Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Putri

Dari Gambir ke Sawit: Mengapa Gambir Kalah dari Sawit?

Lain-Lain | 2026-02-09 11:36:08

“Kalau harga tetap seperti ini, lebih baik kami tanam sawit saja.” Kalimat itu sederhana, tanpa nada protes, tetapi menyimpan kegelisahan Panjang para petani gambir. Gambir yang selama puluhan tahun hingga ratusan tahun menjadi sandaran hidup kini tak lagi memberi kepastian. Di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Lima Puluh Kota, kebun gambir pun pelan-pelan berubah wajah.

Gambir sejatinya bukan komoditas kecil. Tanaman ini telah lama menjadi bagian penting dari sistem pertanian rakyat di Sumatera Barat, khususnya di Lima Puluh Kota. Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra gambir nasional. Dari kebun-kebun rakyat di perbukitan, gambir diproduksi dan diperdagangkan hingga ke pasar ekspor seperti India, Jepang, Srilanka dan beberapa negara eropa lainnya. Gambir banyak digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, hingga penyamakan kulit. Bagi petani, gambir bukan sekadar tanaman, melainkan sumber penghidupan yang menopang pendidikan anak dan keberlanjutan rumah tangga.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, harga gambir cenderung merosot dan berfluktuasi tajam. Penurunan harga ini menjadi titik krusial yang mengubah cara pandang petani terhadap masa depan gambir. Proses produksi gambir yang masih tradisional, mulai dari perebusan daun, pengempaan, hingga pengeringan, menuntut tenaga besar dan waktu panjang. Ketika hasil akhirnya dihargai rendah, usaha gambir menjadi semakin tidak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan.

Persoalan gambir tidak berhenti pada soal harga semata. Masalahnya lebih dalam, yakni ketiadaan sistem pendukung yang kuat. Gambir sebagai komoditas rakyat berjalan nyaris sendirian. Inovasi teknologi pascapanen terbatas, riset untuk peningkatan mutu dan efisiensi produksi belum menyentuh petani secara luas, dan industri hilir berbasis gambir hampir tidak berkembang di daerah penghasil. Akibatnya, nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar wilayah produksi, sementara petani tetap berada pada posisi tawar yang lemah.

Dalam kondisi seperti itu, sawit hadir sebagai pembanding yang kontras. Sawit menawarkan kepastian yang tidak dimiliki gambir: pasar yang jelas, harga relatif lebih stabil, serta dukungan industri dan kebijakan yang kuat. Tidak mengherankan jika petani mulai menghitung ulang pilihan mereka. Beralih ke sawit bukan semata soal meninggalkan warisan pertanian, melainkan keputusan rasional untuk menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.

Ironisnya, gambir justru memiliki keunggulan ekologis. Tanaman ini relatif ramah lingkungan dan cocok ditanam di lahan berbukit, seperti yang banyak dijumpai di Lima Puluh Kota. Selain itu, gambir menyimpan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Ketika gambir ditinggalkan, yang hilang bukan hanya tanaman, tetapi juga kearifan dan identitas pertanian setempat. Lebih jauh, regenerasi petani gambir pun terancam. Anak muda melihat gambir sebagai usaha berat dengan masa depan yang tidak pasti.

Situasi ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Jika gambir terus kalah dari sawit, penyebabnya bukan semata kegagalan petani, melainkan absennya kebijakan yang berpihak pada komoditas lokal. Negara perlu hadir melalui penguatan riset, pengembangan teknologi pengolahan, serta mendorong industri hilir agar nilai tambah gambir dinikmati di daerah asal. Kampus memiliki peran strategis dalam riset terapan dan pendampingan, sementara pemerintah daerah dapat memperkuat kelembagaan petani melalui koperasi dan kemitraan yang adil.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan mengapa petani meninggalkan gambir, melainkan apakah kita masih memberi ruang bagi gambir untuk bertahan. Tanpa perbaikan sistem dan kebijakan yang serius, harga gambir yang terus merosot akan terus mendorong peralihan ke sawit. Menyelamatkan gambir berarti menjaga keberagaman pertanian, keberlanjutan lingkungan, dan masa depan petani itu sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image