Menakar Estetika dan Integritas Puisi dalam Workshop Hari Puisi Nasional 2026 di TIM
Pendidikan dan Literasi | 2026-04-29 17:00:44
JAKARTA – Taman Ismail Marzuki kembali menjadi poros perjumpaan gagasan dalam peringatan Hari Puisi Nasional 2026. Melalui Workshop Menulis Puisi yang digelar di Lantai 4 Gedung Ali Sadikin (28/4), sejumlah tokoh literasi nasional membedah pergeseran paradigma kepenyairan di hadapan ratusan peserta, termasuk delegasi dari SMA Keluarga Widuri yang hadir membawa semangat regenerasi sastra.
Forum ini menjadi ruang krusial bagi para narasumber untuk menegaskan kembali bahwa puisi bukan sekadar barisan kata, melainkan sebuah tanggung jawab intelektual dan estetika.
Sastrawan Kurniawan Effendi membuka cakrawala peserta dengan kritik tajam terhadap fenomena puisi yang hanya bersifat instruktif. Ia menegaskan bahwa puisi harus menjadi "penyelaras zaman" yang bersumber dari dialektika antara ilmu pengetahuan, alam, dan kemanusiaan.
"Jangan hanya mereproduksi nasihat yang sudah ada sejak dahulu. Puisi itu indah karena sifat puitisnya," tegas Kurniawan. Ia memberikan analogi bahwa pesan sesederhana "jangan buang sampah sembarangan" akan kehilangan nyawa seninya jika hanya disampaikan secara harafiah tanpa transformasi puitis. Bagi delegasi SMA Keluarga Widuri, poin ini menjadi refleksi penting dalam memandang proses kreatif yang lebih dalam dan kontemplatif.
Selain aspek estetika, workshop ini menyentuh sisi sosiologis sastra. Mustafa Ismail, Redaktur dan Wartawan Tempo, membedah mekanisme "dapur" redaksi media mayor. Ia memaparkan bagaimana sebuah karya dikurasi di balik layar, memberikan perspektif nyata kepada para siswa mengenai standar profesionalisme yang dibutuhkan untuk menembus ruang publik.
Di sisi lain, Dedy Tri Riyadi bersama penulis Rintis Mulya menyoroti pentingnya adaptabilitas penyair di era digital. Dedy menekankan bahwa di masa kini, karya sastra membutuhkan ekosistem kolaboratif agar tetap relevan. Pemanfaatan platform seperti Bookstagram disebut sebagai salah satu langkah strategis agar puisi tetap memiliki daya jangkau yang luas tanpa harus mengorbankan kualitasnya.
Kehadiran SMA Keluarga Widuri yang diwakili oleh Abdul Akbar, Enggar Rahayu, Keisya Alifia Ramadhani, Muhammad Raffa Humai, dan Syarla Anandita, menunjukkan respons aktif institusi pendidikan terhadap perkembangan sastra terkini. Di bawah pendampingan Bapak Alfiansyah Bayu Wardhana, para siswa tidak hanya memposisikan diri sebagai pendengar, tetapi juga sebagai penelaah gagasan yang dipaparkan para narasumber.
Partisipasi aktif dalam forum yang dihadiri peserta hingga dari luar Pulau Jawa ini membuktikan bahwa diskursus sastra masih memiliki daya tawar tinggi. Pertemuan antara visi kurasi Mustafa Ismail, estetika Kurniawan Effendi, dan strategi kolaborasi Dedy Tri Riyadi diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi standar literasi yang diusung oleh SMA Keluarga Widuri ke depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
