Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faris Dedi Setiawan

Belajar Kedaulatan Pangan dari Nabi Yusuf dan AI: Strategi 'Dua Kaki'

Teknologi | 2026-02-15 18:59:57
Faris Dedi Setiawan, Pakar Data Science, Google Cloud Innovator, dan Pendiri Whitecyber Data Science Lab yang Berbasis di Ambarawa. Juga Aktif Meneliti Tentang AI Orchestration dan Etika Siber.

Pernahkah Anda membayangkan bahwa solusi atas ancaman krisis pangan global saat ini ternyata sudah tertulis ribuan tahun lalu dalam kisah Nabi Yusuf AS? Di era di mana teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendominasi percakapan, kita sering lupa bahwa esensi dari teknologi adalah manajemen risiko dan keberlanjutan hidup.

Saat ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Namun, bagi kami di Whitecyber, tantangan global ini justru menjadi momentum untuk melahirkan strategi adaptasi yang kami sebut sebagai "Strategi Dua Kaki". Strategi ini memadukan kecanggihan algoritma AI dengan kemandirian fisik di atas tanah sendiri.

Nabi Yusuf: Sang Pelopor Analisis Prediktif

Jika kita bedah secara teknis, Nabi Yusuf adalah seorang "Data Scientist" pertama di masanya. Melalui tafsir mimpi raja, beliau melakukan apa yang sekarang kita sebut sebagai Predictive Analytics. Beliau memprediksi adanya siklus data: 7 tahun surplus yang diikuti 7 tahun defisit ekstrem.

Nabi Yusuf tidak hanya berhenti pada prediksi. Beliau melakukan optimasi rantai pasok (supply chain) dengan teknik penyimpanan gandum yang sangat maju pada waktu itu—membiarkan gandum tetap pada tangkainya agar tahan lama. Inilah esensi dari teknologi pangan yang sebenarnya: memprediksi masa depan dan menyiapkan infrastruktur fisik untuk menghadapinya.

Hubungan antara Teknologi Pangan Nabi Yusuf AS dengan Artificial Intelligence (AI) terletak pada konsep Prediksi, Manajemen Data, dan Optimasi Sumber Daya.

Jika kita bedah secara mendalam, apa yang dilakukan Nabi Yusuf ribuan tahun lalu adalah bentuk manual dari apa yang sekarang dikerjakan oleh sistem cerdas AI dalam skala raksasa. Berikut adalah poin-poin hubungannya:

1. Predictive Analytics (Analisis Prediktif)

 

  • Nabi Yusuf: Beliau menerima "data" melalui mimpi raja tentang 7 sapi gemuk dan 7 sapi kurus. Beliau memproses data tersebut menjadi sebuah prediksi masa depan yang akurat: akan ada 7 tahun masa subur yang diikuti 7 tahun kekeringan hebat.
  • AI: Saat ini, AI menggunakan Big Data (data cuaca, kelembapan tanah, dan tren pasar) untuk melakukan hal yang sama. AI bisa memprediksi kapan terjadi kemarau panjang atau gagal panen sehingga petani bisa mengambil keputusan sebelum bencana terjadi.

2. Manajemen Stok dan Logistik (Supply Chain Management)

 

  • Nabi Yusuf: Beliau memerintahkan agar hasil panen di 7 tahun pertama tidak dikonsumsi semua, melainkan disimpan dengan cara tertentu (tetap pada tangkainya) agar tidak cepat busuk. Ini adalah teknik optimasi penyimpanan.
  • AI: Dalam teknologi pangan modern, AI mengatur logistik agar stok pangan di gudang tidak menumpuk hingga busuk dan memastikan distribusi pangan ke daerah yang membutuhkan dilakukan secara efisien. AI bertindak sebagai "manajer gudang" otomatis.

3. Solusi atas Kelangkaan (Resource Allocation)

 

  • Nabi Yusuf: Beliau mengelola pembagian gandum secara ketat dan adil selama masa paceklik, sehingga rakyat Mesir dan wilayah sekitarnya tetap bisa makan.
  • AI: AI digunakan untuk memitigasi krisis pangan global dengan menghitung kebutuhan nutrisi penduduk dan mengalokasikan sumber daya pangan secara presisi agar tidak terjadi pemborosan (food waste).

AI dan Whitecyber: Modernisasi Manajemen Krisis

Di Whitecyber, kami mengadopsi semangat tersebut ke dalam dunia digital. Melalui pengolahan Big Data dan sensor cerdas, AI kini mampu memprediksi gagal panen, perubahan cuaca ekstrem, hingga pola distribusi pangan yang tidak efisien.

Namun, kecanggihan AI ini akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan "kaki" kedua: ketahanan fisik. Itulah sebabnya, operasional riset Whitecyber justru kami pusatkan di Ambarawa, di lereng gunung, bukan di pusat kota yang padat. Kami ingin memastikan bahwa teknologi yang kami kembangkan memiliki akar yang kuat pada kebutuhan dasar manusia.

Mengapa Harus Strategi Dua Kaki?

Dunia digital sangatlah rapuh (fragile). Guncangan pada sistem internet atau krisis energi global bisa melumpuhkan segalanya dalam sekejap. Oleh karena itu, setiap individu dan pelaku usaha di era AI harus memiliki dua pegangan:

 

  1. Kaki Digital (High-Tech): Menunggangi AI untuk efisiensi, riset, dan mempercepat pengambilan keputusan seperti yang dilakukan tim Whitecyber.
  2. Kaki Fisik (High-Touch): Kembali ke tanah. Berkebun, menanam sumber pangan sendiri, dan memiliki keterampilan survival. Ini adalah "asuransi" terbaik ketika sistem dunia sedang mengalami reset.

Kesimpulan

Belajar dari Nabi Yusuf, kedaulatan pangan bukan hanya soal ketersediaan makanan, tapi soal kecerdasan dalam mengelola informasi dan sumber daya. AI adalah alat untuk mempermudah hidup, tetapi tanah adalah tempat kita menggantungkan nyawa.

Melalui Whitecyber, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya mahir berselancar di awan digital, tapi juga mahir merawat akar di bumi. Sebab, inovasi sejati adalah inovasi yang memastikan bahwa apa pun yang terjadi pada dunia, kita tetap mampu berdiri tegak dan memberi manfaat bagi sesama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image