Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ayu Nababan

Risiko Pinjaman Online bagi Generasi Muda

Pendidikan | 2026-02-14 21:37:18

Benarkah pinjaman online lebih banyak digunakan oleh generasi muda? Mengapa? Dan apakah risiko yang akan terjadi jika menggunakannya?
Di dunia yang semakin berkembang dengan era digital yang serba cepat, pinjaman online yang singkat menjadi "pinjol" adalah sesuatu yang sedang booming (populer dan dikenal) di kalangan banyak orang. Pinjaman online merupakan proses pinjam meminjam yang dilakukan secara online (daring). Karena pinjaman online adalah sesuatu yang bersifat "online", maka dalam prosesnya harus menggunakan internet. Pinjaman online termasuk ke dalam platform bisnis, karena sebuah pinjaman bisnis yang dijalankan melalui teknologi dan beroperasi melalui platform digital (tempat di mana sesuatu dibangun dan dijalankan).

Adalah hal yang semakin populer di kalangan banyak orang, termasuk generasi muda dengan penggunaan pinjaman online paling banyak. Beberapa data yang dapat membuktikan bahwa generasi muda adalah pengguna pinjol paling banyak di antaranya ada:Data OJK: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa 60% pinjaman online disalurkan kepada generasi muda berusia 19-34 tahun (Gen Y dan gen Z).Survei Inventure 2024 menunjukkan bahwa 34% Gen Z pernah mengakses pinjaman online dalam enam bulan terakhir pada September 2024.Laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA): pinjaman online berasal dari usia 19-34 tahun, yang merupakan generasi muda.Berita dari VOA Indonesia pun menyebutkan bahwa laporan mereka menunjukkan sebagian besar nasabah pinjol adalah generasi muda, terutama dari kelompok usia 19 sampai 34 tahun.

Mengapa generasi muda lebih bermanfaat? Di luar faktor ekonomi, hal yang dapat memicu penggunaan pinjol ini adalah rasa penasaran. Benar bukan? Generasi muda memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi. Hal ini menjadi pemicu untuk melakukan suatu hal yang banyak dilakukan orang, tetapi dia/mereka belum mencoba, ditambah ajakan oleh orang-orang di sekitarnya, dengan memperkenalkan pinjaman online, yang dapat mempengaruhi generasi muda sehingga memiliki keinginan untuk tidak ketinggalan dengan apa yang sedang viral. Dengan hal ini, seseorang yang tadinya tidak tertarik, menjadi tertarik untuk mencobanya.

Selain itu, hal ini didorong oleh gaya hidup generasi muda yang cukup konsumtif (keinginan seseorang dalam memakai uangnya untuk membeli sesuatu secara berlebihan, tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau kemampuan finansial). Dengan kata lain lebih bertujuan untuk memuaskan keinginan dari pada memenuhi kebutuhan, di mana beberapa pengguna berpikir bahwa dengan pinjaman online, keinginan pengguna dapat terpenuhi dengan cepat tanpa harus menabung. Hal ini pun bisa terjadi karena kurang nya literasi keuangan. Data dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian dan universitas menunjukkan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang kurang mengenai konsep keuangan dasar, seperti pengelolaan utang, investasi, dan risiko.

Kemudahan dan kecepatan akses dalam mendapatkan dana juga menjadi daya tarik utama, terutama bagi mereka yang membutuhkan dana cepat untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan mereka tanpa adanya jaminan pasti. Bagi banyak generasi muda tampaknya menggunakan pinjaman online adalah hal yang mudah dan cukup memuaskan saat mendapatkannya. Namun, kemudahan dan kepuasan yang dirasakan saat mendapatkan pinjaman online ini berakhir pada risiko finansial yang serius jika tidak dikelola dengan bijak.

Setelah memahami apa itu pinjol dan faktor-faktor penyebab kegunaannya, penting untuk menyadari bahwa pinjol juga memiliki berbagai risiko. Mari kita mulai dengan risiko finansial yang paling umum terjadi antara lain:
Suku bunga yang tinggi Suku bunga pinjaman online (pinjol) adalah persentase bunga yang dikenakan kepada peminjam. Bunga ini merupakan ketidakseimbangan bagi pemberi pinjaman, sehingga total pengembalian pinjaman akan lebih besar dari jumlah pinjaman awal. Suku bunga pinjol sangat bervariasi, dan umumnya jauh lebih tinggi daripada pinjaman konvensional (pinjaman yang ditawarkan oleh lembaga keuangan formal seperti bank). Bahkan suku bunga pinjol bisa mencapai ratusan persen pertahun.

Umumnya, kecanduan pinjol ini memiliki potensi untuk membuat pengguna berulang kali menggunakannya. Dengan kata lain, jika dalam percobaan pertama pengguna puas dengan hasilnya, maka kenikmatan yang dirasakan oleh pengguna tersebut akan muncul berulang kali dan akhirnya, hutangnya menumpuk.

Keterlambatan membayar utang dapat memicu kemiskinan dengan meningkatnya suku bunga, kurangnya usaha, seperti tidak mencari pekerjaan sampingan atau berhemat yang memperparah situasi. Akibatnya, mereka kesulitan membayar utang dan terpaksa menghabiskan sebagian besar harta keuangan mereka, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Selain risiko finansial, pinjol juga dapat menimbulkan risiko sosial yang serius. Masalah hutang pinjol dapat memicu kerenggangan hubungan generasi muda dengan orang-orang di sekitarnya. Banyak generasi muda yang terpaksa berhutang pada teman, keluarga bahkan kepada orang lain yang tidak begitu saling mengenal untuk membayar masalah pinjol. Akibatnya, orang yang meminjami uang merasa tidak nyaman karena khawatir pinjamannya tidak dapat dikembalikan, dan hubungan mereka menjadi renggang. Terlebih lagi, masalah utang ini bisa memicu konflik yang lebih besar, tidak hanya antara peminjaman dan pemberi pinjaman, tetapi juga dengan pihak-pihak lain.
Ada juga risiko psikologis dari penggunaan pinjol yaitu:

Stres : Ketika seseorang mengalami kesulitan keuangan yang serius, mereka bisa merasa sangat khawatir, malu, dan cemas, keadaan psikologis, baik mental maupun emosionalnya akan terganggu. Pikiran tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup dan membayar utang pun dapat memicu stres yang berat.

Bunuh diri : Meskipun tidak sepenuhnya karena pinjol, dengan kata lain merupakan masalah kompleks yang bisa terjadi karena kombinasi masalah ekonomi dan psikologis yang mendalam. Seseorang yang merasa tidak ada jalan keluar dan tidak mampu lagi bertahan bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Apakah risikonya bisa seberbahaya itu? Ya. Namun, meskipun banyak risiko yang mungkin terjadi, penting untuk diingat bahwa bunuh diri bukanlah solusi praktis untuk menyelesaikan masalah. Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri!
Setelah mengetahui hal-hal di atas, penting bagi kita untuk mengatur keuangan dengan baik, serta meningkatkan literasi keuangan.

Berikut beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mengelola keuangan dengan bijak: membuat catatan pengeluaran keuangan, membandingkan suku bunga pinjaman, dan hanya meminjam sesuai kebutuhan. Pinjol sebagai solusi instan, mari kita lebih berhati-hati dan bijak dalam mengelola keuangan agar terhindar dari jeratan utang yang dapat menghancurkan masa depan kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image