Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Akhmad Farhan

Dampak AI Terhadap Penurunan Kecerdasan Mahasiswa

Teknologi | 2026-02-15 19:09:36

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kini telah menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Banyak pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen yang sudah memanfaatkan AI untuk membantu berbagai tugas, mulai dari mencari informasi hingga menyusun laporan atau materi pembelajaran karena kecepatan dan kemudahannya dalam menyelesaikan pekerjaan. AI telah mengubah cara kerja di dunia pendidikan secara signifikan, mendorong proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan memungkinkan pengajar serta pelajar fokus pada aspek kreatif dan analitis.

Namun di balik manfaatnya, penggunaan AI juga membawa dampak negatif yang perlu diperhatikan. Penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology atau MIT yang berjudul “Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task” menunjukkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat berdampak pada fungsi otak dan kemampuan memori. Studi ini memantau aktivitas otak menggunakan alat Electroencephalograms (EEGs), analisa linguistik dan interview pasca tugas. Peneliti membagi 54 mahasiswa ke dalam tiga kelompok dan menilai mereka selama empat bulan. Kelompok pertama menggunakan ChatGPT untuk mengerjakan tugas penulisan essay. Kelompok kedua hanya menggunakan search engine tradisional seperti Google tanpa menggunakan AI. Kelompok ketiga menulis essay hanya menggunakan memori dan akal semata.

Hasil penelitiannya menunjukkan pengguna AI memiliki daya ingat yang lebih rendah. Sebagian besar pengguna ChatGPT kesulitan mengutip secara akurat dari esai mereka sendiri, tidak seperti mereka yang hanya menggunakan otak mereka atau pencarian tradisional. Rasa kepemilikan atas karya tulis menurun dengan penggunaan AI. Pengguna AI memiliki rasa kepemilikan atas karya tulis yang lebih beragam, dengan beberapa peserta mengklaim kepemilikan penuh dan yang lain menyangkalnya. Kepuasan terhadap esai mereka beragam untuk kelompok AI dan secara konsisten lebih tinggi untuk kelompok mesin pencari.

Kelompok yang terlalu mengandalkan AI menunjukkan penurunan aktivitas neural dan kesulitan mengingat atau mengutip kembali tulisan yang dihasilkan oleh AI dibandingkan mereka yang menulis sendiri tanpa bantuan alat tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa sementara AI dapat mempercepat proses kerja, hal itu juga dapat mengurangi keterlibatan kognitif dan pembentukan memori secara aktif.

Penggunaan AI yang tidak bijak dalam jangka panjang dapat berdampak pada penurunan kemampuan berpikir kritis, lemahnya daya ingat, dan berkurangnya keterampilan pemecahan masalah. Padahal kompetensi tersebut penting dalam pendidikan dan dunia kerja. Ketika otak terlalu sering “santai” dan tugas-tugas kompleks diserahkan sepenuhnya kepada mesin, ada risiko kemampuan kognitif alami manusia menjadi kurang terlatih, terutama pada generasi yang masih dalam masa perkembangan.

Oleh karena itu, AI harus digunakan secara bijak agar dapat menjadi alat bantu bukan pengganti kemampuan berpikir itu sendiri. Pengguna sebaiknya tetap aktif mempelajari konsep dan berlatih menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI. Mereka harus memahami hasil yang diberikan oleh AI dan jangan sekadar mengandalkan hasil langsung tanpa refleksi.

Langkah bijak yang harus dilakukan adalah mengevaluasi dan mengkritisi jawaban yang diberikan AI, menggabungkan penggunaan AI dengan upaya belajar mandiri, membatasi ketergantungan AI untuk tugas-tugas mendasar, serta terus mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Dengan begitu, AI dapat menjadi mitra yang memperkuat potensi manusia, bukan sesuatu yang justru mengurangi kecerdasan dan kemampuan kita sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image