Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image SEPTA Anitawati

Merindukan Teladan Kepemimpinan Rasulullah SAW

Agama | 2026-03-04 08:06:35

Septa AnitawatiFounder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, tak bisa dipungkiri. Masih terjadi serangan brutal yang menimpa saudara kita di Palestina. Tepatnya di Gaza. Tak heran, jika Dewan Perdamaian Trump disambut dengan skeptisisme mendalam dan sedikit harapan. Penduduk mempertanyakan apakah Dewan Perdamaian Trump akan memberikan keamanan nyata, pembangunan kembali, atau hanya menjadi janji yang tidak terpenuhi.
Saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan pertemuan pertama Dewan Perdamaian atau Board of Peace disingkat BoP di Washington, DC, pada hari Kamis. Warga Palestina di Jalur Gaza tidak membahas bahasa diplomatik atau kerangka kerja politik.
Di jalan-jalan, tenda-tenda seluruh Gaza tengah dan selatan, tempat ratusan ribu pengungsi Palestina. Berjuang untuk bertahan hidup. Satu pertanyaan sederhana mendominasi. Akankah ada perubahan nyata dalam kenyataan pahit di lapangan. Diberitakan oleh https://aje.news/eplwx6 pada tanggal 20 Februari 2026.
Sementara, Rand Corporation menawarkan kerangka kerja Disarmament, Demobilization, and Reintegration disingkat DDR. Yakni, Perlucutan Senjata, Demobilisasi, dan Reintegrasi. Namun mensyarakatkan solusi politik dan operasional yang masih menjadi tantangan di lapangan.
Analisis Masalah
Dari fakta tersebut, setidaknya ada tiga persoalan yang perlu dianalisis. Pertama, Rand Corporation menawarkan kerangka Disarmament, Demobilization, and Reintegration (pelucutan senjata, demobilisasi, dan reintegrasi). Dalam laporan berjudul Pursuing Disarmament, Demobilization, and Reintegration in Gaza, A Critical Pathway to a Durable (Mengejar Pelucutan Senjata, Demobilisasi, dan Reintegrasi di Gaza, Sebuah Jalur Kritis Menuju Pembangunan yang Berkelanjutan). Namun memberi catatan, kerangka ini membutuhkan penyelesaian politik dan operasional (dukungan ekonomi), jika tidak, maka akan gagal.
Kedua, Hamas secara tegas menolak ide pelucutan senjata penuh. Pemimpin senior Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal, menyatakan bahwa meminta Hamas menyerahkan senjatanya sama dengan “menghilangkan jiwa dari gerakan tersebut,” karena mereka melihat senjata sebagai hak untuk perlawanan rakyat di bawah pendudukan yang dilansir oleh aljazeera.com/news/2025/12/10
Ketiga, ditengah ketidakpastian nasib Palestina, Jihad masih berjalan dan harus tetap berjalan. Sikap perlawanan bersifat ideologis, struktural, generasional, dan politis. Ekosistem ini belum mengalami perubahan, menjadikan Gaza-Palestina satu-satunya spot yang kuat dalam memberikan perlawanan pada tatanan global di bawah AS.
Jelas, semua inisiatif perdamaian termasuk kerangka DDR yang ditawarkan Rand corporation bukanlah solusi. Umat harus terus menggelorakan opini jihad dan khilafah untuk membebaskan Palestina.
Merindukan Kepemimpinan Rasulullah Saw.
Terbayang, bagaimana jika Rasulullah hadir di bumi ini. Menyaksikan kepedihan umatnya di Palestina... Padahal, perlu diketahui bahwa :Pertama, wilayah Gaza dan Palestina sejatinya tanah milik umat Islam. Biasa disebut tanah kharajiyah. Yang dirampas oleh Israel. Sejak runtuhnya negara Khilafah.
Kedua, Allah Swt. melarang umat Islam untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir yang nyara-nyata memusuhi IsIam dan kaum muslimin. Ketiga, umat dan penguasa dunia Islam wajib melawan semua makar AS dan Israel untuk menguasai Gaza. Keempat, menegakkan Khilafah dan jihad untuk membebaskan Palestina wajib menjadi prioritas perjuangan umat bersama partai politik IsIam ideologis.
Disamping keempat hal tersebut, untuk menghadapi negara adidaya yang menindas, diperlukan kekuatan setara. Yakni negara yang memiliki empat karakter. Di dalam Kitab Nidzomul Hukmi fil Islam disebutkan.
Pertama, memiliki kekuasaan independen. Yakni, hanya bersandar pada kaum Muslim. Bukan kepada salah satu negara kafir atau di bawah pengaruh orang-orang atau negara kafir.
Kedua, memiliki keamanan mutlak kaum muslimin. Bukan keamanan milik negara lain. Artinya, pemeliharaan keamanan mereka dari gangguan dalam dan luar negeri berasal dari kekuatan IsIam semata.
Ketiga, Negeri tersebut segera menerapkan IsIam secara serentak dan menyeluruh, serta segera mengemban dakwah IsIam.
Keempat, Khalifah yang dibaiat harus memenuhi syarat-syarat in'iqad, atau syarat sahnya menjadi Khalifah. Meskipun tidak memenuhi syarat afdhaliyah (keutamaan). Karena yang menjadi patokan adalah syarat-syarat in'iqad.
Inilah teladan kepemimpinan Rasulullah shallallahu'alaihi wasalam yang telah dipraktikkan oleh para Khalifah selama 14 abad lamanya. Yang terjadi adalah rahmatan lil'alamin. Kasih sayang bagi seluruh manusia. Tidak hanya umat IsIam yang merasakan kenikmatan. Bahkan seluruh alam semesta dan kehidupan turut merasakan kebahagiaan. Sungguh keberkahan yang tak tertandingi hingga akhir nanti. Wallahu a'lam bishawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image