Antara Nur dan Nurani: Al-Quran sebagai Jalan Pulang Kesadaran
Agama | 2026-02-25 10:07:08Di zaman ketika layar lebih sering kita tatap daripada langit, ketika notifikasi lebih cepat menyentuh hati daripada nasihat Ilahi, manusia modern sesungguhnya sedang mengalami krisis yang sunyi: krisis kesadaran. Kita tahu banyak hal, tetapi tidak selalu memahami makna. Kita terhubung secara digital, tetapi terputus secara spiritual.
Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai kitab bacaan, melainkan sebagai cahaya kesadaran nūr yang menuntun nurani pulang ke pusat dirinya.
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
Kitābun anzalnāhu ilaika litukhrijan-nāsa minaẓ-ẓulumāti ilan-nūr (QS. Ibrāhīm [14]: 1)
Al-Qur’an tidak hanya memberi informasi; ia mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Kata ẓulumāt berbentuk jamak kegelapan itu banyak yakni kebingungan, kesombongan, keserakahan, kecemasan, kehilangan arah. Sedangkan nūr berbentuk tunggal cahaya itu satu yaitu kesadaran akan Tuhan.
Nūr: Cahaya yang Menghidupkan
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa cahaya Al-Qur’an adalah penerang hati orang beriman. Cahaya ini bukan cahaya fisik, melainkan cahaya maknawi yang membuat manusia mampu membedakan hak dan batil.
Sementara Al-Ghazali dalam Mishkāt al-Anwār menggambarkan bahwa hati manusia ibarat cermin. Jika cermin itu bersih, ia memantulkan cahaya Ilahi. Jika berdebu oleh dosa dan kelalaian, cahaya itu redup. Maka membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan ayat, tetapi membersihkan cermin batin.
Bagi Fakhruddin ar-Razi, cahaya Qur’ani juga merupakan cahaya intelektual. Ia membebaskan manusia dari kebodohan dan membangun kesadaran rasional. Wahyu dan akal bukan dua kutub yang bertentangan, tetapi dua sayap yang menerbangkan manusia menuju kebenaran.
Nurani: Suara Sunyi dalam Diri
Namun cahaya itu tidak akan bermakna tanpa nurani. Nurani adalah ruang terdalam tempat cahaya wahyu bersemayam. Dalam konteks Indonesia, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang memberi arah, bukan sekadar aturan. Ia membangun kesadaran moral, kesadaran untuk berlaku adil, jujur, dan penuh kasih.
Buya Hamka menyebut Al-Qur’an sebagai cahaya yang menghidupkan jiwa sebagaimana matahari menghidupkan bumi. Tanpa cahaya itu, nurani mengering; ia mudah terseret arus kepentingan dan ambisi.Lebih jauh, Nurcholish Madjid melihat wahyu sebagai energi moral yang membebaskan manusia dari belenggu mitos dan kejumudan.
Tauhid bukan hanya pengakuan teologis, tetapi kesadaran etis bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan.Dan dalam pembacaan yang lebih kontekstual, Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa cahaya Al-Qur’an juga membangun kesadaran keadilan termasuk kesadaran gender dan kemanusiaan universal. Cahaya tidak boleh hanya menerangi ruang ibadah, tetapi juga ruang sosial.
Dalam pengandaian Muhammad Sabri, Al-Qur’an ditiliknya sebagai: Arsitektur kesadaran, Energi kosmik yang membangun harmoni dan Spirit transformasi sosial,Kesadaran Qur’ani bukan hanya spiritual, tetapi juga ekologis dan kosmologis.
Jalan Pulang Kesadaran
Mengapa disebut “jalan pulang”? Karena sejatinya manusia berasal dari cahaya. Ia membawa fitrah, tetapi fitrah itu sering tertutup oleh rutinitas dan distraksi. Di era digital, kita menghadapi kegelapan jenis baru: banjir informasi tanpa kebijaksanaan, komunikasi tanpa empati, eksistensi tanpa refleksi.Al-Qur’an menawarkan jalan pulang melalui tiga tahap:
1. Tadabbur – merenungi makna, bukan sekadar membaca.
2. Tazkiyah – membersihkan jiwa dari ego dan riya’.
3. Islah sosial – menerjemahkan cahaya menjadi tindakan nyata.
Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibaca dengan kesadaran, ia berubah menjadi kompas. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang produktivitas, tetapi tentang kebermaknaan; bukan hanya tentang kecepatan, tetapi tentang kedalaman.
Antara Nūr dan Nurani
Akhirnya, Al-Qur’an sebagai nūr menemukan rumahnya di dalam nurani. Cahaya Ilahi dan suara hati yang jernih berpadu membentuk manusia yang utuh—berakal, berakhlak, dan berbelas kasih.Di tengah dunia yang riuh, mungkin yang paling kita butuhkan bukan tambahan informasi, melainkan pencerahan. Bukan sekadar kecanggihan teknologi, tetapi kejernihan hati.
Dan di situlah Al-Qur’an berdiri—bukan sebagai teks yang jauh di rak, melainkan sebagai cahaya yang menuntun kita pulang kepada diri yang paling sejati.
Wallahu A'lam bi al-Shawwab
Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan, S.Ag., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
