Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tetapi meminjamnya dari generasi yang akan datang. Karena itu, tanggung jawab ekologis adalah tanggung jawab lintas generasi,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya ecological conversion atau pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan gaya hidup agar lebih sederhana, berkelanjutan, dan penuh solidaritas. Menurutnya, krisis lingkungan berakar pada krisis relasi—relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Dialog ini menegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya isu ekologis, tetapi juga persoalan spiritual, moral, dan peradaban. Kehadiran unsur pemerintah, lembaga keagamaan, dan tokoh masyarakat menunjukkan komitmen kolektif bahwa menjaga keutuhan alam ciptaan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir komitmen nyata serta langkah kolaboratif lintas komunitas dalam menjaga keberlanjutan lingkungan demi generasi mendatang, sekaligus memperkuat persaudaraan dan kerukunan di tengah keberagaman Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image