Pertanian Kita Tua, Anaknya Masih Muda?
Lain-Lain | 2026-02-09 10:51:30Indonesia sedang berada pada fase bonus demografi, sebuah kondisi ketika penduduk usia produktif mendominasi struktur kependudukan nasional. Badan Pusat Statistik mencatat, lebih dari dua pertiga penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif. Namun, di balik peluang besar tersebut, sektor pertanian justru menghadapi persoalan serius: regenerasi petani yang berjalan lambat. Rata-rata usia petani Indonesia kini telah melampaui 50 tahun, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian terus menurun. Pada saat yang sama, ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan strategis masih tinggi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Siapa yang akan mengelola pertanian Indonesia di masa depan?
Sebagai negara agraris, pertanian seharusnya menjadi tulang punggung kemandirian bangsa. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa sektor ini semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Pertanian kerap dipersepsikan sebagai sektor dengan pendapatan rendah, risiko tinggi, dan masa depan yang tidak pasti. Di tengah derasnya arus urbanisasi dan berkembangnya sektor industri serta jasa, pertanian sering kali diposisikan sebagai pilihan terakhir
Sering kali, anak muda dicap tidak tertarik pada pertanian karena dianggap malas, tidak tahan bekerja di lapangan, atau lebih tergiur bekerja di sektor lain. Namun, dari pengalaman saya sebagai dosen pertanian yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa dan petani muda di berbagai daerah, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak anak muda sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap pertanian, tetapi mereka ragu pada masa depannya. Pertanian masih dipersepsikan sebagai sektor dengan pendapatan tidak menentu, akses lahan terbatas, dan minim jaminan sosial.
Di lapangan, banyak mahasiswa pertanian yang secara akademik sangat potensial, memahami teknologi budidaya modern, bahkan mampu mengembangkan inovasi sederhana. Namun, ketika ditanya apakah mereka ingin menjadi petani setelah lulus?, sebagian besar menjawab ragu atau bahkan menolak. Bukan karena mereka membenci pertanian, melainkan karena sistem yang ada belum memberi kepastian hidup yang layak. Banyak dari mereka akhirnya memilih bekerja di sektor non-pertanian, meski ilmu yang dipelajari bertahun-tahun seharusnya bisa memperkuat sektor pangan nasional.
Persoalan regenerasi petani sejatinya bukan semata-mata soal minat generasi muda, melainkan masalah struktural. Pertanian masih dipandang sebagai aktivitas subsisten, bukan sebagai sektor ekonomi modern yang menjanjikan. Padahal, pertanian hari ini tidak lagi identik dengan cangkul dan lumpur semata. Pertanian modern menuntut penguasaan teknologi, manajemen, analisis data, dan inovasi berkelanjutan. Smart farming, pertanian presisi, bioteknologi, hingga agripreneurship membuka ruang besar bagi kreativitas generasi muda. Namun, transformasi ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan dan ekosistem pertanian nasional.
Lebih dari itu, narasi tentang pertanian juga perlu diubah. Anak muda tidak cukup diajak dengan romantisme desa atau jargon “kembali ke alam”. Mereka membutuhkan bukti bahwa pertanian mampu memberi masa depan yang layak, bermartabat, dan relevan dengan zaman. Ketika pertanian diperlakukan sebagai ruang inovasi dan kewirausahaan, bukan sekadar rutinitas subsisten, maka regenerasi petani bukan hal yang mustahil.
Pertanian Indonesia memang semakin tua, tetapi anak-anaknya masih muda. Tantangannya terletak pada keberanian kita untuk membenahi sistem yang selama ini membuat generasi muda menjauh. Bonus demografi akan menjadi peluang besar jika mampu diiringi dengan kebijakan yang mendorong regenerasi petani secara nyata. Sebaliknya, tanpa langkah serius, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban, sementara krisis pangan semakin mendekat.
Kini saatnya pertanian diperlakukan sebagai investasi masa depan bangsa. Regenerasi petani bukan sekadar isu sektoral, melainkan bagian dari upaya menjaga kedaulatan pangan dan keberlanjutan Indonesia. Masa depan pertanian ada di tangan generasi muda—dan tanggung jawab kitalah memastikan mereka memiliki alasan kuat untuk tetap tinggal dan membangun sektor ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
