Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sabiq Hilmi

Seruan untuk Menjadi Lebih Baik

Ekspresi | 2026-02-21 23:01:48

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Bukan hanya kebaikan untuk orang lain, namun juga untuk diri sendiri. Sehingga tak sedikit orang yang melihat Ramadhan sebagai tolak ukur keberhasilan diri mereka dalam mengarungi bulan-bulan setelahnya. Ironisnya, semangat dalam beribadah semakin menurun setiap tahunnya. Puasa bukan lagi ritual ibadah yang berarti, namun sekadar rutinitas tahunan tanpa arti. Kita lebih senang terjerumus dalam jurang media sosial, sibuk scroll layar ketimbang bersusah payah dalam beribadah, mengaji & tadarus Al-Qur'an. Tanpa kita sadari, kesenangan semu itu bukanlah hiburan, melainkan petaka dimasa depan.

kemunduran yang tersembunyi

kesenangan semu yang kita lakukan setiap hari, diam-diam membunuh akal sehat kita sedikit demi sedikit. Padahal, alam semesta senantiasa berubah & berkembang. Menjadi statis (tetap) di dunia yang terus bergerak sebenarnya adalah kemunduran yang tersembunyi. Diam di tempat saat segalanya maju berarti menjadi asing dari waktu. Itulah yang oleh Imam Al-Ghazali (450-505 H) dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan; “Man istawa yawmahu fahuwa maghbun, wa man kana yawmuhu sharran min amsihi fahuwa mal'un."

“Barangsiapa yang hari-harinya sama (tidak berkembang) maka dia merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih buruk daripada kemarin maka dia terlaknat.”

Kerugian di sini bukanlah materi, melainkan hilangnya hal paling berharga yang kita miliki: waktu. Orang yang merugi adalah mereka yang kehilangan waktu tanpa menyadarinya.

Maka, tuntutan untuk lebih baik dari hari kemarin adalah sebuah keniscayaan, khususnya bagi kita yang masih dalam proses belajar. Hal ini juga senada dengan syi’ir dalam Ta’limul Muta’alim (593 H) yang menegaskan untuk selalu menambah ilmu baru setiap harinya “wa kun mustafidan kulla yaumin ziyadatan, minal ilmi wasbah fii buhuuril fawa’idi.”

Maka dari itu, alangkah baiknya apabila kita gunakan waktu di bulan Ramadhan tahun ini dengan memperbanyak ibadah & meningkatkan kualitas diri. Sehingga, esensi dari puasa bukan hanya menahan lapar & dahaga, melainkan pengisian jiwa melalui pengendalian diri dan pembersihan hati.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image