Haruskah Psikiater Membaca Fiksi?
Sastra | 2026-03-11 15:39:16
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Debat mengenai relevansi sastra dalam praktik psikiatri bukanlah fenomena baru, namun belakangan ini mendapatkan momentum melalui berbagai perkembangan institusional seperti publikasi jurnal Medical Humanities (2023) dan pembentukan kelompok minat khusus di Royal College of Psychiatrists. Dalam jurnal ini, Beveridge membuka diskusinya dengan merujuk pada pemikiran C.P. Snow tahun 1959 mengenai adanya dua budaya—sains dan seni—yang cenderung terpisah secara destruktif dalam masyarakat intelektual. Snow memperingatkan bahwa menjembatani kesenjangan ini adalah sebuah keharusan praktis agar pemahaman manusia tidak menjadi terbatas.
Dalam konteks sejarah medis, pada abad ke-18, seorang dokter justru dipandang sebagai sosok yang harus berbudaya dan menguasai humaniora untuk mendapatkan kebijaksanaan klinis. Namun, dominasi budaya teknologi di era modern telah menggeser identitas dokter menjadi sekadar ilmuwan atau teknisi biologis, meskipun minat terhadap seni sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang dari kalangan medis.
Kekuatan Sastra dalam Memperluas Cakrawala Klinis
Argumen utama yang mendukung penggunaan sastra dalam psikiatri berakar pada kebutuhan untuk memahami pengalaman manusia secara lebih utuh. Mengutip T.S. Eliot, keterbatasan waktu membuat kita tidak mungkin mengenal cukup banyak orang dalam kehidupan nyata, sehingga buku menjadi sarana untuk mengeksplorasi dunia batin individu yang beragam secara imajinatif.
Model bioscientific murni sering kali memberikan pandangan yang terbatas tentang manusia karena fokus pada mekanisme biologis, sementara sastra menawarkan dimensi emosional dan eksistensial yang krusial bagi seorang dokter untuk memahami pasiennya secara mendalam. Bahkan, terdapat bukti bahwa mahasiswa kedokteran yang memiliki latar belakang humaniora cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam aspek-aspek penting praktik klinis.
Lebih jauh lagi, sastra dianggap sebagai alat yang sangat efektif untuk membangun empati. Melalui narasi fiksi, seorang psikiater dapat masuk ke dalam perspektif penderita gangguan jiwa, seperti yang digambarkan dalam novel Iain Crichton Smith mengenai psikosis atau karya Ian McEwan tentang sindrom de Clérambault. Sastra juga melatih keterampilan interpretasi melalui kedokteran berbasis narasi.
Dengan mempelajari teknik analisis novel, dokter menjadi lebih sensitif terhadap nuansa dan subteks dalam komunikasi pasien. Salah satu contoh klinis yang sangat relevan adalah konsep narator yang tidak bisa diandalkan (unreliable narrator), yang merujuk pada karakter yang memberikan laporan menyesatkan secara sengaja maupun tidak, sebuah fenomena yang sering dijumpai ketika psikiater mendengarkan sejarah hidup pasien.
Sastra sebagai Medium Refleksi Etis
Selain aspek interpretasi, sastra juga menawarkan apa yang disebut sebagai pendekatan etis. Karya fiksi sering kali menempatkan pembaca dalam dilema moral yang kompleks, memaksa mereka untuk melakukan refleksi etis sebelum mengambil keputusan. Sebagai contoh, cerita pendek William Carlos Williams yang berjudul 'The Use of Force' mengangkat pertanyaan mendalam mengenai keabsahan intervensi medis yang dilakukan bertentangan dengan kehendak pasien. Novel lain seperti K-Pax karya Gene Brewer mengeksplorasi dilema psikiater dalam menentukan apakah seorang pasien sedang menceritakan kenyataan atau sekadar mengalami delusi. Pendekatan ini melampaui sekadar menghaluskan kedokteran melalui paparan seni; ia bertujuan untuk membentuk kembali dasar pengetahuan medis agar lebih berfokus pada hakikat menjadi manusia seutuhnya.
Kontra-Argumen: Sastra sebagai Distraksi dan Bahaya Subjektivitas
Di sisi lain, terdapat kritik tajam yang menyatakan bahwa seni sama sekali tidak relevan dengan kemajuan kedokteran nyata yang didorong oleh mikroskop, skalpel, dan teknologi canggih. Dari sudut pandang ini, psikiatri seharusnya dipandang murni sebagai cabang ilmu alam di mana neurosains akan menjawab segala hal tentang perilaku manusia tanpa memerlukan bantuan seni.
Para pengkritik juga meragukan klaim bahwa membaca karya fiksi dapat membuat seseorang menjadi lebih peduli atau altruistik. Harold Bloom dan George Steiner memberikan peringatan keras bahwa budaya tinggi dan sastra tidak menjamin perilaku beradab, merujuk pada contoh sejarah di mana kecintaan terhadap seni dapat hidup berdampingan dengan kekejaman kamp konsentrasi Nazi.
Kekhawatiran lainnya adalah bahwa membaca dapat menjadi pengganti yang berbahaya bagi pengalaman hidup yang nyata. Jika pembacaan fiksi dijadikan disiplin yang kaku, ini dikhawatirkan hanya menjadi incitan spiritual tanpa benar-benar membentuk kehidupan spiritual tersebut. Bahkan, secara historis, beberapa dokter pernah memperingatkan bahwa membaca secara berlebihan dapat menyebabkan penurunan kesehatan mental dan fisik.
Selain itu, dari perspektif estetika murni, banyak yang keberatan jika sebuah karya seni diperalat atau disaring hanya untuk mencari kegunaan klinis, karena hal tersebut merusak potensi estetika dan kebebasan interpretasi yang seharusnya ditawarkan oleh imajinasi penulis.
Menuju Psikiatri yang Terintegrasi
Beveridge mengakui bahwa paparan sastra tidak secara otomatis menciptakan empati, namun ia menekankan adanya tren yang semakin kuat untuk mengakui keterbatasan pendekatan bioteknologi murni dalam perawatan pasien. Ia mendukung pandangan bahwa kedokteran berbasis bukti harus didasari oleh upaya untuk memahami perspektif eksperiensial pasien melalui keterlibatan dengan humaniora.
Mengenai apakah harus ada daftar bacaan wajib atau kanon bagi psikiater, Beveridge menyarankan agar daftar tersebut tetap bersifat saran atau ajakan imajinatif. Hal ini penting agar aktivitas membaca tidak berubah menjadi tugas yang membosankan atau didaktis. Pada akhirnya, keputusan untuk mengeksplorasi dunia fiksi dikembalikan kepada masing-masing psikiater, namun budaya medis yang positif terhadap humaniora akan sangat membantu dalam menciptakan praktisi yang lebih bijaksana dan mampu merespons penderitaan manusia dengan lebih baik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
