Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wani Maler

Thaipusam Bukan Festival Ekstrem: Ini Maknanya

Agama | 2026-02-06 15:39:53
Ritual Tusuk Lidah dan Angkat Pot SusuDokumentasi Wani Maler, 2026
Seseorang yang mengangkat Kavadi sebagai salah satu bentuk nazarDokumentasi Wani Maler, 2026
Prosesi pelepasan pot susu kecil yang dikaitkan dengan kail pancing pada tubuh. Dokumentasi Wani Maler, 2026

Banyak orang mengenal Thaipusam sebagai perayaan Hindu Tamil yang " Ekstrem". Visualnya memang kuat: Kavadi yang menjulang, prosesi panjang, musik yang menggema dan pada sebagian peresta ada ritual tusuk tubuk menggunaka vel (tombak kecil). Hal ini yang kemudian membuat Thaipusam sering viral namun tidak selalu dipahami makna sebenarnya. Thaipusam bukan tontonan, bukan atraksi melainkan bahasa iman, disiplin diri dan ingatan diaspora yang dirawat dari generasi ke generasi.

Di Indonesia, perayaan Thaipusam terutama dikenal di wilayah dengan komunitas Tamil yang kuat seperti di Medan (Maler, 2023). Di kawasan Selat Malaka, perayaan ini sangat besar di Malaysia, khususnya di Penang dan Batu Caves (Kuala Lumpur). Ini bukan kebetulan, Diaspora Tamil Sumatra Timur tumbuh seiring sejarah migrasi dan pembentukan lanskap perkebunan sejak masa kolonial (Maler, 2018). Karena itu, Thaipusam bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga ruang sosial tempat identitas diaspora dipertahankan.

Secara sederhana, Thaipusam adalah perayaan keagamann Hindu Tamil yang dipersembahkan kepada Dewa Murugan (Kartikeya/Subramaniam)/ Inti Thaipusam adalah nazar, pertobatan, dan ungkapan syukur. Karena mengikuti kalender Tamil, Thaipusam jatuh pada bulan "Thai" (Sekitar Januari-Februari) dan tanggalnya berubah setiap tahun dalam kalender Masehi.

Bagian yang paling sering menjadi sorotan adalah ritual tubuhnya, terutama tusuk tubuh dan angkat kavadi. Dua praktik ini kerap menimbulkan reaksi berlebihan dari orang luar: antara kagum berlebihan atau menghakimi. Padahal bagi peserta, ritual ini adalah bentuk devosi yang sangat serius.

Ritual tusuk tubuh dilakukan oleh sebagian peserta melalui penusukan simbolik yang pada bagian tubuh tertentu seperti pipi, lidah, dada atau punggung. Terkhusus perempuan biasanya hanya menusuk bagian pipi dan lidah. Alat yang digunakan biasanya vel atau pengait kecil yang memiliki ujung tajam berbentuk seperti kail pancing. Dari sudut pandang orang luar tindakan ini terlihat seperti menyakiti diri. Tetapi dalam logika Thaipusam, makna utamanya bukan rasa sakit, melainkan janji. Banyak peserta melakukan ritual tusuk tubuh karena mereka pernah berikrar: jika doa atau permohonan tertentu dikabulkan maka mereka akan menunaikan nazar ketika perayaan Thaipusam. Nazar tersebut bida terkait kesembuhan, keselamatan, keberhasilan atau pembebasan dari masalah berat. Ketika terkabul, mereka tidak berhenti pada ucapan syukur namun menjalankan tanggung jawab spiritual.

Tusuk tubuh juga dapat dipahami sebagai askese yaitu disiplin tubuh untuk melatih pengendalian diri. Dalam tradisi ritual, tubuh bukan sekadar biologis, melainkan ruang pendidikan moral. Sebelum ritual, peserta diwajibkan puasa vegan, berpantang, tidak boleh berhubungan suami-istri jika peserta sudah menikah. Perilaku ini dilakukan bukan untuk memuliakan penderitaan melainkan untuk membentuk kesabaran, mengendalikan hawa nafsu dan membentuk keteguhan. pada titik ini tubuh menjadi media pelatihan spiritual.

Selain itu tusuk pipi dan tusuk lidah sering dimaknai sebagai simbol penyucian diri, sekaligus upaya membatasi hasrat dan ucapan. Mulut yang "dibungkam" menandai kontrol terhadap kata-kata, menjauh dari kebohongan, ujaran kotor dan amarah. Ritual bekerja bukan hanya pada tubuh tetapi pada etika.

Dalam prosesi tertentu, sebagian peserta juga memasuki trance atau ekstase religius. Trance dalam konteks ini bukan sekadar fenomena psikologis, melainkan keadaan ritual yang dipahami komunitas sebagai kedekatan spiritual dengan yang ilahi. Karena berada dalam kerangka mental ritual yang kuat, rasa sakit sering dilaporkan minim. Itu sebabnya Thaipusam tidak bisa dibaca semata-mata lewat kacamata medis atau sensasi, melainkan harus dipahami sebagai pengalaman spiritual.

Jika tubuh bersifat personal, maka kavadi bersifat visual sekaligus sosial. Kavadi di pahami sebagai "beban" yang dipikul atau ditanggung sebagai persembahan kepada murugan. Ada bentuk kavadi yang sederhana, seperti paal kavadi atau paal kudam: membawa pot susu di kepala atau tangan untuk di persembahkan di kuil. Ini banyak dilakukan oleh keluarga atau anak-anak. Ada pula kavadi besar berupa rangka tinggi berhias bulu merak, kain, bunga dan ornamen murugan yang dipikul selama prosesi. Pada sebagian komunitas, kavadi bahkan bisa ditautkan pada tubuh menggunakan pengait kecil, menegaskan bahwa komitmen spiritual tidak sekadar dibawa, tetapi dilekatkan pada diri.

Angkat kavadi bukan sekadar aktifitas fisik melainkan metafora moral tentang kehidupan. Kavadi adalah pengakuan bahwa manusia memang memikul beban: kesalahan, krisis, penyakit dan hutang moral. Beban itu tidak disembunyikan, melainkan dibawa ke ruang publik sebagai bentuk kesadaran dan ketundukan. Kavadi juga menjadi simbol transformasi dari orang yang memohon menjadi orang yang menunaikan dari krisis menuju pemulihan. Karena dilakukan bersama ribuan orang Thaipusam menumbuhkan solidaritas sosial yang kuat, memperkuat identitas diaspora Tamil dan menghidupkan jaringan bantuan komunitas.

Mengapa Thaipusam sering disalahpahami? Karena ia dilihat melalui kacamata modern yang menganggap tubuh sepenuhnya wilayah pribadi dan rasa sakit harus selalu dihindari. Padahal dalam kebudayaan ritual, tubuh dapat menjadi teks sosial, medium religius dan alat pendidikan moral. Kesalahan terbesar adalah menganggap Thaipusam sebagai kekerasan terhadap tubuh, padahal bagi pelaku ini adalah bentuk pendisiplinan tubuh untuk tujuan spiritual.

Di era media sosial, radisi mudah menjadi viral tetapi tidak selalu dipahami maknanya. Thaipusam mengingatkan bahwa ritual bukan tontonan. Ia adalah arsip hidup yang memelihara iman dan identitas diaspora. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, memahami Thaipusam bukan soal menjadi penganutnya melainkan soal menghormati cara komunitas lain memaknai hidup, janji dan Tuhan.

Maler, S. W. (2018). Jejak sosial dan ekonomi bangsa tamil india di sumatera utara. JURNAL AGHNIYA, 1(1), 1-13.

Maler, W., & Mudzakkir, M. (2023) The Dynamics of Tamil-Indian Community in Pre-Independence Indonesia: The Case of Deli Hindu Sabba in Medan. Religi: Jurnal Studi Agama-agama, 19(1), 67-78.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image