Komunikasi Bisnis di Era Digital: Mengapa Etika Lebih Penting Dari Sekedar Viral?
Bisnis | 2026-02-12 10:49:44
Oleh: Salma Almasyah Sofyanti Putri_Mahasiswa Institut SEBI.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, termasuk dalam dunia bisnis. Media sosial dan berbagai aplikasi digital kini menjadi sarana utama dalam menyampaikan pesan bisnis kepada publik. Informasi dapat tersebar luas hanya dalam hitungan detik, bahkan sebuah konten mampu menjadi viral dalam waktu singkat.
Fenomena viral sering kali dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan komunikasi bisnis. Banyak pelaku usaha berlomba-lomba menciptakan konten sensasional demi menarik perhatian. Namun, di balik kecepatan dan kemudahan tersebut, muncul persoalan penting yang kerap diabaikan, yaitu etika komunikasi bisnis. Tidak sedikit konten yang viral justru menimbulkan kontroversi, kesalahpahaman, bahkan merusak kepercayaan publik. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah viralitas lebih penting daripada etika dalam komunikasi bisnis di era digital?
Etika sebagai Fondasi Utama Komunikasi Bisnis Digital
Etika komunikasi bisnis sejatinya jauh lebih penting daripada sekadar mengejar viralitas. Komunikasi bisnis bukan hanya tentang seberapa cepat pesan tersebar, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut dipahami, dipercaya, dan diterima dengan baik oleh audiens. Etika menjadi landasan agar komunikasi berjalan secara jujur, bertanggung jawab, dan tidak merugikan pihak lain.
Di era digital, setiap pesan yang disampaikan akan meninggalkan jejak dan dapat diakses kapan saja. Oleh karena itu, etika berfungsi sebagai pengendali agar pelaku bisnis tidak menyampaikan informasi secara sembarangan. Dengan menjadikan etika sebagai fondasi utama, komunikasi bisnis akan lebih terarah, profesional, dan berorientasi pada hubungan jangka panjang, bukan sekadar popularitas sesaat.
Dampak Negatif Komunikasi Bisnis yang Mengabaikan Etika
Dalam praktiknya, komunikasi bisnis yang tidak beretika dapat menimbulkan dampak serius. Misalnya, penggunaan bahasa yang berlebihan, informasi yang dilebih-lebihkan, atau klaim produk yang tidak sesuai fakta demi menarik perhatian konsumen. Strategi semacam ini memang dapat mendatangkan perhatian dalam waktu singkat. Namun, ketika konsumen merasa tertipu, kepercayaan akan hilang dan citra bisnis pun rusak dalam jangka panjang.
Selain merugikan konsumen, komunikasi bisnis yang tidak etis juga berpotensi memicu konflik dan kritik publik. Di media sosial, kesalahan kecil dalam penyampaian pesan dapat dengan mudah menjadi sorotan dan memancing reaksi negatif. Hal ini menunjukkan bahwa mengabaikan etika dalam komunikasi bisnis justru dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.
Peran Etika dalam Membangun Kepercayaan dan Reputasi
Sebaliknya, komunikasi bisnis yang beretika mampu membangun hubungan yang berkelanjutan. Penyampaian informasi yang jujur, sopan, dan transparan akan membuat konsumen merasa dihargai. Kepercayaan inilah yang menjadi aset utama dalam dunia bisnis.
Di era digital, jejak komunikasi sangat mudah dilacak dan diingat publik. Sekali sebuah bisnis dikenal tidak etis, maka akan sulit memulihkan reputasinya. Namun, ketika sebuah bisnis konsisten menerapkan etika dalam komunikasinya, reputasi positif akan terbentuk secara perlahan tetapi kuat. Konsumen cenderung merekomendasikan bisnis yang mereka percaya kepada orang lain. Dengan demikian, etika tidak hanya berdampak pada citra, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap keberlangsungan dan pertumbuhan usaha.
Viralitas sebagai Strategi Jangka Pendek
Memang ada pandangan bahwa viralitas adalah kunci utama keberhasilan pemasaran di era digital. Konten yang ramai dibicarakan dinilai mampu meningkatkan penjualan secara cepat. Namun, viral tanpa etika ibarat api yang menyala sesaat lalu padam, tanpa memberikan dampak jangka panjang bagi keberlangsungan bisnis.
Konten yang viral karena sensasi atau kontroversi sering kali tidak meninggalkan kesan positif yang bertahan lama. Bahkan, tidak jarang viralitas justru membawa citra negatif yang sulit dihilangkan dan berdampak buruk bagi bisnis itu sendiri.
Etika sebagai Kunci Keberlanjutan Bisnis
Sebaliknya, komunikasi bisnis yang berlandaskan etika mungkin tidak selalu menghasilkan konten viral, tetapi mampu menciptakan loyalitas konsumen. Hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan kejujuran akan membuat bisnis bertahan lebih lama dan dihargai oleh masyarakat luas.
Dalam jangka panjang, keberlanjutan bisnis sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi yang dijalankan. Etika menjadi kunci agar bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara sehat. Dengan mengutamakan etika, komunikasi bisnis di era digital dapat menjadi sarana membangun nilai, bukan sekadar alat untuk mencari perhatian.
Komunikasi bisnis di era digital memang menuntut kecepatan, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi. Namun, semua itu tidak seharusnya mengesampingkan etika. Viralitas bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu dampak dari komunikasi yang efektif dan bertanggung jawab. Tujuan utama komunikasi bisnis adalah membangun kepercayaan, menjaga hubungan baik, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Ditegaskan kembali bahwa etika komunikasi harus menjadi prioritas utama dalam setiap pesan bisnis yang disampaikan. Dengan mengedepankan kejujuran, tanggung jawab, dan profesionalisme, bisnis tidak hanya akan dikenal, tetapi juga dihormati. Di tengah derasnya arus informasi digital, etika adalah kompas yang menjaga komunikasi bisnis tetap berada pada jalur yang benar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
