Mengapa Praktik Keberlanjutan Sulit Tumbuh pada Industri Kecil dan Mengengah?
Bisnis | 2026-02-11 12:29:56
Banyak yang sepakat bahwa masa depan industri ada pada praktik yang berkelanjutan. Produksi harus lebih ramah lingkungan, hemat energi, dan bertanggung jawab secara sosial. Namun, ketika wacana ini dibawa ke level industri kecil dan menengah (IKM), realitasnya sering kali jauh dari ideal. Bukan karena pelaku IKM tidak peduli, melainkan karena mereka terjebak pada dua persoalan mendasar: rantai pasok yang ruwet dan komitmen pimpinan yang belum sepenuhnya bulat.
Rantai Pasok yang Ruwet: Antara Bertahan dan Berbenah
Rantai pasok IKM di Indonesia sering kali menyerupai labirin. Bahan baku datang dari pemasok yang berpindah-pindah, kualitas tidak selalu seragam, dan harga mudah bergejolak. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika IKM lebih sibuk memikirkan “besok produksi jalan atau tidak” ketimbang mempertimbangkan apakah bahan baku yang digunakan ramah lingkungan atau aman bagi pekerja.
Masalahnya, rantai pasok yang rumit ini bukan sekadar soal logistik. Ia menjadi penghambat serius bagi praktik keberlanjutan. Ketika pasokan tidak pasti, pilihan IKM pun terbatas. Prinsip keberlanjutan kalah oleh kebutuhan bertahan hidup. Akhirnya, keputusan yang diambil sering bersifat reaktif dan jangka pendek—asal produksi jalan, urusan lingkungan bisa belakangan.
Komitmen Pimpinan: Titik Kritis Perubahan
Ironisnya, situasi ini kerap diperparah oleh sikap pimpinan IKM sendiri. Tidak sedikit pimpinan yang masih menganggap keberlanjutan sebagai “proyek mahal” atau “urusan perusahaan besar”. Padahal, justru di tangan pimpinanlah arah perubahan ditentukan. Tanpa komitmen yang jelas dari atas, keberlanjutan hanya akan berhenti sebagai jargon seminar dan laporan penelitian.
Dalam banyak kasus, pimpinan IKM masih terjebak pada pola pikir lama: produksi sebanyak mungkin dengan biaya serendah mungkin. Efisiensi dipahami secara sempit, hanya soal menekan biaya langsung, bukan mengelola proses secara lebih cerdas dan berkelanjutan. Akibatnya, investasi pada perbaikan rantai pasok, efisiensi energi, atau pengelolaan limbah dianggap tidak mendesak.
Risiko Jangka Panjang yang Terabaikan
Sikap setengah hati terhadap keberlanjutan menyimpan bahaya jangka panjang. IKM yang mengabaikan aspek ini berisiko kehilangan akses pasar, terutama ketika konsumen dan mitra usaha mulai menuntut produk yang lebih bertanggung jawab. Lebih dari itu, biaya lingkungan dan sosial yang diabaikan hari ini akan muncul sebagai masalah besar di kemudian hari—mulai dari limbah yang mencemari lingkungan hingga menurunnya kesehatan dan produktivitas pekerja.
Lemahnya komitmen pimpinan juga membuat rantai pasok semakin tidak terkendali. Tanpa visi yang jelas, IKM enggan membangun kemitraan jangka panjang dengan pemasok. Hubungan bisnis bersifat transaksional semata: siapa yang paling murah, itu yang dipilih. Pola ini mungkin menguntungkan sesaat, tetapi merugikan dalam jangka panjang karena menghilangkan stabilitas dan kepercayaan dalam rantai pasok.
Mengubah Arah: Keberlanjutan sebagai Strategi Bertahan
Apakah IKM harus menyerah pada kondisi ini? Tentu tidak.
Langkah pertama yang perlu disadari adalah bahwa keberlanjutan bukan musuh IKM, melainkan alat bertahan. Rantai pasok yang lebih sederhana dan terkelola dengan baik justru dapat menurunkan risiko produksi dan biaya tersembunyi. Pimpinan IKM perlu mulai memandang pemasok sebagai mitra strategis, bukan sekadar penjual bahan baku.
Langkah kedua adalah perubahan pola pikir pimpinan. Keberlanjutan tidak selalu berarti investasi besar. Banyak praktik sederhana yang bisa dilakukan: memilih pemasok yang lebih konsisten, mengurangi pemborosan bahan, atau memperbaiki tata kelola produksi. Semua itu membutuhkan satu hal utama: komitmen dan keteladanan dari pimpinan.
Peran Negara: Jangan Biarkan IKM Berjuang Sendiri
Negara tidak boleh lepas tangan. Pemerintah perlu hadir bukan hanya lewat regulasi, tetapi juga pendampingan nyata dan insentif yang tepat sasaran. IKM tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tuntutan keberlanjutan yang semakin kompleks.
Jika rantai pasok tetap dibiarkan kusut dan pimpinan terus bersikap setengah hati, maka keberlanjutan akan tetap menjadi wacana kosong bagi IKM. Sudah saatnya keberlanjutan dipahami sebagai kebutuhan mendesak, bukan pilihan tambahan. Sebab, tanpa perubahan hari ini, IKM bisa jadi masih bertahan esok hari, tetapi perlahan kehilangan masa depannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
