Menyucikan Diri dalam Tradisi: Mengapa Padusan Selalu Dinanti Jelang Ramadhan?
Guru Menulis | 2026-02-18 15:31:51
Padusan bukan sekadar ritual membasahi tubuh dengan air, melainkan sebuah simfoni spiritual yang menandai kesiapan batin umat Muslim, khususnya di Jawa, dalam menyambut bulan suci Ramadan. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Jawa adus yang berarti mandi. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar membersihkan fisik; ia adalah simbol dari niat tulus untuk melunturkan noda-noda kesalahan masa lalu sebelum melangkah ke gerbang bulan penuh ampunan.
Di berbagai daerah, Padusan menjadi momen kolektif yang mempererat tali silaturahmi. Masyarakat berbondong-bondong mengunjungi sumber mata air alami (umbul), sungai, atau tempat pemandian keramat yang diyakini memiliki nilai historis dan kesucian. Suasana riuh rendah namun khidmat ini menciptakan energi positif, di mana setiap tetesan air yang jatuh seolah membawa pergi beban pikiran dan kotoran hati, menyisakan jiwa yang lebih ringan dan siap untuk fokus beribadah.
Secara filosofis, tradisi ini merupakan bentuk introspeksi diri. Mandi sebelum Ramadan mengajarkan kita bahwa kesucian lahiriah adalah cerminan dari kesucian batiniah. Dengan membersihkan diri secara total, seseorang diharapkan mampu menjaga lisan, pikiran, dan perbuatannya selama berpuasa. Ini adalah momen transisi, sebuah garis pembatas yang tegas antara keseharian yang penuh khilaf menuju fase peningkatan kualitas iman yang lebih intens selama tiga puluh hari ke depan.
Meski zaman telah berganti dan modernisasi menyentuh berbagai lini kehidupan, esensi Padusan tetap tak tergoyahkan. Banyak keluarga kini memilih melakukan ritual ini secara lebih privat di rumah dengan air bunga, namun semangatnya tetap sama: penyucian. Pergeseran tempat tidak mengurangi sakralitasnya, karena yang terpenting bukanlah di mana air itu mengalir, melainkan sejauh mana hati kita benar-benar "basah" oleh niat untuk memperbaiki diri dan memohon rida Sang Pencipta.
Menyambut Ramadan dengan tubuh yang segar dan jiwa yang bersih memberikan dorongan psikologis yang luar biasa. Padusan adalah pengingat bahwa untuk menerima berkah yang baru, kita harus berani melepas yang lama dan kotor. Begitu ritual berakhir, ada rasa syukur yang mengalir, seiring dengan kesiapan kita untuk menyambut seruan azan Magrib pertama di bulan Ramadan dengan senyuman dan hati yang lapang.(umi)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
