Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hary Fandeli

Jangan Biarkan IKM Sendirian Menghadapi Tantangan Manufaktur Berkelanjutan

Bisnis | 2026-02-04 11:32:17

Oleh: Hary Fandeli (Dosen Fakultas Teknik Universitas Andalas)

Wacana manufaktur berkelanjutan sering kali mendarat di telinga pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai beban tambahan, bukan peluang. Di tengah perjuangan menjaga arus kas tetap positif, tuntutan untuk menjadi "ramah lingkungan" terdengar seperti kemewahan yang jauh di awang-awang. Namun, jika kita membedah anatomi hambatan yang ada, masalah sebenarnya bukan terletak pada ketidaksiapan teknologi, melainkan pada macetnya dukungan dari hulu ke hilir.

Transformasi industri hijau di level IKM tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif sporadis dari pemilik usaha. Dibutuhkan sebuah "efek pengungkit" yang mampu menggerakkan seluruh sistem secara serentak. Jika kita hanya menyasar perbaikan teknis di lantai produksi tanpa menyentuh akar masalahnya, maka perubahan tersebut akan berjalan sangat lambat, atau bahkan berhenti di tengah jalan.

Ilustrasi Tantangan Manufaktur Berkelanjutan di IKM

Pemerintah sebagai Penentu Arah

Langkah nyata pertama yang harus dilakukan adalah memposisikan pemerintah bukan sekadar sebagai regulator, melainkan sebagai mesin penggerak utama. Di lapangan, hambatan terbesar yang mengunci gerak IKM adalah ketiadaan ekosistem kebijakan yang suportif.

Pemerintah perlu menghadirkan "karpet merah" bagi IKM yang berani memulai transisi hijau. Ini bisa diwujudkan melalui pemberian insentif pajak khusus, kemudahan akses sertifikasi lingkungan yang selama ini berbiaya mahal, hingga prioritas pengadaan barang pemerintah bagi produk-produk IKM yang terbukti menerapkan proses berkelanjutan. Tanpa intervensi kebijakan yang proaktif, IKM akan terus merasa bahwa menjadi "hijau" adalah sebuah kerugian finansial.

Revolusi Mental di Meja Direksi

Langkah kedua berkaitan dengan apa yang terjadi di dalam ruang rapat IKM. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hambatan manajerial memiliki dampak paling luas. Transformasi berkelanjutan bukan sekadar urusan mengganti lampu pabrik atau mengolah limbah; ini adalah soal perubahan visi bisnis.

Para pemilik dan manajer IKM perlu diberikan pendampingan untuk melihat bahwa efisiensi energi dan pengurangan limbah secara otomatis akan menurunkan biaya operasional dalam jangka panjang. Pelibatan aktif pimpinan dalam perencanaan strategis sangat krusial. Jika pimpinan sudah memiliki komitmen yang kuat, maka alokasi sumber daya dan perubahan budaya kerja di tingkat karyawan akan jauh lebih mudah dilakukan. Di sini, asosiasi industri dan perguruan tinggi bisa mengambil peran sebagai mentor pendamping, bukan sekadar pemberi teori.

Pendanaan Kolaboratif: Memecah Kebuntuan Modal

Langkah nyata ketiga adalah solusi finansial yang membumi. Seringkali, IKM sudah memiliki kemauan dan rencana, namun kandas saat melihat angka investasi di depan mata. Memaksa IKM membiayai transisi hijau dari kantong sendiri adalah langkah yang kurang realistis.

Perlu dikembangkan skema pendanaan kolaboratif. Misalnya, melalui model supply chain financing, di mana perusahaan besar yang menjadi mitra (buyer) memberikan bantuan teknis atau jaminan pinjaman bagi pemasok IKM-nya untuk mengadopsi praktik berkelanjutan. Selain itu, lembaga keuangan perlu menciptakan produk kredit hijau khusus IKM dengan bunga rendah dan syarat yang tidak mencekik.

Fokus pada "Leverage Effect"

Strategi implementasi ini harus dilakukan secara bertahap namun simultan. Kita harus fokus pada hambatan-hambatan yang bersifat fundamental karena di sanalah letak daya ungkitnya. Memperbaiki kebijakan pemerintah dan memperkuat komitmen manajerial akan secara otomatis melunakkan hambatan teknis dan operasional di lapangan.

Perbedaan IKM kita dengan negara maju adalah soal kesiapan fondasi. Di sana, transisi hijau adalah soal adopsi teknologi karena aturan dan pendanaannya sudah mapan. Di Indonesia, kita masih harus berjuang memastikan bahwa kebijakan yang dibuat benar-benar sampai ke tangan perajin di gang-gang sempit dan kawasan industri kecil.

Menjadikan IKM berkelanjutan adalah investasi untuk ketahanan ekonomi nasional. Jika kita berhasil membereskan hambatan di tingkat kebijakan dan manajerial, maka langkah-langkah teknis lainnya akan mengikuti secara organik. Inilah saatnya berhenti berteori dan mulai membangun ekosistem yang nyata bagi IKM kita untuk tumbuh, hijau, dan berdaya saing global.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image