Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Aini

Refleksi Hari Pendidikan Nasional : Mewujudkan Pendidikan Menuju Peradaban Gemilang

Agama | 2026-05-03 17:12:25

Keprihatinan terus saja mengiringi peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kasus siswa bersikap tidak sopan kepada guru, guru melakukan kekerasan kepada siswa, pergaulan bebas, perundungan, perkelahian antarsiswa, rendahnya nilai TKA, semakin minimnya anggaran operasional pendidikan, kalahnya honor guru swasta dibanding gaji karyawan SPPG dalam program MBG, kalahnya pembangunan sarana pendidikan dibanding pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang tiba-tiba menjamur dan lain sebagainya. Ini masih potret buram di pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan tinggi pun tidak luput dari deraan masalah. Mahalnya UKT, IPI jalur mandiri, kasus joki ujian masuk PTN hingga perilaku memprihatinkan mahasiswa dan dosen. Dan tentu masih banyak permasalahan di dunia pendidikan yang tidak tersorot kamera media. Dari banyaknya masalah di dunia pendidikan tentu menimbulkan pertanyaan, akankah pendidikan di negeri ini berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa, mampukah sistem pendidikan nasional mencetak generasi pembangun peradaban? Jawabannya jelas, tidak bisa.

Masalah pendidikan yang begitu banyak mendera adalah konsekuensi logis diterapkannya pendidikan sekular kapitalis di negeri ini. Pendidikan yang dibangun di atas paradigma pemikiran sekular hanya akan melahirkan generasi yang jauh dari akidah Islam. Generasi yang jauh dari identitas hamba Allah yang mulia. Generasi yang dididik dengan asas sistem sekular akan mudah melanggar aturan Allah, ringan melakukan kemaksiatan dan tidak termotivasi meninggikan derajat dengan ilmu. Tidak terdorong menjadi generasi pembangun peradaban.

Apalagi dengan gempuran pemikiran sekular, liberal, kapitalis kepribadian mulia generasi akan sulit diwujudkan, alih-alih mempunyai jati diri kuat, pendidikan sekular hanya melahirkan generasi yang tidak taat pada syariat. Didukung sistem hukum dan sanksi yang lemah, tindakan kriminal yang dilakukan pelajar pun semakin memprihatinkan.

Guru sebagai pendidikan pun juga terus dibebani tugas berat. Kurikulum yang sering berubah, tugas administrasi yang semakin bertambah, beban berat mendidik siswa tidak diiringi dengan imbalan gaji terbaik. Guru yang seharusnya menjadi ujung tombak pendidikan hanya dipandang sebagai layaknya buruh yang layak diperas tenaganya.

Belum lagi penguasa yang kebijakannya serba kapitalis, alih-alih memberikan pendidikan gratis dan berkualitas, pemerintah malah menjadikan pendidikan sebagai ladang bisnis, pembiayaannya pun dianaktirikan.

Rentetan fakta di atas tentu menjadi refleksi bagi kita semua di bulan Mei ini, bulan diperingatinya Hardiknas. Negeri ini butuh perubahan, umat Islam membutuhkan sistem pendidikan islam yang diselenggarakan negara yang menerapkan sistem islam secara sempurna.

Islam menjadikan pendidikan sebagai bidang yang wajib diberikan perhatian serius. Karena pendidikan sebagai sarana menuntut ilmu adalah kebutuhan primer yang wajib dijamin negara, diberikan dengan fasilitas terbaik. Dalam pandangan Islam, melalui pendidikan generasi diberikan ilmu untuk bekal kehidupan, ilmu untuk mengantarkan negara menuju peradaban gemilang. Visi pendidikan membentuk manusia berkepribadian islam direalisasikan dengan sungguh-sungguh. Tidak menjadikan pendidikan sebagai bisnis dan pencetak generasi buruh semata. Bersinergi dengan bidang lain pendidikan dalam sistem islam pasti menghasilkan generasi bertakwa, bervisi mulia di dunia hingga ke akhirat. Ketegasan dalam penegakkan hukum akan membuat peserta didik dan guru tidak mudah melakukan tindakan kriminal, pengelolaan SDA sesuai syariah akan membuat roda ekonomi berjalan seimbang tidak terjadi kesenjangan pendistribusian kekayaan.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah memastikan sistem pemerintahan terus dalam kawalan muhasabah seluruh rakyat, agar penyimpangan terhadap pelaksanaan hukum Allah dan Rasul-Nya bisa dicegah semaksimal mungkin. Kerjasama seluruh pihak, keluarga masyarakat dan negara yang mempunyai kesamaan visi pendidikan dalam rangka membentuk kepribadian Islam akan membawa keberhasilan dalam penyelenggaraan proses pendidikan terbaik, maka terwujudnya generasi gemilang bukan isapan jempol semata namun akan menjadi nyata. Wallahu a'lam bishawab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image