Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Oki Cahyo Saputro

Manusia yang Terlupakan

Lifestyle | 2026-02-18 13:59:16
manusia terlupakan

Manusia yang Terlupakan

Pernah nggak sih kamu lagi jalan di trotoar yang ramai, seliweran orang pakai earphone, mata terpaku ke layar HP, terus tiba-tiba lewat di depan seseorang yang penampilannya lusuh atau lansia yang lagi duduk sendirian di pojokan? Jujur deh, berapa kali kita benar-benar "melihat" mereka, bukan cuma sekadar lewat? Inilah fenomena "Manusia yang Terlupakan"sosok-sosok yang ada secara fisik di sekitar kita, tapi seolah-olah transparan bagi mata dunia yang lagi sibuk mengejar ambisi.

Di zaman yang serba cepat dan pamer pencapaian ini, kita sering banget terjebak dalam gelembung kita sendiri. Kita terlalu fokus sama update status, ngejar likes, atau mikirin gimana caranya biar karir makin meroket. Tanpa sadar, empati kita perlahan terkikis. Orang-orang di pinggiran, entah itu tuna wisma, pekerja kasar yang upahnya nggak seberapa, sampai lansia di panti jompo, jadi sekadar "pemandangan latar" yang nggak masuk dalam narasi sukses kita. Rasanya miris ya, saat teknologi makin menghubungkan yang jauh, tapi justru bikin kita makin jauh sama yang ada di depan mata.

Padahal, kalau kita mau berhenti sejenak dan melepas ego, setiap "manusia yang terlupakan" itu punya cerita yang nggak kalah hebat dari kita. Mereka punya masa lalu, punya mimpi yang mungkin patah di tengah jalan, dan pastinya punya perasaan yang sama kayak kita. Kadang, yang mereka butuhkan bukan cuma recehan di kotak amal, tapi pengakuan kalau mereka itu ada. Sapaan ramah atau sekadar senyuman tulus itu harganya mahal banget lho buat mereka yang terbiasa dianggap nggak ada oleh dunia.

Efeknya pun nggak main-main. Saat kita terus-terusan mengabaikan sesama, masyarakat kita jadi makin dingin dan individualis. Kita jadi robot yang cuma tahu cara berfungsi, tapi lupa cara berasa. Padahal, inti dari menjadi manusia adalah koneksi. Bayangkan kalau suatu saat kita yang berada di posisi mereka, merasa asing di tempat sendiri dan nggak ada satu pun orang yang peduli. Nggak mau, kan? Makanya, yuk kita mulai pelan-pelan buat lebih peka sama lingkungan sekitar.

Langkah kecilnya simpel kok. Coba deh mulai besok, taruh HP sebentar saat lagi di transportasi umum atau tempat publik. Perhatikan sekeliling kamu. Kalau ada kesempatan buat bantu hal kecil, kayak bantuin ibu-ibu bawa belanjaan atau sekadar bilang "terima kasih" yang tulus ke petugas kebersihan, lakuin saja! Hal-hal "receh" kayak gitu sebenarnya adalah lem yang merekatkan kembali kemanusiaan kita yang mulai retak.

Jadi, setelah baca ini, kira-kira siapa "manusia" di sekitarmu yang selama ini mungkin luput dari perhatianmu? Apa kamu siap buat jadi orang pertama yang kasih mereka senyuman hari ini? Yuk, kita buktikan kalau di dunia yang makin canggih ini, hati kita nggak ikut-ikutan jadi mesin!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image