Semarak Ramadhan: Menyelami I'jaz Alqur'an
Khazanah | 2026-02-21 14:33:15SEMARAK RAMADHAN: MENYELAMI I’JAZ ALQUR’AN
Ramadhan disebut bulan mulia, karena diturunkannya Alqur’an di dalamnya. Sejak wahyu pertama turun, bulan ini tidak pernah lagi menjadi bulan biasa. Ia menyimpan jejak sejarah turunnya kalam Allah ke bumi, yang kemudian membentuk keyakinan, menyempurnakan akhlak, dan mengubah arah peradaban manusia.
Di bulan yang juga dikenal bulan berkah ini, bacaan Alqur’an lebih sering terdengar dari hari biasnya. Masjid makmur, rumah-rumah hidup dan di mana-mana suasanya terasa hangat oleh tilawah Alqur’an. Namun, yang masih jarang tersentuh oleh masyarakat kita adalah menyelami kedalaman Alqur’an, yang di dalamnya tersimpan khazanah dan mukjizat yang sangat luas.
Bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang sangat sadar akan kekuatan kata-kata. Imru' al-Qais, Antarah ibn Shaddad, dan Zuhayr ibn Abi Sulma adalah simbol kejayaan sastra era Jahiliyah. Syair mereka ditampilkan di tempat-tempt pertunjukan, di pasar (Ukaz), bahkan di medan perang. Syair adalah lambang kebanggaan dan simbol kehormatan.
Tradisi itu tidak berhenti, dan tetap berkembang setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Hassan bin Tsabit adalah salah satu penyair yang berdiri membela Nabi dengan bait Syair bergenre madh. Yaitu, Syair pembelaan dalam bentuk pujian dengan menyebut-nyebut kemuliaan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam:
Wa ahsanu minka lam tara qattu ‘aini Wa ajmalu minka lam talidi an-nisā’u” (Tak pernah mataku melihat yang lebih indah darimu. Dan tak pernah wanita melahirkan yang lebih mulia darimu).
Hassan bin Tsabit ada Abdullah bin Ruwahah, Ka’ab bin Malik dan lainnya. Semua penyair itu menggunakan bait-bait syairnya untuk membela Rasulullah dan kaum muslimin.
Memasuki era Abbasiyah, lahir Al-Mutanabbi yang terkenal dengan bait syairnya bergenre Alfakhr (kebanggaan): “Al-khaylu wal-laylu wal-baydā’u ta‘rifunī Was-sayfu war-rumḥu wal-qirṭāsu wal-qalamu”
(Kuda, malam, padang pasir, pedang, tombak, pena, semuanya menjadi saksi keagungan dirinya). Berikutnya ada Abu Tammam dengan gaya yang lebih filosofis dan metaforis.
Dan bahasa Arab mencapai kematangannya di tangan para penyair itu. Bahasa Arab ketika itu berada di puncak kejayaannya. Orang-orang Arab sangat percaya diri dengan kekuatan kata-kata mereka. Namun ketika Alqur’an turun, mereka terdiam.
Namun Alqur’an tidak berjalan sebagaimana perkembangan syair. Karena ia bukan karya manusia, bukan syair, bukan pula prosa. Imam al-Baqillani menegaskan bahwa Alqur’an memiliki sistem susunan yang berdiri sendiri. Orang-orang Arab, terutama para pujangga dan penyair sangat paham kedalaman bahasa Arab, namun, mereka justru sadar bahwa Alqur’an bukanlah karya ”sembarangan”, ia memiliki keunikan yang tidak bisa ditiru siapapun dan adengan cara apapun.
Misalnya dalam pemilihan kata, dalam surah Al-Ikhlas yang digunakan kata Ahad, bukan Wahid. Para pakar bahasa tan tafsir, Al-Farra’ dan Az-Zajjaj, menjelaskan bahwa Wahid menunjukkan satu dalam bilangan, dan ada kelanjutannya dua, tiga dan seterusnya. Sementara kata Ahad bermakna keesaan mutlak, tidak ada dua, tiga dan seterusnya. Kata ini sesuai dengan konteks tauhid yang dikandung dalam surah ini, bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Esa Yang Mutlak, tidak ada duanya, tiganya dan seterusnya. Karena itu kata Ahad tidak lazim digunakan dalam bentuk afirmatif untuk selain Allah. Kecuali dalam konteks negatif, seperti “maa jaa’ani ahad” (tidak seorang pun datang), namun ini sekadar makna biasa.
Pemilihan kata demikian bukan variasi gaya bahasa, melainkan penegasan akidah. Imam al-Jurjani menjelaskan yang demikian adalah bagian dari keutuhan nazhm Alqur’an, dan jika jika diganti dengan kata Wahid, tentu akan bergeser makna teologisnya.
Tentang anak yatim, Alqur’an menggunakan kata taqhar dalam Surah Ad-Dhuha ayat 9, ”fa ammā al-yatīma falā taqhar.” Secara leksikal, akar kata qahara bermakna ”menundukkan dengan keras,” ”menekan”, atau ”berlaku sewenang-wenang”.
Dalam penjelasan tafsir seperti Ibn Katsir dan al-Qurthubi, larangan ini bukan sekadar melarang kekerasan fisik, tetapi larangan merendahkan dan memperlakukan anak yatim dengan sikap semena-mena dan merendahkan martabatnya. Pilihan kata taqhar menghadirkan makna psikologis dan sosial sekaligus, bahwa luka batin bisa lebih dalam dari luka lahir. Di sinilah Alqur’an benar-benar menampakkan kepadatan maknanya, satu kata memuat pesan perlindungan kepada anak yatim secara utuh.
Di sisi psikologis lainnya, pada surah Az-Zumar ayat 23 disebutkan kata ”taqsya’iru”, kata ini digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang mendengarkan ayat-ayat Alqur’an dengan khusyu’, mengakibatkan kulit mereka terasa merinding, dan hati menjadi lebih lembut.
Kata “taqsya’iru” menggambarkan respons kulit secara spontan, bukan dibuat-buat, proses ini mendahului kelembutan hati. Fakhruddin ar-Razi menjelaskan kalimat ini, bahwa getaran tersebut adalah dampak pertemuan antara lafal bahasa Alqur’an dan kesadaran iman.
Hal ini menguatkan bahwa kemukjizatan Alqur’an tidak hanya pada struktur bahasa, tetapi pada daya pengaruhnya terhadap jiwa. Umar bin Khattab yang tegas itu pun tersentuh ketika mendengar ayat-ayat dibacakan hingga kemudian beliau terdorong untuk segera bertemua Rasululalh shallallahu ’alaihi wasallam untuk menyatakan keislamannya. Bukan sekadar karena retorika bahasanya, bukan pula sekedar tilawah surah Thaha yang sedang dilantunkan, tetapi karena kebenaran yang merasuk jiwa dan menyapa nurani.
Alqur’an turun selama lebih dari dua dekade. Dalam peristiwa yang silih berganti, situasi yang dinamis, saat tertekan, saat hijrah, saat perang, saat damai, saat sendiri dan saat di keramaian. Namun pesan tauhidnya tetap kokoh, kandungannya tidak berubah, dan bahasanya tetap utuh. Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai cahaya yang tidak redup oleh perubahan zaman. Alqur’an ”dibaca” di abad ketujuh, dan masih ”terdengar” nyaring hingga abad ini.
Ramadhan adalah saat untuk kembali duduk bersama Alqur’an, dengan kesadaran hati yang terjaga, untuk tilawah melalui lisan, merenungi maknanya, dan mengamalkan pesan-pesannya. Dengan membaca, memahami dan mengamalkan, Alqur’an beanr-benar akan hidup dan menggerakkan jiwa manusia menuju kehidupan yang jauh lebih baik “hayatan tayyibah”.
Pada akhirnya, semarak Ramadhan terletak pada jejak Alqur’an dalam diri kita. I’jaz Alqur’an tampak dalam presisi lafal-lafalnya, kesempurnaan susunannya, kedalaman maknanya, dan daya sentuhnya terhadap jiwa kita. Ramadhan momen tepat dalam menghadirkan kesempatan menyelami itu semua. Demikianlah kedahsyatan Alqur’an, tidak hanya indah didengar, tetapi menentramkan dan memajukan hidup lebih berkulatis.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
