Tekanan Emosional dan Kemiskinan Ekstrem di Balik Kematian Bocah SD di Ngada
Hukum | 2026-02-16 17:43:21Tragedi YBR: Potret Rapuhnya Perlindungan Anak dalam Kemiskinan Ekstrem
Kisah pilu nan tragis menimpa YBR (10), seorang anak di bawah umur yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Sejak usia belum genap dua tahun, ia dititipkan untuk diasuh oleh neneknya. Sang ibu, yang bekerja sebagai petani, tinggal bersama empat saudara YBR di desa lain, sementara ayah kandungnya merantau ke Kalimantan sejak YBR masih dalam kandungan.
Kasus ini mengungkap persoalan mendalam mengenai kondisi kemiskinan ekstrem serta kerapuhan sistem pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan anak. Faktor-faktor tersebut menciptakan beban psikologis yang berat, sehingga anak merasa kesepian dan menganggap dirinya hanyalah beban bagi orang tuanya.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh yang terletak di kebun neneknya. Ia meninggalkan secarik surat berjudul "Tii Mama Reti" (Surat untuk Mama Reti) yang berisi pesan perpisahan memilukan kepada sang ibu. Pada kertas tersebut, terdapat gambar seorang anak laki-laki dengan air mata dan tulisan dalam bahasa daerah yang jika diterjemahkan berarti:
"Mama Galo Zee (Mama pelit sekali). Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama, baik sudah. Kalau saya meninggal, Mama jangan menangis). Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama, saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya, ya). Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)."
Analisis Kasus: Tinjauan Hukum dan Realitas Sosial
Hakikatnya, kasus ini bukan merupakan suatu tindak pidana yang mendasari kematian bocah SD di Ngada tersebut. Pihak kepolisian menyatakan tidak ditemukan unsur pidana dalam peristiwa gantung diri yang menimpa korban. Pihak kepolisian juga menjelaskan bahwa mereka telah mengumpulkan keterangan dari 11 orang saksi, meliputi dokter yang melakukan pemeriksaan visum serta guru-guru di sekolah tempat korban menimba ilmu.
Lebih lanjut, pihak kepolisian menegaskan bahwa korban tidak mengalami perundungan (bullying) di sekolah. Hasil visum pun tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Namun, kematian bocah tersebut meninggalkan banyak catatan mendalam yang tidak tersampaikan secara langsung, baik bagi pihak keluarga maupun pemerintah. Salah satunya tertuju pada kondisi keluarga yang mengalami kemiskinan ekstrem, di mana ibu korban memiliki utang sebesar Rp8.000.000 yang harus dilunasi. Selain itu, korban tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP) sejak kelas IV, meskipun proses pencairan dana tersebut sempat tertunda akibat kendala data kependudukan sang ibu yang masih tercatat di Kabupaten Nagekeo.
Kegagalan Kolektif: Refleksi Atas Tragedi di Ngada
Kesan lainnya mengungkap bahwa kakek dan nenek yang tinggal bersama korban sebenarnya tercatat sebagai penerima bantuan sosial reguler dari Kementerian Sosial. Namun, bantuan tersebut diketahui sempat terputus dan tidak diterima langsung oleh ibu korban.
Banyak pihak mungkin akan menyalahkan kurangnya perhatian orang tua atau kerentanan emosional anak sebagai pemicu aksi bunuh diri tersebut. Namun, sebagai masyarakat dan bangsa, kita tidak boleh lepas tangan. Kematian tragis di Ngada ini menyingkap tabir kemiskinan ekstrem yang masih mengakar; sebuah realitas di mana kebutuhan dasar seperti alat tulis masih menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Kasus ini merupakan tamparan keras bagi negara dan elite politik di tanah air. Kemiskinan tidak hanya membuat anak-anak menderita secara fisik karena lapar dan gizi buruk, tetapi juga membunuh mental mereka secara perlahan. Ketika seorang anak yang masih belia terpaksa menanggung beban psikologis orang dewasa akibat keterbatasan ekonomi, hal itu membuktikan bahwa sistem perlindungan anak kita telah gagal menjaga mereka.
Dalam kasus anak SD di NTT ini, rasa kecewa karena tidak dibelikan alat tulis kemungkinan hanyalah pemicu (trigger) yang menjadi puncak dari akumulasi rasa minder, tekanan sosial, serta perasaan bahwa dirinya adalah beban bagi orang tua. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan di daerah terpencil sering kali memiliki resiliensi yang rendah terhadap tekanan emosional karena minimnya akses terhadap pendampingan psikososial.
Ketika pemicu kecil bertemu dengan rasa putus asa yang telah terakumulasi, tragedi menjadi tak terhindarkan. Saat kita abai dan membiarkan seorang anak bertarung sendirian menghadapi tekanan kemiskinan, maut bisa datang tanpa terduga. Kematian anak di Ngada adalah peringatan keras atas kebebalan dan kurangnya empati negara serta masyarakat terhadap keselamatan anak-anak miskin di sekitar kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
